Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
KAPASITAS sebagai pemimpin berdampak membawa rakyat yang dipimpin pada pilihan, ke surga atau neraka? Kewajiban yang ditanggung oleh pemimpin ialah mengajak rakyat ke jalan kebenaran, lurus dan kejujuran. Bukan membelokkan jalan lurus, kebaikan, dan takwa. Lalu membuat jalan dosa dan permusuhan.
Tanggungjawab pemimpin membawa kesejahteraan rakyat di dunia dan di akhirat, kemakmuran lahir batin, kesehatan jasmani rohani. Sebab itu, memohon kepada Allah SWT supaya diutus pemimpin adil adalah doa qunut yang dipanjatkan setiap Subuh Jumat.
“Jangan Engkau jadikan musibah dalam agama kami. Dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai capaian tertinggi ilmu kami. Jangan Engkau utus kepada kami, pemimpin yang tidak menyayangi kami dan pemimpin yang tidak takut kepada-Mu."
Setiap individu harus memiliki prinsip hidup sebagai ciri orang dewasa. Kemerdekaan berpikir dan bertindak, tidak mengikuti arus kebanyakan manusia yang menghanyutkan. Kebanyakan manusia tidak bersyukur, sedikit sekali yang bersyukur. Terlebih jika mengikuti arus penguasa yang aniaya dan pengusaha yang rakus. Tiada lain kecuali berbuah kekecewaan, karena hati yang kufur selalu memandang rendah dan murah harga karunia dari Allah SWT.
Diri serakah akan terus mengeruk kekayaan tambang tanpa memerhatikan dampak lingkungan. Terus-menerus bekerja tanpa rasa syukur yang berakhir dengan kematian, "mati kemponan."
Betapa banyak manusia yang merugi ketika diadili pada sidang Mahkamah Rabbul Jalil (Allah SWT). Mereka yang taat kepada "bos" yang durhaka dan mendurhakai sang Pencipta (Alkhalik). Raja dunia yang rugi dan merugikan rakyat jelata. Ketika raja diminta pertolongan oleh rakyat. Raja tidak bisa memberi pertolongan. Bukankah hari ini, hari akhir. Setiap diri dituntut di hadapan Almalik (baca Al-Fatihah:4).
Penyesalan menaati, mengikuti, menuruti kehendak para pembesar, tuan-tuan mulia dan puan-puan terhormat yang jahat, berujung kesengsaraan di akhirat. Pikulan berat ditanggung oleh bahu sendiri, hukuman siksa dirasakan oleh tubuh sendiri. Ketika nalar kritis rakyat tumpul dihadapan raja pendosa, rakyat ibarat "sapi yang diperah susunya." Rakyat kehilangan harta, jiwa, tanah, hutan, keluarga. Udara tercemar dan langganan banjir saban tahun, dari hulu turun ke hilir, dari bukit turun ke lembah, dari gunung turun ke rumah penduduk. Di sinilah urgen edukasi rakyat yang berkelanjutan dalam forum formal, non formal dan in formal. Supaya rakyat memiliki daya saing dan daya seimbang dalam menyuarakan aspirasi secara legal, elegan, cerdas, damai dan berkonstitusi.
Di akhirat, semua sudah terlambat. Hari pembalasan bukan hari beramal. Penyesalan yang tak bisa lagi ditebus. Ibarat pepatah "Nasi sudah menjadi bubur, bubur tidak mungkin menjadi nasi." Mundur kena, maju kena. Bersabar atau tidak, neraka Jahannam sudah di depan mata! Hari ini, tidak berguna seluruh harta dan kekayaan, pangkat dan jabatan, ilmu dan pengetahuan, keluarga dan persahabatan, umur dan pengalaman. Semua sedang menunggu giliran untuk diadili. Tidak terkecuali raja atau rakyat, ilmuwan, bangsawan, hartawan, agamawan sampai "wong cilik."
Ingat, menaati tuan perkasa dan puan cantik dengan mendurhakai Tuhan, sangat berbahaya. Rasa bersalah di dunia itu terbit di suara hati, namun suara hati tersebut diabaikan. Abai dan lalai berakibat, "Hari ketika wajah mereka dibolak-balik dalam neraka. Mereka berkata: Aduh, sekira dahulu kami menaati Allah dan menaati Rasul. Lantas mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami. Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakan kepada mereka siksa dua kali lipat, dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar." (Al-Ahzab:66-68).
Berdasarkan pewartaan kitab suci, diantara sumber kedurhakaan rakyat kepada Rasul dan kedustaan terhadap ayat Allah bermula dari kesombongan penguasa negeri. Para penguasa negeri sengaja menutupi surya Allah untuk tidak mencahayai bumi. Zulkifli, Zakaria, Yahya, Isa, Muhammad, mereka semua adalah Rasulullah yang didustakan dan dihinakan.
Berdiri tuan dan puan negeri dihadapan kaum 'Ad, kaum Tsamud, kaum Madyan untuk menghujat dengan ujaran kebencian, fitnah, dan menghina para utusan Tuhan karena tidak memiliki kelebihan ekonomi, secara fisik lemah dan secara finansial tidak berdaya. Tidak memiliki aset dalam dan luar negeri. Kejahatan rekam jejak digital mereka diupload kitab suci.
"Dan berkatalah pemimpin jahat mereka: Kami tidak melihat kamu (Rasul), selain manusia biasa seperti kami. Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu lebih istimewa daripada kami. Orang-orang hina, kurang akal dan lebih rendah statusnya. Bahkan kami menganggap kamu (Rasul) adalah para pendusta belaka." (Al-A'raf:66).
Menguatkan ayat, surah Yasin (15-17) berkalam Tuhan. "Penduduk negeri (Antiok) berkata: Kamu semua (Rasul) adalah manusia biasa seperti kami. Tuhan yang maha pengasih tidak menurunkan apaapa kepadamu, kamu hanya pendusta. Para Rasul berkata: Tuhan kami yang maha mengetahui, sesungguhnya kami adalah utusan-Nya kepadamu. Dan tugas kami hanyalah menyampaikan (tauhid) dengan jelas."
Mayoritas tuan raja dan puan ratu dunia menolak para utusan karena penampilan mereka yang tidak bermerk, nama yang tidak populer, tidak menguntungkan secara ekonomi, malah rugi dengan sedekah. Petinggi negeri mau menaati Rasul bila telah mendatangkan mukjizat, bersyarat. Setelah didatangkan mukjizat, mereka tetap berpaling dari kebenaran. Hari ini, mukjizat itu adalah ayat-ayat Allah dalam kitab suci Alquran. Setelah dibacakan dan diajarkan firman, mereka mendustakan ayat demi ayat. Mereka berpaling dari tauhid, tetap berada di posisi semula yaitu syirik (mempersekutukan Allah). Kondisi mereka, tidak menambah surya petunjuk, kecuali semakin terlempar dari jalan lurus (wama yaziduhum illa nufura).
Akhirnya, siklus sejarah dunia akan berulang ketika para petinggi negeri dan penguasa ekonomi, oligarki yang mendustakan para utusan Tuhan, sang-Penyampai disetiap ruang dan waktu, dalam rangka menjalankan tugas profetik (kenabian) dan peran apostolik (kerasulan). Namun, kedua tugas tersebut dirintang oleh pemangku kekuasaan. Persis di masa ini, mereka yang menyeru kepada kebenaran, kejujuran, dianggap aneh. Wallahualam.**
Editor : Hanif