Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sensus Ekonomi 2026 menuju Transformasi Ekonomi Nasional

Hanif PP • Kamis, 18 Desember 2025 | 09:43 WIB
Soependi,S.Si, MA
Soependi,S.Si, MA

Oleh: Soependi, S.Si, MA*

DALAM perjalanan panjang pembangunan ekonomi Indonesia, data selalu menjadi fondasi utama yang menentukan arah langkah bangsa. Salah satu inisiatif strategis pemerintah dalam hal ini adalah pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), yang dirancang sebagai game-changer dalam pengumpulan, pengolahan, dan analisis data ekonomi nasional.

Berdasarkan hasil listing SE2016, terdapat sekitar 26,7 juta usaha dan perusahaan di Indonesia yang terbagi secara signifikan berdasarkan skala usaha dan lapangan usahanya. Sebagian besar dari jumlah tersebut adalah Usaha Mikro dan Kecil (UMK), yang menunjukkan peran penting UMK dalam perekonomian nasional. Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi lapangan usaha yang paling dominan dengan lebih dari 12,3 juta usaha, diikuti oleh bidang penyediaan akomodasi dan makanan minuman yang mencapai lebih dari 4,5 juta usaha. Sektor lain seperti industri pengolahan (4,4 Juta), pengangkutan pergudangan (1,3 juta), dan jasa lainnya (1,2 juta) menunjukkan angka yang cukup besar, menandai keberagaman usaha di seluruh lini sektor ekonomi Indonesia.

Data ini menggambarkan bahwa usaha mikro dan kecil merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sekaligus menegaskan pentingnya pengembangan dan dukungan terhadap berbagai bidang usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dari total 26,7 juta usaha/perusahaan yang tercatat di SE2016, sebagian besar adalah UMK (98,33 persen) (Hasil SE2016, BPS). Melihat kondisi tahun 2020 yang dipukul oleh pandemi COVID-19, data SE2016 ini menjadi gambaran awal bagaimana usaha mikro dan kecil tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia meskipun di tengah ketidakpastian global. Pelaksanaan SE2026 akan menjadi penting untuk melihat daya saing usaha nasional pasca pandemi.

Sensus ekonomi bukanlah sekadar kegiatan statistik rutin yang dilakukan setiap sepuluh tahun. Lebih dari itu, SE2026 menjadi momentum penting untuk melakukan refresh terhadap peta ekonomi Indonesia. Dengan metodologi yang lebih modern, inklusif, dan berbasis teknologi, sensus ini diharapkan mampu menyajikan data yang lebih lengkap, mutakhir, dan akurat. Hal ini tentu sangat krusial mengingat dinamika perekonomian tanah air semakin cepat, terutama dengan munculnya sektor ekonomi digital dan usaha mikro, kecil, serta menengah (UMKM).

Badan Pusat Statistik (BPS) mengambil langkah maju dengan menerapkan pendekatan multimoda yang menggabungkan dua metode utama: Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) dan Computer Assisted Web Interviewing (CAWI). Penggunaan teknologi dalam pengumpulan data bukan hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga meminimalisir human error dan meningkatkan validitas data. Data yang dihasilkan tidak hanya akan berguna untuk pemetaan sektor ekonomi yang ada saat ini tetapi juga dalam merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Dewasa ini, transformasi digital menjadi denyut nadi keberlanjutan ekonomi Indonesia. SE2026 diharapkan mampu menangkap gelombang perubahan ini melalui metode CAWI yang memungkinkan pelaku usaha mengisi kuesioner secara mandiri via website. Pendekatan ini sangat relevan dengan budaya digitalisasi di kalangan pelaku usaha, khususnya generasi muda yang makin aktif memanfaatkan platform digital untuk berbagai aktivitas bisnis.

Penting untuk dicatat bahwa data dari sensus ini tidak hanya berguna sebagai angka statistik, melainkan sebagai peta jalan pengembangan ekonomi digital dan sektor kreatif yang sedang berkembang pesat. Generasi muda, yang menjadi penggerak utama inovasi dan kreativitas, bisa lebih optimal dalam menampilkan potensi mereka apabila memiliki data yang mendalam dan komprehensif. Data tersebut akan memudahkan pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga futuristik agar sektor ekonomi kreatif dapat berkontribusi secara optimal terhadap perekonomian nasional. Dengan keberadaan SE2026, pemerintah memiliki peluang besar untuk mendapatkan gambaran real-time yang luas tentang kondisi usaha di seluruh pelosok negeri, dari industri tradisional hingga ekonomi digital yang berbasis inovasi.

Data dari sensus ini akan menjadi landasan utama dalam menyusun kebijakan pengembangan ekonomi kreatif, perluasan ekosistem digital, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Data lengkap mengenai karakteristik usaha, tingkat pemanfaatan teknologi, dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha akan membuka peluang inovasi dan kolaborasi baru antara pemerintah, swasta, dan komunitas usaha (Rosan P Roeslani, Menteri Investasi).

Selain itu, sensus ini juga akan memugar data tentang sektor UMKM dan perusahaan besar yang selama ini masih berlangsung secara terpisah. Dengan sistem terintegrasi berbasis KBLI terbaru dan sistem OSS (Online Single Submission), proses registrasi dan pengumpulan data akan lebih efisien, transparan, dan akuntabel.

Wilayah-wilayah tertinggal seperti Papua dan Nusa Tenggara masih memerlukan perhatian khusus. Data dari SE2026 akan membantu pemerintah memahami secara rinci kondisi ekonomi di berbagai wilayah, serta melacak data kemiskinan, keberadaan usaha, dan potensi sumber daya yang belum tergarap secara optimal. Dengan data yang lebih lengkap dan akurat, program-program seperti Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dan program pembangunan infrastruktur akan lebih terarah dan tepat sasaran. Pencegahan disparitas ekonomi antar wilayah dapat diupayakan melalui kebijakan berbasis data, sehingga pembangunan nasional benar-benar merata.

Meskipun prospek SE2026 sangat menjanjikan, pelaksanaannya tidak tanpa tantangan. Salah satunya adalah keberagaman tingkat literasi digital dan akses teknologi di berbagai daerah. Perlu strategi khusus dalam mengedukasi dan mendekatkan teknologi kepada pelaku usaha kecil dan masyarakat adat yang belum familiar dengan sistem digital. Selain itu, integrasi data dari berbagai sumber harus dilakukan secara cermat agar tidak terjadi duplikasi atau kekeliruan. Kerjasama lintas sektoral dan koordinasi yang kuat antar kementerian/Lembaga, seperti BPS, Kementerian Investasi, dan Kementerian Perekonomian, menjadi kunci keberhasilan sensus ini.

SE2026 bukan hanya sekadar kegiatan statistik tahunan. Lebih dari itu, hasil dari sensus ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis secara nasional. Misalnya, dalam pengembangan wilayah pusat ekonomi baru, penguatan ekosistem startup dan ekonomi digital, hingga penskalaan usaha mikro yang selama ini tersembunyi dari mata publik bisa terlihat.

Lebih jauh lagi, SE2026 juga membuka peluang bagi pengembangan riset, pengkajian, dan inovasi berbasis data untuk kemajuan sosial dan ekonomi. Stakeholder dari akademisi, komunitas usaha, hingga masyarakat umum dapat menggunakan data ini sebagai acuan pengambilan keputusan, perencanaan, maupun evaluasi kebijakan.

Sebagai warga negara yang ingin melihat Indonesia maju dan sejahtera, kita perlu menyambut positif keberhasilan dan keberlanjutan SE2026. Inisiatif ini adalah langkah berani yang menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperbaiki tata kelola data dan memperkuat fondasi pembangunan berkelanjutan. Pada akhirnya, kunci keberhasilan SE2026 terletak pada sinergi seluruh elemen bangsa. Mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat umum harus berperan aktif dalam memastikan data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan realitas di lapangan. Mari kita dukung dan sukseskan Sensus Ekonomi 2026, demi Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing di panggung global.**

 

*Penulis adalah Statistisi Ahli Madya, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Pusat.

Editor : Hanif
#daya saing ekonomi #usaha #nasional #Sensus Ekonomi 2026 #Pascapandemi #pemutakhiran data