Oleh: Kristoforus Bagas Romualdi*
Dalam dua dekade terakhir, lanskap pendidikan global telah terseret arus teknosentrisme yang memandang perangkat digital sebagai penawar ajaib bagi segala masalah pembelajaran di ruang kelas. Sekolah dan pemangku kebijakan berlomba-lomba mengadopsi aplikasi terbaru, gamifikasi, hingga virtual reallity dengan harapan alat-alat ini secara otomatis mendongkrak motivasi siswa. Fenomena ini menciptakan ilusi silver bullet, sebuah asumsi bahwa jika siswa merasa bosan, solusinya adalah menyuntikkan visual meriah melalui media canggih. Namun, pandangan ini sejatinya mengabaikan realitas kompleks bahwa masalah pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya dengan kode biner, melainkan membutuhkan sentuhan humanis yang mendalam.
Hanya saja, kesenjangan persepsi yang mengkhawatirkan sering terjadi antara pendidik dan siswa mengenai akar masalah motivasi di ruang kelas. Banyak guru mendiagnosis "kebosanan" siswa sebagai akibat kurangnya hiburan visual, sehingga respons yang muncul adalah membanjiri kelas dengan media interaktif. Padahal, siswa sering kali kehilangan minat bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena hilangnya koneksi emosional dan relevansi materi dengan kehidupan nyata. Artinya, ketika diagnosis masalahnya keliru, obat berupa media pembelajaran secanggih apa pun tidak akan efektif menyembuhkan penyakit pedagogis yang sebenarnya.
Keyakinan berlebihan pada media pembelajaran ini sering kali berakar pada bias kognitif bernama Motivation Primacy, yaitu anggapan bahwa multimedia efektif semata-mata karena memotivasi. Pendidik kerap mencampuradukkan situational interest atau ketertarikan sesaat akibat rangsangan visual dengan motivasi belajar mendalam yang dibutuhkan untuk pemrosesan kognitif.
Video animasi mungkin mampu menyita perhatian siswa selama lima menit pertama, namun hal tersebut tidak menjamin terjadinya pemahaman konsep yang bermakna. Tanpa desain pedagogis yang kuat, media hanya berfungsi sebagai pemanis yang mengalihkan perhatian siswa dari substansi materi pelajaran.
Ketergantungan pada alat digital sering kali menjebak proses pembelajaran dalam Novelty Effect atau efek kebaruan yang bersifat sementara. Hal itu dikarenakan antusiasme siswa saat menggunakan teknologi baru sering kali merosot kembali ke titik awal setelah masa pengenalan selesai.
Artinya, siswa mungkin antusias mengejar lencana digital dalam sebuah aplikasi, namun motivasi dangkal ini akan lenyap begitu rasa penasaran terhadap alat tersebut hilang. Sehingga, jika pembelajaran tidak dibangun di atas makna dan tantangan intelektual riil, teknologi hanya akan menjadi distraksi yang memperbesar beban kognitif tanpa hasil sepadan.
Merujuk pada fakta empiris dari meta-analisis John Hattie yang melibatkan jutaan siswa, terlihat bahwa data statistik menunjukkan Collective Teacher Efficacy atau keyakinan kolektif guru memiliki ukuran dampak hampir empat kali lipat lebih besar dibandingkan rata-rata intervensi teknologi. Hierarki bukti ini menegaskan bahwa investasi pada kapasitas dan keyakinan guru memberikan imbal balik pembelajaran yang jauh lebih tinggi daripada belanja perangkat keras. Teknologi hanyalah penumpang dalam kendaraan pendidikan, sementara guru adalah pengemudi utama yang menentukan arah keberhasilan perjalanan.
Perspektif Self-Determination Theory (SDT) semakin memperjelas mengapa media pembelajaran tidak bisa menjadi solusi tunggal untuk persoalan motivasi belajar siswa. Manusia memiliki kebutuhan dasar psikologis akan relatedness atau keterhubungan yang hanya dapat dipenuhi secara optimal melalui interaksi manusiawi penuh empati.
Algoritma aplikasi belajar mungkin bisa memberikan skor, tetapi tidak bisa memberikan tatapan bangga atau dorongan semangat nan tulus yang menjadi bahan bakar motivasi intrinsik pelajar. Sebaliknya, isolasi di balik layar gawai sering kali justru memangkas kebutuhan sosial ini, membuat siswa merasa pintar secara teknis namun kosong secara emosional.
Logika pendidikan harus dikembalikan ke jalur yang benar dengan menggunakan kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) secara proporsional. Dalam kerangka ini, teknologi hanyalah alat bantu yang harus tunduk melayani tujuan pedagogi dan penguasaan konten, bukan sebaliknya.
Guru yang efektif bukanlah teknisi yang mahir mengoperasikan segala jenis aplikasi, melainkan arsitek pembelajaran yang tahu kapan harus menggunakan teknologi dan kapan harus mematikannya untuk berdialog. Pedagogi harus selalu menjadi panglima, di mana pertanyaan pertamanya adalah bagaimana cara terbaik mengajar, bukan aplikasi apa yang sedang tren.
Peran guru sebagai "Humanis Pedagogis" menjadi semakin tak tergantikan, terutama dalam konteks pendidikan Indonesia yang sedang berjuang memulihkan karakter pasca-pandemi. Degradasi etika dan sopan santun yang terjadi akibat dominasi interaksi layar menegaskan bahwa fungsi guru sebagai penjaga moral tidak dapat didelegasikan kepada mesin.
Kehadiran fisik seorang guru yang memberikan umpan balik spesifik dan membangun hubungan personal adalah intervensi paling kuat untuk membentuk siswa tangguh. Di daerah terpencil sekalipun, kehadiran guru berdedikasi jauh lebih berdampak signifikan dibandingkan pengiriman laptop tanpa pendampingan manusiawi.
Obsesi mencari jalan pintas melalui pengadaan alat-alat canggih sudah saatnya dihentikan untuk beralih fokus pada penguatan manusia. Kebijakan pendidikan harus direorientasi dari belanja teknologi menuju pengembangan efikasi guru dan perbaikan kualitas interaksi di dalam kelas. Media pembelajaran memiliki tempatnya sebagai pendukung, namun tidak akan pernah bisa menggantikan kedalaman yang ditawarkan oleh seorang pendidik kompeten. Pendidikan pada hakikatnya adalah pertemuan antar-jiwa, dan para pendidiklah yang menjadi solusi utamanya.**
*Penulis adalah dosen Pendidikan Sejarah Universitas Tanjungpura.
Editor : Hanif