Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*
Alam kita sedang rintih kesakitan. Alam kita sedang dalam kepedihan. Alam mulai tak bersahabat dengan hidup manusia. Semua hewan mencari tempat yang nyaman, tetapi tak terluput dari banjir dan tumpukan kayu yang menghayut. Sekalipun lari-berbirit-birit mencari tempat yang nyaman, tetap terhempas oleh kekuatan badai, banjir dan tanah longsor. Andaikan ia memiliki suara, pasti akan berteriak. Andaikan ia bisa berteriak, pastikan minta tolong. Ironisnya, itu semua tidak bisa ia lakukan. Hanya berpasrah terbawa arus air yang deras. Salah siapa semua ini? Alam kita hanya menanti kesadaran manusia untuk menjaga dan merawatnya.
Menurut Martinus Arya Seta (dalam Utama, 2018) menjelaskan bahwa dalam waktu 50 tahun terakhir sejak tahun 1950, luas hutan Indonesia bekurang 40 persen sampai tahun 2000, luas hutan Indonesia tersisa 98 juta ha. Angka penggundulan hutan untuk berbagai kepentingan meningkat tajam. Sejak tahun 1996, setiap tahun mengalami deforenstasi.
Pemicu deforestasi adalah kepentingan ekonomi dan pembalakan liar. Hutan lebih mementingkan ekonomi daripada sosial, moral dan ekologis. Lalu kita mulai bertanya? Apa penyebab mendasar sehingga munculnya banjir ini? Terpantau melalui berbagai platform media digital kejadian di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ada banyak sisa-sisa potongan kayu yang terbawa arus, bahkan ada pohon-pohon yang sudah diberi nomor. Ini menjadi moment yang tak bisa ditutup-tutupi bahwa terjadinya banjir dan longsor akibat deforestasi yang merujuk pada kepentingan ekonomi para korporasi.
Media daring melansir penyataan Zulkifli Hasan yang menegaskan bahwa hujan terjadi karena Siklon Tropis Senyar, yang menjadi salah satu pemicu utama banjir bandang dan longsor yang meluas. Hal senada dijelaskan oleh kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan curah hujan yang mengguyur Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat pada 25-27 November 20205, terjadi akibat siklon tropis senyar terjadi di wilayah tersebut. Zulkifli Hasan melanjutkan bahwa faktor manusia ikut berperan memperburuk dampak bencana. Kerusakan alam akibat ulah manusia yang menambah skala kerusakan yang makin besar.
Nota pastoral Konfrensi Wali Gereja Indonesia Tahun 2013 menegaskan bahwa kerusakan lingkungan hidup terjadi perubahan langsung dan tidak langsung. Yang terjadi saat ini disebabkan oleh aktivitas pengambilan sumber daya alam yang tidak terkendali di berbagai bidang, seperti yang terjadi secara tidak langsung adalah perubahan iklim, kehutanan, pencemaran tanah, pencemaran air, sampah. Dari kejadian tidak langsung menjadi langsung karena cura hujan yang tinggi menyebabkan gelontongan kayu menghanyut ke mana-mana sekitar desa atau kota yang terdampak banjir.
Lewat laman media daring, Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni menegaskan bahwa banjir badang dan tanah longsor di tiga provinsi di Sumetera disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, termasuk kerusakan lingkungan, khususnya di daerah tangkap air. Raja Juli juga menyampaikan bahwa tingkat deforestasi hutan di Indonesia mengalami penurunan, khusus di Wilayah Sumatera. Di Aceh menurun, 10,04 persen. Di Sumatera Utara menurun, 13,98 persen. Sementara di Sumatera Barat turun menjadi 14 persen, jika dibangingkan tahun 2024. Secara umum Raja Juli menampilkan data Akhir pada September 2025 mengalami penurunan, 23,1 persen jika dibandingkan 2024. Deforestasi di Indonesia hingga bulan September 2025, menurun hingga 49.700 ha jikan dibandingkan tahun 2024 23,01 persen.
Kalau ada penurunan deforestasi, kita perlu bertanya salah siapakah semua ini? Kerusakan alam menjadi salah satu perhatian yang serius. Satu hal yang dapat kita pelajari dan mungkin juga masih kuat dalam ingatan kita, mendiang Paus Fransiskus dalam Laudato Si menengaskan bahwa bencana ekologis sebagai akibat peradaban industri. Apapun keadaan, kemajuan IPTEK yang menakjubkan bahkan mencengangkan, bila tidak disertai dengan perkembangan sosial dan moral yang otentik, akhirnya berbalik melawan manusia (LS,4). Ini menjadi penting untuk mengingatkan menjaga dan merawat alam adalah menjadi tanggungjawab demi kesejahteraan bersama (bonum commune).
Belajar dari Pengalaman Nyata
Dari tahun ke tahun, Indonesia selalu mengalami peristiwa yang sama tentang kondisi alam, banjir, longsor, gunung meletus, dan lain sebagainya. Apakah tidak belajar dari pengalaman nyata yang terjadi di berbagai provinsi di negara kita? Menurut Anistia Malinda Hidayat, menyinggung soal fenomena alam adalah hal yang pasti, tetapi kejadian bencana adalah pilihan. Menjadi sebuah kritikan tajam tentang siapa sebenarnya yang bertanggungjawab atas kejadian bencana alam? Atas dasar pilihan untuk apa? Mau merusak alam demi keuntungan? Atau menjaga alam demi pelestarian. Fenomena ini terjadi karena dua hal yang paling mendasar. Pertama akibat cura hujan yang terjadi secara alami yang esktrim. Penyebab yang kedua adalah ulah manusia. Manusia meraup keutungan ekonomi dari kekayaan alam. Alam menjadi sasaran empuk dari kepentingan korporasi. Ini mengakibatkan hilangnya makna alam sebagai rumah kita bersama (Laudato Si).
Kita tidak bisa hindar dari pengalaman yang telah lewat. Kita harus belajar dari pengalaman yang telah terjadi. Pengalaman selalu mengajarkan kita untuk berefleksi diri, membangun kesadaran mendalam tentang risiko dan konsekuensi yang harus diperbaiki tentang kerusakan alam. Alam sebagai rumah bersama patut untuk direfleksikan. Apakah tindakan manusia membuat alam menjadi marah? Apakah tindakan manusia membuat alam jadi pedih? Siapa yang menjadi korban ketika alam menjadi rusak?
Alam selalu memberikan makna terhadap hidup manusia. Dari alam lahir berbagai dimensi kehidupan terhadap manusia. Manusia merasakan udara yang segar, tatapan mata kadangkala mengagumi alam. Dari alam lahir pula pujian atas keagungan ciptaan-Nya. Santo Fransiskus Assisi menciptakan lagu-lagu tentang Nyanyian Kidung Ciptaan karena sangat mengagungkan kebesaran ciptaan-Nya. Mendiang Paus Fransiskus menulis sebuah Ensiklik Laudate Deum menindaklanjuti Laudato Si. Paus merefleksikan secara mendalam tentang kerusakan alam bukan sekedar isu teknis melainkan masalah moral dan spiritual. Manusia tak bisa dipisahkan dari peran ekologi. Dikatakan pula bahwa “Kepedulian kita terhadap sesama manusia dan kepedulian kita terhadap bumi saling berkaitan” (LD, 3).
Pertanyaannya, apakah manusia diberikan kuasa untuk mendeforestasikan alam? Atau ikut berperan menjaga alam, memelihara dan merawat alam? Panggilan manusia adalah panggilan menyatu dengan alam. Alam menjadi rumah kita bersama. Tempat dimana manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan bersahabat. Sangat jelas bahwa persahabatan dengan alam membawa keharmonisan bagi manusia. Manusia dan alam memiliki ikatan yang mendalam. Kira-kira separuh hidup manusia menyatu dengan alam. Alam menjadi tempat yang indah karena kekuatanya yang memberikan dorongan secara alami kepada manusia.
Akan menjadi Baru
Kondisi alam yang kian hari terdengar rintihan, seolah tak seorang pun mau mendengarnya. Seolah-olah tak ada masalah dengan alam. Padahal alam mau mengingatkan kepada kita bahwa “aku sedang pendih, sakit dan menderita”. Andaikan ini semua bisa diungkapkan dengan kata-kata, pasti alam teriak minta tolong.
Seogyanya, masalah lingkungan hidup adalah masalah kita bersama. Ada relasi khusus, yaitu antara alam dan masyarakat yang menghuninya. Karena relasi khudus ini memberikan pemahaman bahwa alam tidak terpisah dari bingkai hidup manusia (LS,139). Oleh karena itu, kita perlu bersama-sama mencari solusi mulai dari saat sekarang, bukan besok. Bagaimana caranya agar hal ini menjadi pusat gerakan bersama? Sekolah menjadi langkah strategis mengajarkan kepada murid tentang membuang sampah pada tempatnya, gerakan menanam pohon bersama atau sekurang-kurangnya membawa botol minum air sendiri dari rumah, membuat piket kebersihan secara bersama-sama, gerakan mengurangi bahan plastik.
Belajar dari kenyataan yang ada, kita diajak untuk selalu memberikan hati bahwa alam juga membutuhkan kehidupan. Alam membutuhkan uluran tangan manusia untuk peka terhadap kehidupan. Panggilan hidup manusia adalah panggilan menyatu dengan alam. Alam tidak dipisahkan dari kehidupan manusia. Alam tempat manusia beraktivitas. Ketika kita melibatkan diri untuk menjaga alam, kita akan beroleh rumah baru, tempat baru dan suasana baru (habitus baru).**
*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak; alumnus USD Yogyakarta; mahasiswa AP Untan.
Editor : Hanif