Oleh: Wandy*
Masyarakat kelas menengah adalah kelompok sosial dengan tingkat pendapatan, pendidikan, dan gaya hidup berada di antara kelas bawah dan atas, serta mampu memenuhi kebutuhan dasar dan sekunder secara cukup. Masyarakat kelas menengah merupakan kelompok yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, sebagai kontributor pajak, serta penguatan demokrasi.
Berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pascapandemi Covid-19, jumlah kelas menengah di Indonesia memang mengalami penurunan, dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi sekitar 47,85–48,27 juta jiwa pada 2023–2024. Pada 2025 bahkan diperkirakan sekitar 10 juta jiwa masyarakat kelas menengah mengalami penurunan. Kondisi ini cukup mengejutkan banyak pihak karena selama 20 tahun terakhir, kelas menengah merupakan motor pertumbuhan konsumsi nasional. Situasi penurunan ini tidak hanya disebabkan oleh pandemi, tetapi juga kombinasi berbagai tekanan ekonomi dan struktural yang membuat sebagian masyarakat turun kelas menjadi kelompok rentan miskin.
Kelas menengah sangat rentan terhadap berbagai ketidakpastian ekonomi, seperti kenaikan biaya hidup dengan fluktuasi yang sulit diprediksi. Kelompok ini ditekan dari dua arah, yakni biaya hidup yang semakin tinggi dan pendapatan yang stagnan atau bahkan menurun.
Ada faktor-faktor yang menjadi penyebab rentannya kelompok masyarakat kelas menengah. Pertama, menurunnya daya beli masyarakat. Dahulu masyarakat kelas menengah selalu mampu bertahan menghadapi situasi ekonomi karena daya beli yang stabil. Kebutuhan sehari-hari masih terjangkau, upah riil pekerja relevan dengan biaya hidup, dan situasi kota besar masih memungkinkan hiburan menjadi kegiatan rekreasi di akhir pekan. Namun saat ini, meskipun di atas kertas inflasi tampak terkendali, jumlah masyarakat kelas menengah justru terus mengalami penurunan setiap tahun. Belum lagi stagnasi upah pekerja yang cukup parah, sementara biaya hidup, khususnya di perkotaan, terus meningkat.
Kedua, pekerjaan formal yang semakin sedikit. Masyarakat kelas menengah seharusnya tumbuh kuat apabila aktivitas ekonomi menyediakan lapangan kerja formal dengan gaji tetap dan stabil. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sistem dan struktur tenaga kerja di Indonesia mengalami perubahan. Digitalisasi dan efisiensi membuat banyak posisi yang sebelumnya diisi kelompok kelas menengah menghilang. Yang muncul justru pekerjaan informal dan gig economy seperti jasa kurir, ojek online, atau pekerja lepas. Meskipun sifatnya fleksibel, pendapatan pekerjaan ini cenderung tidak tetap dan tidak memiliki jaminan pensiun. Kini semakin banyak pekerja kantoran yang hidup dari penghasilan fluktuatif sehingga berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga.
Ketiga, biaya hidup yang melewati batas pendapatan. Di luar kebutuhan makanan, biaya sekolah, cicilan rumah, dan kebutuhan lain seperti telepon genggam serta internet membuat pengeluaran masyarakat kelas menengah meningkat tidak terkendali. Banyak pula yang bergantung pada utang konsumtif seperti cicilan kendaraan, pinjaman bank, cicilan barang rumah tangga, hingga paylater. Kelas menengah yang semula hidup “aman” kini berubah menjadi kelas menengah yang terengah-engah.
Keempat, ekspektasi sosial dan gaya hidup yang tinggi. Hal yang memprihatinkan dewasa ini adalah banyak masyarakat kelas menengah terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan social pressure. Keinginan untuk tampil mapan di depan kamera dan media sosial membuat pengeluaran membengkak, mulai dari gadget terbaru hingga gaya hidup di kafe. Ekspektasi keluarga untuk naik kelas secara sosial seringkali mendorong keputusan finansial yang tidak masuk akal, seperti membeli rumah dengan kredit puluhan tahun, menyekolahkan anak di sekolah bergengsi, atau berutang demi menjaga gengsi sosial.
Perekonomian Indonesia memang sedang tidak berada pada kondisi yang ideal. Nyatanya masih banyak kelompok ekonomi yang kesulitan mencapai kehidupan yang stabil. Tidak jarang mereka terancam turun kelas menjadi kelompok miskin. Situasi kelas menengah semakin keruh akibat dinamika ekonomi seperti kenaikan PPN dan PHK massal.
Kini kita perlu mewaspadai gejolak ekonomi yang semakin tidak menentu agar masyarakat kelas menengah, yang merupakan ujung tombak struktur sosial dan perekonomian negara, dapat berhati-hati. Ini bukan hanya soal statistik, tetapi ultimatum bagi stabilitas ekonomi nasional. Kelas menengah adalah mesin konsumsi, sumber pajak, dan pondasi sosial negara. Apabila tren penurunan kelas menengah terus berlanjut, dampaknya akan terasa secara global di berbagai sektor seperti ritel, daring, pendidikan, hingga properti.
Berbicara solusi tidak hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga strategi peningkatan produktivitas, upah yang layak, perlindungan sosial, serta kebijakan fiskal yang merata. Jika tidak ditata dengan baik, masyarakat kelas menengah dapat menjadi kelompok yang rapuh: hidup pas-pasan di tengah inflasi, terbebani utang dan ketimpangan, berharap naik kelas tetapi justru terjun bebas. Padahal, merekalah yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depan bangsa.**
*Penulis adalah Ketua Bakorwil PENA Provinsi Kalimantan Barat.
Editor : Hanif