Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pintu-pintu Keburukan

Hanif PP • Jumat, 19 Desember 2025 | 11:01 WIB
Solihin Hz
Solihin Hz

Oleh: Sholihin HZ*

MANUSIA dibekali oleh Sang Khalik dengan dua potensi, yaitu potensi kebaikan dan keburukan, serta fasilitas jasmani dan rohani, lahir dan batin. Tulisan ini diawali dengan sebuah konsepsi bahwa kecenderungan manusia adalah lebih mampu mengenali dan mengidentifikasi penyakit jasmani dibandingkan penyakit rohani. Di sinilah letak perbedaannya.

Penyakit jasmani lebih banyak diketahui oleh individu itu sendiri, meskipun orang lain tidak mengetahuinya dan cenderung untuk menutupinya. Berbeda dengan penyakit rohani, justru orang lain yang lebih mudah mengetahui adanya penyakit rohani dalam diri seseorang. Sifat-sifat buruk seperti kikir, sombong, dan malas adalah contoh penyakit rohani yang sering dinilai oleh orang lain.

Sombong merupakan salah satu sifat iblis la'natullah yang menyebabkan ia dikeluarkan dari surga Allah SWT. Kesombongan ini akan memunculkan karakter sulit menerima kebenaran dan meremehkan orang lain. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW, "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR Muslim).

Kesombongan yang paling besar dan paling berbahaya adalah kesombongan terhadap Allah SWT, yaitu dengan menolak kebenaran dan bersikap angkuh untuk tunduk kepada-Nya, baik dalam bentuk ketaatan maupun dalam mengesakan-Nya.

Ada pintu masuk setan agar dalam diri manusia terdapat kesombongan. Pertama, ilmu pengetahuan. Menjadi pintu masuk setan yang dahsyat untuk menjerumuskan manusia ke dalam sikap kesombongan. Iblis menyadari bahwa sifat inilah yang menyebabkan ia dikeluarkan oleh Allah dari surga-Nya. Oleh karenanya iblis menyesatkan manusia agar banyak pengikutnya dan ilmu pengetahuan menjadi pintu masuknya yang ampuh.

Dengan ilmu pengetahuan seseorang bisa menjadi merasa “super”. Dengan ilmu pengetahuan seseorang bisa merasa “ter”. “Semua kalau bukan karena intelektualku.” Dengan persepsi seperti ini,  yang akan muncul adalah menolak kebenaran yang bukan datang dari dirinya meskipun itu benar. Seakan-akan ia menganggap kebenaran harus selalu dari lisannya, dari penguasaan pengetahuannya. Ketika seseorang menganggap orang lain tidak benar, sementara dirinya selalu benar, maka virus kesombongan telah menyebar dalam rohaninya.

Kedua, amal ibadah. Aktivitas ibadah yang dilakukan menjadi sarana ampuh untuk menjerumuskan kita mengikuti langkah-langkah setan. Ditiupkan rasa kitalah paling kuat ibadahnya, dihembuskan rasa kitalah yang paling faham agama, dilontarkanlah rasa kitalah yang paling dermawan, paling sosial dan paling ‘alim.

Bahkan, tidak hanya saat kita akan melakukan sebuah kebaikan, saat ibadah kita lakukan pun. Iblis la’natullah mendatangi kita untuk mengacaukan salat kita, “Memang engkaulah yang paling khusyu’ salat di kantor ini.” Mari kita mohon doa kepada Allah SWT semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam beramal saleh, dan menjadikan kita hamba-Nya yang ikhlas.

Ketiga, harta kekayaan. Ini juga menjadi pintu masuk setan yang sering tidak disadari. Sombong dalam hal kekayaan berarti sombong dari segi materi. Wujud lain dari kesombongan materi adalah tidak mau bergaul dan berteman dengan orang yang status ekonominya di bawahnya. Bergaul hanya sebatas kalangan elit dan menganggap rendah pada orang di bawahnya.  Sejarah manusia membuktikan bagaimana Qarun dengan sombongnya yang ketika dimintakan untuk mengeluarkan infa dan sedekah, tetapi dengan congkaknya ia mengatakan bahwa kekayaannya adalah hasil jerih payahnya. Kerja keras membanting tulang, tetapi akhirnya Allah benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi (QS. al-Qashash/28:79-81).

Keempat, keturunan. Membanggakan nasab keturunan termasuk hal yang dilarang agama. Inilah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam Alquran yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa.” Jika tiket surga adalah keturunan, maka manusia yang berdarah biru, manusia dari kalangan bangsawan, dan keturunan para pembesarlah yang mendominasi surga. Tetapi, bukan itu tiket menuju surga melainkan ketakwaan. Bagaimana Bilal bin Rabah, seorang Habsyi yang hitam legam, kurus dan rambut keriting, pernah membuat Rasulullah terkejut dengan pernyataan Jibril saat Rasulullah mendengar ada bunyi terompah/sandal orang yang sedang berjalan di dalam surga. Rasulullah diberitahu bahwa langkah kaki yang sedang berjalan itu adalah langkah kaki Bilal bin Rabah, sementara saat itu Bilal bin Rabah masih hidup di dunia.

 

Hidup Bermegah-megahan

Tercukupinya materi, serba ada bahkan sampai keturunan berikutnya, profesi bergengsi dan sejenisnya adalah sifat manusia sebagai bagian untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengeksiskan keberadaan diri. Memiliki harta tidak dilarang dalam Islam.

Bahkan, muslim kaya sangat dianjurkan karena dengan kekayaan banyak yang bisa diperbuat. Tetapi, memiliki kekayaan dalam Islam ada aturan petunjuk teknisnya. Diantarany, perlu memahami bahwa harta kekayaan hakikatnya adalah sebatas hak guna pakai dan bukan hak milik. Pada harta yang ada, di dalamnya terdapat hak-hak fakir miskin, janda-janda miskin, panti asuhan dan pesantren yang perlu dibina dan sebagainya.

Para sahabat seperti Usman bin Affan menyumbang sepertiga hartanya untuk jihad di jalan Allah. Umar bin Khaththab menyumbang separuh hartanya. Bahkan, Abu Bakar menyumbang seluruh hartanya. Mereka menggunakan hartanya untuk memperkuat Islam sehingga persenjataan ummat Islam kuat dan lengkap, serta bisa membiayai tentara yang tidak mampu secara finansial. Bukan untuk kepentingan pribadi secara berlebihan. Semangat memberi, semangat berinfak inilah yang harus kita tiru.

Ketika seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk dihisab (dimintai pertanggungjawaban) atas seluruh akvifitas dan amaliahnya, maka ada empat pertanyaan yang diajukan. Yakni, tentang ilmunya, tentang umurnya, tentang masa mudanya dan terakhir tentang harta kekayaan yang dimilikinya. Menariknya adalah jika tentang ilmu, pertanyaan yang dikemukakan hanya satu yakni kemana ilmu digunakan, apakah untuk mencerdaskan dan mencerahkan umat atau justru menyesatkan masyarakat.

Demikian juga pertanyaan untuk umur, kemana umur itu dihabiskan, apakah untuk kebaikan dan ketaatan atau justru sebaliknya. Hal yang sama juga diajukan tentang masa muda, kemana digunakan apakah foya-foya, easy going atau untuk menebar kebaikan. Lain halnya dengan kekayaan, pertanyaan ada dua yaitu dari mana engkau dapatkan dan untuk apa kau gunakan. Pertanyaan untuk orang-orang kaya lebih lama dari yang lainnya.

Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa kekayaan yang ada dapat mengajak seseorang untuk berbuat sesuatu yang bukan menjadi keperluannya. Merasa memiliki segalanya sehingga membuatnya terasa hidup tidak akan pernah berakhir. Sikap semacam ini dapat membuat manusia lupa dengan kampung sebenarnya yakni akhirat. Allah SWT menyebutkan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. at-Takatsur/102: 1-2)

Ayat di atas menegaskan bahwa kehidupan yang berfoya-foya, saling membanggakan (keturunan, kekayaan, jabatan dan fisik) dapat melalaikan manusia dan membuat manusia lupa dengan kematian. Sesungguhnya hidup dengan berfoya-foya dan bermegah-megahan berbanding lurus dengan lupa akan kematian. Jika manusia sudah lupa dengan kematian, maka itulah musibah yang paling besar. Apa yang akan dibawa ketika jenazah kita diusung ke liang lahat? Sejatinya adalah hanya amal yang akan mendampingi kita. Jika ‘amalan soliha?  Maka kenikmatanlah yang menemani, namun jika ‘amalan sayyia? Maka kesengsaraanlah yang menimpa.

Allah SWT juga mengecam orang-orang yang hidup bermegah-megahan. Dinyatakan Allah SWT, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. al-Bazzaar).

Hidup bermegah-megahan dengan memperkaya diri dan keluarga, berbangga dengan kekayaan yang dimiliki, dampak pertamanya adalah akan membuatnya sombong dengan apa yang dimiliki dan ujungnya adalah membuatnya lupa akan kematian. Kematian adalah sesuatu yang pasti tetapi misteri. Pasti karena ia pasti akan menemui setiap yang bernyawa dan misteri karena tidak satupun yang tahu kapan ia akan datang.

 

Lupa dengan Kematian

Ada satu teks hadits Rasulullah  SAW yang berkaitan dengan tema ini yaitu hubbun dunya wa karohiyatul maut yang artinya:  “Cinta dunia dan takut mati”.

Dua kata ini saling beriringan yang menunjukkan bahwa jika seseorang telah cinta dengan dunia maka ia akan takut kehilangan dunia dengan berbagai fasilitasnya dan akibatnya tidak mau mati. Sikap apa yang dapat dilihat dari orang yang sudah terlalu cinta. Sederhananya orang yang sudah cinta dengan sesuatu, maka ia akan selalu menyebut-nyebutnya. Dalam konteks ini pembicaraannya tidak akan jauh sekitar harta dan jabatan (tanah yang akan dijual dan rumah kontrakan yang akan dibangun, jabatan yang menggiurkan) bahkan meskipun ia berada di masjid dan majlis ta’lim. Tidak ada yang mendominasi isi pembicaraannya selain dari harta ke harta dunia.

Orang yang sudah cinta akan melahirkan sikap rela berkorban. Tidak peduli siang dan malam kalau seseorang sudah “gila” harta, betapapun letih badan, betapapun banyaknya pikiran, tetapi manakala sudah menyangkut harta, apapun akan dilakukan dan dengan korban seberapapun asalkan dapat diraih.

Cinta membuat yang jelek akan kelihatan bagus, buruk kelihatan baik, racun dikira madu dan sebagainya. Demikian juga dengan orang yang sudah cinta dunia, apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya ia berusaha sekuat mungkin untuk memilikinya. Orang yang sudah terlalu cinta dengan dunia, dengan fasilitas yang ada dan kemudahan yang diraih, perlahan tapi pasti manakala tidak diiringi dengan didikan agama dan sentuhan-sentuhan spiritual akan membuatnya lupa dan takut dengan kematian.

Tapi memang itulah dahsyat sekaligus kekuatan apa yang namanya maut. Maut memutuskan kesenangan dunia, memotong syahwat manusia, dan menghilangkan harapan dunia lainnya tetapi ketahuilah sesungguhnya kematian adalah pintu untuk menuju kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang hakiki.

Kematian hanya dikhawatirkan oleh mereka yang sebenarnya tidak siap dengan bekal akhirat, kematian menjadi momok yang menakutkan karena gambarannya yang mencabut nyawa dengan paksa dan meronta. Tapi tidak sedikit sebenarnya orang yang ketika malaikat maut menjemput, keadaannya seperti orang yang sedang tersenyum, dalam keadaan sujud kepada Allah SWT, ketika silaturrahmi dan dalam ladang kebaikannya lainnya.

Apa yang harus dilakukan supaya tidak terlalu cinta dunia dan selalu menyiapkan bekal untuk akhirat? Jawabannya, apabila memiliki tidak menjadi ujub/takabur; apabila sedikit tidak menjadi minder; tidak dengki kepada yang lebih; tidak meremehkan kepada yang kurang; selalu menjaga kejujuran dalam mencarinya; selalu siap apabila diambil pemiliknya.

Akhirnya mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam kebaikan dan memberikan hidayah-Nya agar selalu bermanfaat bagi orang lain. Mari meyakini bahwa siapa pun di antara kita pasti akan berhadapan dengan maut. Bukan kapan kita meninggal, dimana kita wafat, ataupun dengan bersama siapa dicabut nyawa, melainkan bekal apa yang telah disiapkan saat maut menjemput. **

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.

Editor : Hanif
#Sang Khaliq #kesombongan #jasmani #rohani #ketaatan #kebenaran