Oleh: Mohamad Rif’at
Kebijakan menteri tentang deep learning mungkin maksudnya adalah bahwa penyajian gagasan pengetahuan harus disesuaikan dengan perkembangan psikologis peserta didik. Deep Learning sesungguhnya adalah kemampuan yang harus dipahami sebagai suatu sistem pemrosesan informasi, bukan sekedar merupakan suatu sistem hubungan verbal. Sistem tersebut dibangun dengan tujuan akhir agar dapat menjelaskan temuan eksperimental mengenai penyelesaian masalah dalam lingkup psikologi dan pendidikan. Sebagai contoh, walaupun telah diajarkan tentang pengetahuan secara verbal, pembelajar cepat menjadi lupa. Pembelajar justru ingat dengan kesan-kesan dari suatu gagasan dalam ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, peristiwa ‘Bencana Sumatera’ akan lebih berkesan ketika video yang merekam peristiwa diperlihatkan secara menyeluruh sehingga peserta didik akan selalu ingat peristiwa tersebut.
Kelemahannya adalah, untuk memberikan pemahaman menyeluruh seringkali sulit dibuat bahkan tidak selalu dapat ditemukan, atau tidak mudah didapat kesan non-verbal. Kadang-kadang ada ide pengetahuan non-verbal digunakan secara kurang tepat. Kalau pun tepat, masih diperlukan kemampuan pandang yang benar agar masalah dapat dipahami dan diselesaikan.
Dunia pendidikan memahami benar bahwa manusia memiliki kecenderungan terhadap pilihan berpikir. Namun, pengalaman dapat membangkitkan kegiatan berpikir dan membantu menyederhanakan sajian gagasan yang ada ketika informasi berkaitan lebih erat dengan suatu ide. Bahkan, pengetahuan seringkali kurang jelas, karena bukan merupakan hubungan antara pengalaman dengan pengertian. Dalam rangka pembelajaran dan kepentingan psikologis dalam belajar, masalah belajar (Deep Learning) patut diselesaikan bersandar pada kemampuan dalam pengetahuan secara menyeluruh.
Sebagai contoh, pola perlu ditanggapi sebagai ciri fungsi persepsi, yakni teramatinya perubahan secara kontekstual. Sementara, persepsi seseorang mengenai pola didominasi oleh kecenderungan mengungkapkan ciri non-verbal, seperti banjir, tanah longsor, jembatan dan rumah/gedung roboh /hancur, tanaman tumbang/tercerabut, layanan kesehatan terganggu, dan krisis makanan serta minuman. Hal ini akan ‘menjebak’ kita berpikir irrasional.
Proses dan pemikiran dipengaruhi oleh konteks antar-gagasan dalam rangka menemukan bentuk struktur asli pengetahuan. Sebagai contoh, hutan tidak sekedar dipandang sebagai pohon-pohon besar dan rapat, tetapi secara perseptual, tetapi harus juga dipandang sebagai keutuhan alam (ada komunitas dan tempat hidup hewan). Dengan demikian, pemikiran dan penyelesaian masalah tidak sekedar merupakan rangkuman dan kumpulan stimulus-respon yang berakumulasi, tetapi harus pula melibatkan masalah persepsi sebagai suatu keseluruhan yang fungsional. Pemahaman demikian dapat ditafsirkan sebagai pengenalan struktur masalah, yang berasal dari penyusunan kembali unsur-unsur masalah sehingga tampak dalam konteks baru. Dalam menyelesaikan masalah-masalah kompleks, persepsi hanya dapat berperan apabila komponen masalah dapat diamati menurut fungsinya, dan dengan mengkaji struktur masalah itu.
Bagaimana dengan ‘belajar’? Pembelajaran prosedural cenderung menghilangkan kemampuan manusia dalam melihat struktur yang utuh. Padahal, pemahaman akan struktur masalah merupakan pemikiran produktif. Sebagai contoh, setelah mengajarkan IPA, akan lebih sulit menentukan perubahan, konteks dan dampaknya dalam lingkungan hidup. Kesulitan atau kesalahan kita adalah dalam mengembangkan persepsi, seperti membuat suatu pola skenariotik tentang peristiwa banjir, karena kita tidak memahami kesamaan fungsional antara ide atau pemikiran tentang banjir. Hal ini dapat diartikan bahwa pemikiran perseptual juga mempunyai kaitan fungsional terhadap hubungan-hubungan yang diturunkan.
Dari hubungan yang didapat, orang dapat pula mentransformasikan masalah menjadi sederhana. Sebagai contoh, dari pengalaman membuka lahan, muncul masalah tentang banyak kehidupan yang turun kualitasnya. Misalnya, melihat masalah seperti pola bertumbuh dan terarah dan harus dipandang sebagai suatu masalah yang holistik, yakni berkaitan dengan informasi pengetahuan dan tingkat berpikir yang merupakan kebutuhan dalam belajar.
Dalam rangka pembelajaran, masih diperlukan aspek kebermaknaan dan penemuan, yakni strategi penyelesaian. Tentu saja keberadaan strategi berimplikasi dalam menetapkan sasaran suatu masalah. Belajar melalui kebermaknaan dan pengertian dapat dilakukan melalui berbuat, berpikir, dan pemrolehan persepsi. Kebermaknaan dalam belajar mempunyai dua ciri: Kebermaknaan non arbitrer, yang menunjukkan konsistensi antara berbagai informasi yang dimiliki. Dan, kebermaknaan substantif, yakni kemampuan menyatakan informasi dengan cara lain. Belajar bermakna meliputi: (1) penyajian informasi melalui penemuan dan (2) mengaitkan informasi pada struktur kognitif yang telah ada. Sebagai contoh, pembelajar yang sudah mempelajari IPA dapat memasukkan ‘Hutan” secara non arbitrer kedalam klasifikasi prinsip keseimbangan alam.
Ada tiga unsur utama dalam pengajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, yakni waktu, materi pembelajaran, dan metode pembelajaran yang digunakan. Setidaknya ada dua hal yang harus disadari dalam rangka pembelajaran: (1) keberadaan teori penalaran heterogeneous, dan (2) mempersiapkan kegiatan belajar berbasis pada persepsi. Teori penalaran heterogeneous menyatakan bahwa pikiran manusia tidak digolongkan oleh satu sistem sajian saja. Kalau selama ini, representasi abstrak paling menonjol dalam pembelajaran, maka kini sajian banyak visual lain tidak dapat lagi sekedar dijadikan sebagai alat bantu, tetapi sebagai alat bernalar. Oleh karena itu, tahapan pembelajaran itu adalah: (1) Motivating mind; (2) Acquiring information; (3) Searching out meaning; (4) Triggering memory; (5) Exhibiting knowledge; dan (6) Reflecting how to learn.
Keenam tahapan pembelajaran tersebut mengandalkan kesan manusia. Dalam rangka pembelajaran: (1) peristiwa belajar merupakan hubungan antara berbagai kemampuan berpikir serta berbagai keterkaitannya; (2) belajar merupakan pencarian atau penelitian akan hubungan-hubungan antar kemampuan bepikir; (3) belajar merupakan kegiatan memunculkan potensi pembelajar serta hirarki berpikir (genealogy); (4) belajar adalah memunculkan keberartian (sanity) atas apa yang dihasilkan melalui penyelesaian masalah; (5) belajar dapat meningkatkan kemampuan dan pengalaman; dan (6) belajar adalah meningkatkan kemampuan memiliki berbagai pilihan deduksi (exegesis).
Ciri belajar yang pertama berlandaskan pengertian bahwa masalah-masalah pengetahuan mungkin diselesaikan secara berbeda, dapat dimanipulasi, dan selalu dapat direvisi sesuai dengan kematangan berpikir pembelajar. Melalui ciri kedua, yakni pencarian dan penelitian, pembelajar didorong agar mengkonstruksi penyelesaian masalah melalui berbagai tingkat berpikir. Pada ciri pengembangan potensi dan genealogy, pembelajar dapat melakukan pengamatan mengenai keakuratan penyelesaian masalah yang dibuat.
Pengamatan ini dapat dilakukan melalui serangkaian pendekatan, sehingga penyelesaian tersebut menjadi saripati tentang apa dan bagaimana penyelesaian dibuat. Melalui sanity dan keberartian dapat diperoleh ketepatan pendekatan, konjektur, penyelesaian, dan hubungan-hubungannya. Sedangkan exegesis menunjukkan dimensi pilihan pembelajar dalam menyelesaikan masalah serta berbagai keraguan mereka karena perbedaan sajian atau tingkat berpikir.
Dalam menyelesaikan masalah diperlukan pemikiran secara eksklusif pada satu taraf perkembangan intelektual atau menggunakan strategi tertentu. Sebagai contoh, pengalaman belajar tertentu mampu menjembatani celah antara pengetahuan, skill, dan sikap, misalnya dari intuisi, pengertian, pengalaman, diagram, dan grafik dalam menyusun penyelesaian. Kepentingan intuisi mempunyai dua alasan dasar: (1) kebenaran pengetahuan tidak secara bebas merupakan semangat berpikir dan (2) kebenaran harus secara langsung ditangkap oleh mental. Intuisi memang penting dan tidak dapat diabaikan, tetapi, disarankan agar penggunaan intuisi diamati sebagai cara atau pendekatan belajar.
Dalam menyelesaikan masalah, faktor keyakinan juga perlu. Keyakinan muncul sebagai hasil pembagian mental dari rentetan masalah yang berhubungan. Hasil kegiatan mental itu merupakan gagasan yang terpadu dalam pengambilan keputusan. Tuntutan akan kepentingan formal muncul karena kekhawatiran mengenai ketidak-tepatan suatu susunan penyelesaian. Hal ini sebenarnya tidak perlu dirisaukan, karena intuisi atau ilustrasi yang tepat bergantung pada pengalaman berimajinasi. Karena itu, pengalaman belajar perlu ditingkatkan, dan imajinasi perlu terus dikembangkan. Kemampuan menemukan hubungan tersebut merupakan sisi psikologis yang membedakan logika dengan psikologi. Usul penulis adalah bahwa, ungkapan sederhana lebih dihargai, karena kesederhanaan merupakan unsur psikologi belajar. (*)
*Penulis adalah Dosen FKIP Untan.
Editor : Hanif