Oleh: Santriadi*
Tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Banyak cara yang orang dilakukan untuk memperingati hari ibu, ada yang memberi hadiah atau bunga, ada juga dalam bentuk puisi, ada juga yang ‘mengistirahatkan total’ ibunya dalam satu hari untuk tidak melakukan rutinitas dan hanya duduk manis di rumah, dan yang paling mengharukan adalah mencuci kaki ibu.
Tidak ada seorang manusiapun di dunia ini yang terlahir tanpa ibu, kecuali Adam dan Hawa. Alquran menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orangtua, khususnya kepada ibu, pada urutan kedua setelah kewajiban taat kepada Allah SWT. Ini, bukan hanya disebabkan ibu memikul beban yang berat dalam mengandung, melahirkan dan meyusui, tetapi juga karena ibu dibebani tugas menciptakan pemimpin-pemimpin umat.
Oleh karena itu, Allah SWT menganugerahkan kepada kaum ibu struktur biologis dan ciri psikologis yang berbeda dengan kaum bapak.
Peranan ibu sebagai pendidik generasi bukanlah sesuatu yang mudah. Peranan itu tidak dapat diremehkan atau dikesampingkan. Betapa tidak, sejak dalam kandungan seorang ibu sudah mulai mengajak si jabang bayi untuk berkomunikasi (berbicara). Walaupun sang ibu tahu bahwa anaknya tidak mungkin berbicara, tapi paling tidak respons dari bayi yang di kandungnya melalui gerakan-gerakan kecil sudah dianggap keduanya saling berbicara dari hati ke hati.
Ibu adalah Guru Sejati
Barangkali inilah kalimat yang sangat cocok untuk disandang oleh setiap ibu. Bersusah payah mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan dan mendidik anaknya seolah mengalahkan segalanya. Tidur tak lena, makan tak kenyang, dan tidak ada waktu untuk beristirahat. Ingatlah, kisah perjuangan Siti Hajar yang berusaha mencari air ketika anaknya, Ismail, yang sedang menangis kehausan di tengah gersangnya gurun pasir. Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua bahwa berjuang dan kerja keras dalam mengarungi hidup ini harus dilakukan untuk mewujudkan kesuksesan dalam hidup.
Ibu merasa bangga dan dengan senang hati atau tanpa pamrih (ikhlash) ketika menyusui anak-anaknya. Setiap ibu pasti pernah bahkan sering memberikan nasehat kepada anak-anaknya. Tak ada seorangpun anak yang tidak diberikan nasehat oleh ibunya. Ibu yang tidak menasehati anaknya hanyalah ‘oknum’ ibu yang bisa dikatakan tidak bertanggung jawab.
Contoh lain dari ‘oknum’ ibu yang tidak bertanggung jawab adalah ibu yang dengan teganya membuang anaknya yang masih bayi, apalagi sampai tewas mengenaskan, na’udzubillahi min dzalik. Ibu yang dengan tega membuang anaknya bisa dipastikan kerena hasil ‘hubungan gelap’ yang tidak mau menanggung malu diri sendiri dan keluarganya.
Keluarga sebagai madrasah/sekolah yang pertama dan gurunya adalah ibu, karena durasi waktu seorang ibu jauh lebih banyak daripada seorang ayah dan ahli keluarga lainnya. Momen seperti inilah yang harus dimanfaatkan betul oleh seorang ibu dalam memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya.
Ibu sebagai guru sejati tidak akan mungkin melewatkan masa-masa emas bersama anaknya untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Sebagai ‘guru’, ibu mengajari anaknya berbicara, merangkak, berjalan hingga anaknya berlari.
Oleh karena itu, anak berkewajiban mengingat jasa-jasa ibu: seteguk ASI yang pernah diminum, keringat yang pernah dicurahkannya, seuntai kalimat bimbingan dan nasehat yang pernah disampaikannya, semua itu tidak mungkin kita imbangi atau terbalaskan oleh siapapun dan oleh apapun juga. Sebagai anak, kita hanya dapat memohon sesuai dengan anjuran Allah SWT dalam Alquran. “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.“ (QS. Al-Isra’ ayat 24)
Ada sebuah analogi yang menyebutkan, hubungan ibu dan anak ibarat mata dan tangan. Jika mata menangis maka tangan lalu mengusapnya. Apa pun analoginya, pesannya adalah satu, bahwa cinta kasih ibu pada anak mengalir setiap saat sebagaimana matahari menyinari bumi, namun pantulan balik cinta anak pada ibu tidaklah sebanding volumenya. Ibarat air hujan yang selalu mengucur ke bawah, yang kembali ke atas hanya sekadar uap atau percikannya.
Kita pasti masih ingat ketika kecil dulu, kalau kaki tersandung atau sakit pasti yang dipanggil pertama adalah sang ibu. Atau anak kita yang masih kecil kalau bangun tidur, biasanya memanggil ibu, barulah ayahnya, dengan merengek untuk diangkat atau digendong ibunya.
Ada rasa damai ketika si ibu berada di sampingnya. Ikatan itu begitu kuat karena sudah tertanam sejak sang anak masih dalam alam rahim. Bahkan, seorang ibu muda bercerita, ketika melahirkan anak pertamanya, dia lebih memerlukan pendampingan ibunya, syukur-syukur sang suami juga bersamanya.
Opini yang singkat ini tentu saja tidak dapat mewakili ungkapan perasaan penulis tentang besarnya jasa seorang ibu. Tapi, opini ini penulis dedikasikan kepada semua para ibu yang telah berjasa kepada putra-putrinya. Ibu, engkaulah guruku. Selamat Hari Ibu, I Love You Mom. Wallahu a’lam.**
*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.
Editor : Hanif