Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*
Guru dalam perjalanan karirnya tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi seorang pendidik memiliki gagasan ideologi pendidikan. Ideologi pendidikan berfikir tentang cita-cita serta masa depan anak bangsa. Di samping itu, guru juga memiliki orientasi untuk mendidik murid menuju perkembangan sehingga mampu menghadapi tantangan masa depan. Yang paling penting guru hadir sebagai pelaku perubahan.
Sadar akan pentingnya agen perubahan guru harus terlebih dahulu pelaku perubahan dari dalam diri. Implementasi agen perubahan itu terletak pada pundak guru. Tidak cukup memberikan teladan, guru harus lebih maju satu langkah dari seorang murid. Guru menjadi pribadi yang selalu belajar terus-menerus. Guru tidak boleh berhenti belajar. Hal ini senada dengan ungkapan Praptono (2019) dirjen guru dan tenaga kependidikan (Mursidin, 2025) yang menegaskan bahwa guru merupakan energi perubahan terbesar dalam pendidikan.
Peran guru, pendidikan bisa mengalami perubahan dan dan kemajuan. Lanjutnya lagi, hanya guru pembelajarlah yang mampu menjalankan peran tersebut. Artinya tidak semua guru dapat merespon cepat dengan perubahan-perubahan pendidikan. Guru pembelajarlah yang menjadi langkah perubahan itu terjadi, dari proses pemelajaran yang ditemukan, akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih maju dari harapan murid, bahkan kreatif, inovatif, komunikatif dan kolaboratif.
Siapa yang Menciptakan Tantangan Masa Depan
Manusia kini belomba-lomba menciptakan perkembangan teknologi. Entah seperti apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi saat ini kita perlu membaca tanda-tanda tantangan di masa depan. Maka, seogyanya bahwa manusialah yang menciptakan persaingan di masa mendatang. Perkembangan teknologi mengacu pada tantangan masa depan. Itulah menjadi tantangan yang perlu disadari di lingkungan pendidikan.
Menyadari akan pentingnya menghadapi tantangan di masa depan, maka saat ini, perlu dipersiapkan secara serius oleh sekolah-sekolah agar mampu bersaing di masa depan. Masalahnya di sekolah-sekolah kita saat ini masih fokus mengejar materi pelajaran. Guru diminta mempersiapkan administrasi pembelajaran (perangkat ajar) sesuai materi, sehingga pembelajaran yang relevan dan kontekstual kurang mendapat perhatian secara serius. Misalkan apa tantangan budaya lokal saat ini, tantangan nasional, dan tantangan global. Ini akan diajarkan kalau ada kaitannya dengan materi. Kalau tidak ada kaitan dengan materi, apapun realita nyata yang dihadapi, dapat dikesampingkan.
Oleh Mursidin (2025) menegaskan empat hal penting dalam kegiatan pembelajaran, yakni mengapa meteri ini sangat penting, apa intisari dari materi ini, bagiamana cara memanfaatkan bahan ajar ini dalam kehidupan nyata, apa kontribusi bahan ajar ini untuk memperbaiki kehidupan sosial kemasyarakatan. Point ketiga dan keempat menjadi relevan kalau sungguh-sungguh diperhatikan secara serius. Materi bukan sekadar teori, tetapi diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menanggapi tantangan, ternyata tidak hanya fokus pada satu sudut padang, masih ada capaian lain yang perlu diperjuangkan. Materi pembelajaran hanya salah satu bagian saja untuk mendorong motivasi belajar.
Mursidin (2025) mengutip hasil penelitian yang dilakukan oleh Thomas Corley menujukkan bahwa 88 persen orang sukses dengan kekayaan miliaran memiliki kebiasaan membaca buku-buku non fiksi akan membawa munuju kesuksesan di masa depan, disebutkan beberapa tokoh, misalkan Warren Buffet, menghabiskan waktu membaca 5-6 jam tiap hari dan masih ada beberapa tokoh lain, misalkan Bill Gates, sanga maestro Microsoft membaca 50 buku dalam setahun sedangkan Elon Mas, menghabiskan waktu 10 jam membaca buku setiap hari.
Untuk mengetahui hal ini secara mendalam, sekali lagi, guru memiliki langkah-langkah strategis dalam kegiatan pembelajaran yang menarik bagi murid. Guru harus mencari solusi kreatif dalam menyampaikan materi kepada murid. Mengingat satu peran dan fungsi guru dalam kegiatan pembelajaran adalah menjadi pribadi pemecah masalah, baik secara pribadi maupun kolektif dalam kegiatan pembelajaran.
Masa depan milik semua orang. Tidak ada yang tidak mampu menuju kesuksesan dalam menaggapi tantangan di masa yang akan datang kalau mulai saat sekarang memiliki mimpi untuk mengubah masa depan. Masa depan selalu ada dalam diri tiap orang yang memiliki mimpi.
Tantangan seperti apa yang akan hadapi di masa yang akan datang? Elon mas dalam wawacara di stasiun televisi Amerika mengungkapkan bahwa di masa yang akan datang uang tidak akan dibutuhkan lagi? Karena semua sistem bisa berkerja tanpa harus dilakukan oleh manusia. Tantangan lain misalkan sistem komputasional (robot sama seperti suara manusia), pekerjaan manusia digantikan oleh robot? Apakah semua ini nyata? Atau sekedar mimpi? Bukan tidak mungkin dapat terjadi. Hanya membutuhkan waktu. Suatu saat pasti akan terwujud.
Maxwell Maltz (dalam Mursidin, 2025) menyatakan hari ini Anda berada di tempat yang dibentuk oleh pikiran-pikiran Anda. Besok pun, Anda akan berada di tempat yang ditentukan oleh pikiran-pikiran Anda.
Ruang Kelas Ruang Masa Depan
Belajar dalam ruang kelas adalah belajar bersama. Meski dalam ruang kelas memiliki karakter, kemampuan dan bakat yang berbeda. Belajar bersama menciptakan ruang kelas yang bervariatif serta mendorong kemampuan setiap murid dapat diimplementasi. Kelebihan belajar bersama dalam ruang kelas adalah kekayaan ilmu dan pengetahuan. Bukan sekadar menerima pelajaran masing-masing pribadi, tetapi belajar bersama menjadi ruang kolabaratif dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Ruang kelas bukan sekedar tempat menerima pelajaran, perjumpaan guru dan murid, tetapi membentuk sebuah jaringan sosial (social network) berdasarkan kemampuan masing-masing pribadi. Dari kemampuan yang beragam dapat menghasilkan pembelajaran mendalam untuk mempersiapkan masa depan. Kebiasaan ini akan membentuk komunitas belajar yang saling mendukung dan berbagi. Pembelajaran di ruang kelas merupakan dinamika yang penuh dengan beragam tantangan. Maka, suasana ruang kelas adalah suasana yang penuh kekayaan kemampuan dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kalau kekayaan ini mampu dioptimalisasi dengan baik, maka secara perlahan, murid di sekolah akan mampu berkolaborasi menaggapi tantangan di masa depan.
Semua ini kembali kepada sang maestro perubahan, yakni guru. Guru memiliki peran yang strategis untuk mengolah jaringan sosial kelas menjadi ruang perjumpaan untuk menghasil pembelajaran yang kolaboratif. Ini memungkinkan akan terjadi kalau peran guru sebagai pembelajar akan terjadi perubahan. Murid tidak sekadar mengolah materi pembelajaran, tetapi mengolah jaringan sosial dalam kelas yang lebih menantang dalam menyampaikan kritik-kritik terhadap tantangan zaman di masa yang akan datang.
Tantangan masa depan pasti akan ada. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dihidari, bahkan semakin signifikan. Guru selalu memiliki keterampilan untuk membawa murid menuju masa depan yang lebih baik. Lebih baik bukan adem ayem, bukan! Tetapi siap sedia untuk menanggapi tantangan secara bersama-sama, bukan hanya mengadalkan kemampuan pribadi, tetapi dalam bentuk kolaborasi bersama. Tantangan masa depan perlu dipersiapkan mulai dari sekarang.
Sebagai guru, perlu belajar terus-menerus. Lebih maju dari murid. Kesempatan baik menjadi guru adalah belajar untuk saling berkolaborasi dalam mencahkan berbagai permasalahan serta tantangan di masa yang akan datang. Mengingat guru adalah pelaku perbuahan dan kemajuan. Guru perlu dengan cepat dan tepat dalam menanggapi tantangan zaman dan pelu disampaikan kepada murid dalam kelas. Inilah salah satu yang dimaksudkan lebih maju dari satu langkah yang dialami oleh murid. Semoga para guru terus mengembangkan diri dengan tidak berhenti belajar.**
*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak, alumnus USD Yogyakarta, mahasiswa AP Untan.
Editor : Hanif