Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tujuh Tahap Tipuan Setan

Hanif PP • Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:40 WIB
Ma
Ma

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran, M. Iqbal Arraziq*

KONDISI paling baik bagi seseorang yang sangat dekat dan dicintai Allah ketika dia merasa tidak memiliki siapa-siapa, kecuali Allah saja. Menjatuhkan diri pada pelukan Tuhannya. Keadaan terbaik hamba bukan pada saat dia salat, puasa, zakat, haji dan umrah. Kadang ketika salat, dia merasa alim. Ketika puasa seakan dirinya sudah terhindar dari siksa Tuhan. Kadang sewaktu zakat, dia merasa sudah aman dari murka-Nya. Haji dan umrah seperti sudah diwisuda Allah menjadi penduduk tetap di surga. Halusinasi beragama memang dirancang setan untuk menggoda, membisiki, menyesatkan manusia dari jalan Allah yang lurus.

Untuk merusak hubungan mesra hamba dengan Tuhan, segala cara dilakukan oleh setan, sekuat tenaga. Namun sebenarnya setan itu lemah. Setan sebatas membisiki, tapi banyak manusia yang terbuai, terikut, terperangkap dalam bisikan manis, tipuan tipis, dan janji-janji kosong yang dilancarkan. Segala cara dia lakukan, telah dia persiapkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan-kaki. Dia datang dari arah sebelah kanan-kiri, depan-belakang.

Tipuan kanan adalah materi godaan berupa ajakan kebaikan. Tipuan kiri adalah materi godaan berupa ajakan kejahatan. Dia bisa datang dari depan, artinya mengkhawatirkan masa depan atau memperpanjang cita-cita hidup (thulul amal) seperti ingin memiliki villa yang indah dengan

lahan ratusan hektar di atas dan di bawah kaki bukit. Dilengkapi pemandian umum, kebun binatang, transportasi dan akomodasi serba mewah. Demi meraih masa depan gemilang, manusia bekerja malam-siang (gila kerja). Kekayaan dicari, dikumpul, diraup selama hidup, ditinggal ketika mati. Padahal dunia adalah tempat meninggal, bukan tempat tinggal.

Berulang Alquran menyatakan tempat tinggal yang abadi ialah di surga atau neraka. Lupa akan rahmat-Nya yang sekarang, lalai menunaikan suruh, dan suka menerjang larangan sehingga hidup dihalusinasi menjadi masa depan yang manis dan masa depan yang pahit. Mata dan pikiran telah dimainkan setan untuk lupa kepada kasih sayang Allah yang sekarang. Asyik merancang, menatap, membangun, mengatur masa depan. Akhirnya kafir terhadap takdir.

Sebenarnya, tidak ada yang pasti dalam hidup ini, kecuali menjalani medan ujian jiwa berupa rantai takdir. Takdir nikmat, takdir derita, takdir taat, takdir maksiat, takdir baik dan buruk dari Allah Ta'ala.

Mayoritas manusia ketika sudah kaya, mereka menuduh Allah fakir, memfitnah Allah miskin, mendakwa Allah selalu berada dalam kekurangan. Allah yang meminta kepada umat untuk taat, Allah mengiba meminta bantuan manusia.

Itulah perilaku orang-orang Yahudi yang dikecam Alquran, "Sungguh Allah telah mendengar perkataan mereka yang berkata: Sesungguhnya Allah fakir dan kami kaya. Kami (Allah) akan mencatat tuduhan mereka terhadap Allah dan perbuatan mareka yang membunuh para utusan tanpa alasan yang benar. Dan Kami katakan: Rasakan olehmu, siksa yang membakar." (Ali Imran:181).

Setan juga datang dari arah belakang. Arah belakang artinya mengungkit penyesalan masa lalu, sehingga seseorang lupa kepada rahmat Allah dan berputus-asa dari-Nya. Terpisah dan terputus sudah tali ikatan hamba dengan Tuhannya. Target setan diawali dari upaya menjauhkan hamba dari Allah, lalu putus sama sekali (kufur)!

Terdapat tujuh langkah setan menggoda manusia, setahap demi setahap (stafe by stafe). Dalam kalam mulia diperingatkan, "Hai orang-orang beriman! Masuklah ke dalam  keselamatan (Islam) secara keseluruhan (totalitas). Dan jangan kamu mengikuti langkahlangkah setan. Sesungguhnya setan itu musuhmu yang nyata." (Al-Baqarah:208).

Setan bisa berubah wajah, wajah sangat ingkar atau sangat taat. Langkah pertama adalah ukfur (kufurlah). Balas tipuan setan dengan mengatakan, “Aku tidak akan kufur selamanya. Dialah Allah Tuhanku, Dia yang telah menciptakan diriku, hanya kepada-Nya aku menyembah dan hanya kepada-Nya aku dikembalikan. Kemudian berdoa (memohon) kepada-Nya dari godaan setan yang terkutuk. Mohon ditetapkan dalam iman yang sempurna (iman kamil). Dihidupkan dalam iman, diwafatkan dalam iman, dibangkitkan di hari kiamat dengan iman, masuk surga bersama iman, dihimpun di dalam surga bersama Rasul dan kaum beriman. Lalu, bersahabat dan bergaul dengan orang-orang saleh (shahbatish-shalihin).”

Jika tidak menuruti ajakan kufur (ukfur), maka setan melancarkan aksi yang kedua dengan berkata, "La thuti' rabbak" (jangan taati Tuhanmu). Langkah tipuan setan ini harus dilawan dengan ilmu. Katakan, “Hai setan! Aku harus beramal saleh untuk bekalku di akhirat. Berdoa meminta kesanggupan dan kesabaran dalam taat. Teruskan bersahabat dengan orang-orang saleh.” Bila gagal dua tahap di atas, setan meluncurkan produk yang ketiga, "Nanti sajalah

beribadah, kalau sudah tua. Kamu masih muda, sayang kalau dilewatkan masa muda tanpa dinikmati. Umurmu masih panjang. Dan orang yang rajin beribadah, belum tentu masuk surga. Kamu mau dijanjikan surga dan neraka yang tidak pasti, hanya omong-kosong. Surga dan neraka itu ialah dongeng orang-orang terdahulu, atau mimpi mereka saja. Masih muda, mari habiskan waktu bersamaku."

Lihatlah hari ini, jamaah masjid dan majelis ilmu adalah orang-orang tua. Satu poin  keberhasilan setan pada produk ketiganya ini. Ibadah bukan milik anak muda, tapi ibadah adalah milik orang tua. Anehnya, yang tua masih merasa muda. Umur 50 atau 60 tahun masih merasa muda, kapan tuanya? Bila sudah tua, ibadah dan menuntut ilmu agama tidak akan bisa maksimal. Kesalahan dalam tajwid karena lidah sudah kelu, kesalahan dalam gerakan salat, karena raga sudah kaku. Menghafal ayat sudah banyak lupa, karena penurunan daya ingat, bacaan Alquran sudah banyak salah karena mata tidak sejernih dahulu. Ta dibaca ja, ja dibaca la, kerusakan bacaan karena faktor umur.

Atau perempuan muslimah yang sekarang belum berhijab dengan bisikan, “Nanti saja, tunggu saat tua. Ketika rambut beruban dan tulang rapuh, waktu yang tepat untuk berjilbab. Kalau mau berjilbab di usia belia, gunakan jilbab gaul (tidak syar'i). Terhadap bisikannya, jawab dengan tegas penuh keyakinan: Hai setan, musuh Allah dan musuh Rasul-Nya. Dengar! Umur tidak ada yang tahu, tua, muda bahkan balita ada yang mati. Kematian tidak menanti umur tua. Orang sakit dan orang sehat bisa mati tiba-tiba (innassa'ata baghtah). Teguhkan dalam hati dengan ayat: "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga seluas langit dan bumi. (Surga) disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran:130).

Dilanjutkan dengan doa, “Tuhan, anugerahkan kepadaku untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan baguskan ibadahku kepada-Mu.” Daya tangkal ketiga, bersahabat dengan orang-orang saleh, menuruti dan mengikuti nasehat dari mereka.

Tahap tipuan keempat ialah, berbisik setan, "Kalau kamu masih mau beribadah kepada Allah, lakukan dengan terburu-buru. Karena Allah tidak melihat bacaan dan gerakan. Namun, Dia melihat hatimu. Tidak perlu lama-lama. Cepat lari dari tempat sujud, lebih baik. Karena di luar ada tugas yang lebih utama, yaitu mencari nafkah. Banyak ibadah, dapat membosankan dan engkau akan berhenti beribadah. Tidak juga menyenangkan Tuhan, bila ibadahmu lebih sedikit atau banyak.”

Setan katakan, “Terpenting, tunaikan saja ibadah.”

Dia bisiki, “Kerjakan dengan tergesa-gesa. Kewajibanmu masih menumpuk di rumah, kantor, pasar.  Belum lagi pengisian token listrik, tagihan PDAM, tagihan angsuran rumah, angsuran mobil.

Dan janji yang sudah dibuat selesai salat."

Tipis tipuan dan halus rayuannya. Tanpa sadar manusia banyak yang hanyut terseret arus kesesatan. Beribadah dengan tergesa-gesa adalah ibadah berbasis hawa nafsu. Tergesa-gesa datang

dari setan (al-'ajalatu minasy-syaithan). Lawan godaan setan dengan berlindung kepada Allah melalui kalimat yang sempurna (Alquran), "Demi Alquran yang penuh hikmah." (Yasin:2).

Jangan buru-buru beramal saleh, basis amal ialah ilmu. Basis ilmu adalah ketenangan. Ketenangan jiwa yang melahirkan peradaban dan kesabaran. Bila Rasul dan para sahabat tidak sabar menjalani masa-masa sulit proses turun wahyu. Niscaya tidak sampai Islam hari ini, di sini.

Allah menyabarkan Muhammad, "Sabarkan jiwamu beserta orang-orang yang menyembah Tuhan pagi dan petang. Mereka mengharap keredaan Tuhan-nya. Dan jangan sampai kesenangan mereka dapat menarik perhatianmu, yaitu orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia. Jangan engkau menaati orang-orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami. Mereka mengikuti bisikan ego, dan perbuatan mereka sudah melampaui batas." (Al-Kahfi:28).

Kalau tahap tipuan licik keempat gagal, setan luncurkan panah tipuan kelima, berupa bisikan, "Engkau telah tumakninah dalam beribadah, tekun, tenang dan tidak buru-buru. Bacaan dan gerakan salatmu telah didengar dan dilihat jamaah. Pasti engkau dijadikan teladan, dilantik sebagai ahli ibadah di kota ini. Tidak saja dalam beribadah, keseharian yang engkau jalani penuh hikmah kesabaran, ketulusan, kedermawanan. Semua orang akan melihat dirimu, memuja, memuji dan engkau menjadi sebutan kebaikan bagi generasi sekarang dan akan datang."

Pahami rayuan manisnya, setan sedang menanamkan rasa riya' di relung hati. Ibnu Athaillah shahibul-hikam (wafat: Mesir, 709 H) mengingatkan berhati-hati terhadap tipuan yang semakin ke atas, semakin samar. Samar karena dia yang terkutuk ikut menyuarakan dan mendorong kerajinan beramal saleh dan beramal sunah.

Lawan dan tangkal godaan riya' dengan tegas mengatakan, “Hai setan! Aku beribadah bukan untuk mencari pujian manusia! Aku tidak peduli dengan penilaian manusia tentang ibadahku. Sebab aku beribadah hanya bertujuan mencari rida Allah SWT. Allah rida kepada mereka, dan mereka reda kepada Allah. Demikian balasan baik bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya." (Al-Bayyinah:8).

Di sini, fungsi ilmu yang berbicara: Sanggup membedakan antara tauhid dengan syirik beserta dampaknya. Sanggup membedakan bisikan setan dengan bisikan malaikat. Dampak tauhid ialah kemenangan, kejayaan. Adapun dampak syirik ialah kekalahan, kejatuhan.

"Luruskan niat untuk beribadah karena Allah. Jangan menjadi orang-orang musyrik. Siapa yang mempersekutukan Allah (musyrik), umpama seseorang yang jatuh dari langit, lalu disambar burung, dan diterbangkan angin ke tempat yang asing." (Al-Haj:31).

Kemudian untuk selalu memohon kepada Allah agar dilimpahkan sifat ikhlas, dan dihindarkan dari sifat riya'. Dalam keheningan doa dan kebeningan munajat malam dihaturkan, "Duhai Allah, jika ibadahku kepada-Mu dipenuhi kekurangan, dicampuri kesombongan dan riya', serta ingin diketahui orang lain, -sadar atau tidak-, aku bertobat dan berserah-diri kepadaMu dengan kalimat syahadatain." (Doa Akasah).

Langkah keenam lebih licin dan licik lagi. Kalau tahap kelima gagal, maka produk yang dipasarkan lebih andal, "Engkau sekarang benar-benar sudah ikhlas, tidak pamer dan tidak pamrih. Tauhidmu sudah benar. Engkau adalah seorang wali min auliya Allah (kekasih dari para kekasih Allah). Janji surga sudah pasti untukmu. Cocok dan sangat patut engkau mendapat gelar termulia di sisi-Nya, sang kekasih Tuhan yang alim."

Bila yang bersangkutan meng-acc pengakuan setan yang melantiknya menjadi wali. Niscaya dia telah terperosok menjadi wali setan. Setan memasuki wilayah terdalam dari relung hati manusia,  yaitu merasa bangga diri ('ujub). Jika bisikannya tidak dilawan, terjerembab ahli ibadah dalam kubangan tipuan batin hakekat. Lawan bisikan setan dengan sanggahan, "Tujuan aku beribadah bukan untuk menjadi wali. Allah yang berhak memilih diantara hamba sebagai kekasih-Nya. Bukan sembarang mengaku, apalagi mendaulat diri menjadi wali. Bukan hakmu hai setan yang terkutuk untuk menunjuk wali Allah. Dasar setan terkutuk, penipu dan pecundang. Aku beribadah hanya berharap rahmat dari Tuhanku."

Langkah terakhir (ke-7) berupa bisikan halus, "Katakan hai bani Adam: Jika aku sudah ditakdirkan ke surga, untuk apa lagi beribadah? Dan jika aku sudah ditakdirkan ke neraka, apa gunanya menahan gejolak syahwat dunia?"

Inilah tahap ketujuh yang paling berbahaya dari langkah-langkah setan. Sehingga banyak yang terjebak, menyangka dan mengaku penduduk tetap surga Firdaus. Lalu tidak lagi salat, tidak berpuasa, tidak berzakat karena sudah mendapat tiket ke surga. Bagi yang diberi ilmu paham oleh Allah akan menangkis dengan kalam Tuhan. "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam." (Al-An'am:162).

Demikian literasi ini mengetengahkan tujuh tahap tipuan setan beserta daya tangkal. Semoga bermanfaat, insya Allah.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak; dan dosen Politeknik Negeri Sambas.

Editor : Hanif
#halusinasi #amal ibadah #tipuan #hamba