Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Computational Thinking dalam Budaya Lokal Pontianak

Hanif PP • Sabtu, 24 Januari 2026 | 12:18 WIB
Prof.Dr. Herry Sujaini, S.T., M.T
Prof.Dr. Herry Sujaini, S.T., M.T

Oleh: Prof.Dr. Herry Sujaini, S.T., M.T*

Computational thinking sering dipahami sebagai cara berpikir yang hanya muncul dari dunia komputer dan pemrograman. Padahal, pada dasarnya computational thinking adalah kemampuan manusia untuk mengelola masalah, memahami situasi, dan menemukan solusi secara efisien dan logis (Gupta, Salazar and Arias, 2024). Cara berpikir ini tidak lahir secara tiba-tiba bersama teknologi modern, melainkan tumbuh secara alami dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat (Dall’Acqua, 2021). Salah satu contoh menarik dapat ditemukan dalam budaya dan bahasa lokal masyarakat Melayu Pontianak.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pontianak, bahasa digunakan secara sangat kontekstual dan efisien. Kata-kata tertentu tidak selalu memiliki makna leksikal yang tetap, tetapi berfungsi sebagai alat komunikasi yang fleksibel. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata “anok”. Kata ini tidak merujuk pada objek atau tindakan tertentu, melainkan berfungsi sebagai pengganti tindakan, benda, atau bahkan orang, yang maknanya dipahami bersama melalui konteks. Pola ini menunjukkan kemampuan abstraksi yang kuat, yaitu kemampuan menyederhanakan informasi dengan menghilangkan detail yang dianggap tidak perlu.

Contoh kalimat yang sering digunakan masyarakat Pontianak, misalnya, “Tolong anokkan ye!”; “Cobelah tengok si anok tu!”; “Memanglah si anok ni, tak dinaikkannye barang tu.”

Pilar utama pemikiran komputasional adalah abstraksi, dekomposisi, pemikiran algoritmik, dan pengenalan pola. Komponen-komponen ini saling terkait dan penting untuk memecahkan masalah kompleks secara efisien. Penerapannya luas di berbagai bidang dan tingkat pendidikan, serta mendorong pemikiran kritis dan keterampilan pemecahan masalah (Wu and Wu, 2024).

Abstraksi merupakan salah satu pilar utama dalam computational thinking. Dalam bahasa Pontianak, abstraksi tampak ketika pembicara tidak menjelaskan secara rinci apa yang harus dilakukan, tetapi cukup menggunakan satu kata yang sudah dipahami bersama. Hal ini membuat komunikasi menjadi cepat dan efisien. Prinsip yang sama digunakan dalam dunia komputasi, ketika sebuah fungsi atau perintah dibuat tanpa perlu menjelaskan detail proses di dalamnya setiap kali digunakan.

Selain abstraksi, computational thinking juga terlihat dalam kemampuan masyarakat Pontianak melakukan dekomposisi secara alami. Dalam aktivitas sosial seperti gotong royong, pekerjaan besar jarang dikerjakan oleh satu orang. Tugas dibagi secara tidak tertulis berdasarkan kebiasaan dan pemahaman bersama. Setiap orang mengerjakan bagiannya masing-masing, sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan dan terstruktur. Pola ini mencerminkan cara berpikir dekomposisi, yaitu memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah ditangani.

Pengenalan pola juga memainkan peran penting dalam budaya Pontianak. Masyarakat sangat peka terhadap pola bahasa, intonasi, dan sikap. Perubahan nada bicara atau penggunaan partikel tertentu dapat mengubah makna kalimat secara signifikan. Kemampuan mengenali pola ini memungkinkan masyarakat memahami maksud pembicaraan tanpa penjelasan panjang. Dalam computational thinking, pengenalan pola berfungsi untuk memprediksi, mengelompokkan, dan mengambil keputusan berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Aspek lain dari computational thinking tampak dalam adat dan kebiasaan sosial yang dijalankan secara berurutan. Banyak aktivitas budaya di Pontianak mengikuti pola langkah yang konsisten, meskipun tidak tertulis. Cara menyapa orang yang lebih tua, urutan dalam acara keluarga, hingga kebiasaan menerima tamu mengikuti aturan tidak formal yang dipahami bersama. Pola ini menyerupai algoritma, yaitu serangkaian langkah yang dijalankan secara berurutan untuk mencapai tujuan tertentu.

Tradisi saprahan dapat dipahami sebagai contoh penerapan algoritma runtunan (sequential algorithm) dalam kehidupan budaya masyarakat Pontianak. Setiap tahap dalam saprahan dijalankan secara berurutan dan tidak dapat dibalik tanpa mengganggu makna dan kelancaran acara. Proses dimulai dari persiapan bahan dan tempat, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan melalui doa atau sambutan, setelah itu pelaksanaan makan bersama dengan tata cara tertentu, dan diakhiri dengan doa penutup serta kegiatan bersih-bersih. Urutan ini telah menjadi kesepakatan sosial yang dipahami bersama dan dijalankan secara konsisten (Putri, 2019).

Dalam konteks computational thinking, algoritma runtunan adalah serangkaian langkah yang dieksekusi satu per satu untuk mencapai tujuan tertentu. Tradisi saprahan menunjukkan prinsip yang sama, di mana setiap langkah memiliki fungsi dan saling bergantung. Jika satu tahap dilewati atau dilakukan tidak sesuai urutan, tujuan utama berupa kebersamaan, ketertiban, dan keharmonisan sosial tidak akan tercapai secara optimal. Dengan demikian, saprahan bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga representasi nyata dari cara berpikir algoritmik yang hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dari sudut pandang ini, bahasa dan budaya Pontianak dapat dipahami sebagai sistem yang dinamis dan adaptif. Makna sering kali ditentukan pada saat digunakan, bukan sebelumnya. Cara berpikir seperti ini sejalan dengan konsep evaluasi dinamis dalam dunia komputasi, di mana nilai dan makna ditentukan oleh konteks dan kondisi yang sedang berlangsung.

Memahami computational thinking melalui budaya lokal memiliki nilai penting, terutama dalam bidang pendidikan. Pendekatan ini membantu menjembatani konsep teknologi modern dengan pengalaman hidup sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, computational thinking tidak lagi dipandang sebagai konsep asing, melainkan sebagai bagian dari cara berpikir yang sudah lama dimiliki dan dipraktikkan oleh masyarakat.

Melalui budaya dan bahasa Melayu Pontianak, dapat disimpulkan bahwa computational thinking adalah kemampuan universal manusia. Ia hadir dalam cara berbahasa, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Budaya lokal tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi bukti bahwa cara berpikir sistematis dan efisien telah hidup lama sebelum istilah computational thinking dikenal secara akademik.

Computational thinking dapat diasah dengan bantuan aplikasi pembelajaran digital yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mengangkat kearifan lokal sebagai konteks belajar. Salah satu contohnya adalah kodingmu.id, sebuah platform pembelajaran koding yang dirancang khusus untuk anak-anak Indonesia.

Melalui pendekatan yang dekat dengan budaya, bahasa, dan pengalaman sehari-hari peserta didik, platform ini membantu anak memahami konsep berpikir komputasional secara lebih alami dan bermakna. Dengan demikian, proses belajar koding tidak hanya melatih logika dan pemecahan masalah, tetapi juga menumbuhkan rasa kedekatan budaya serta identitas lokal dalam menghadapi perkembangan teknologi modern.**

 

*Penulis adalah dosen di Jurusan Informatika, Fakultas Teknik, Untan.

Editor : Hanif
#bahasa melayu #Abstraksi #efisiensi #pontianak #Computational Thingking