oleh :
Dr.Erdi, M.SidanYustinusRudiyanto, S.Pd; M.Pd; M.Sos
Dosen FISIP UniversitasTanjungpura
Telah bertransformasi menjadi ruang partisipasi publik yang merepresentasikan suara warganet dalam menilai kinerja dan gaya kepemimpinan kepala daerah. Mekanisme penilaian berbasis direct voting dan interaksi digital menjadi “arena pemilihan simbolik” di mana masyarakat mengekspresikan preferensi mereka terhadap figur kepala daerah ideal yang dianggap responsif, komunikatif, dan dekat dengan rakyat.
Dalam konteks ini, legitimasi kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui prosedur elektoral formal, tetapi juga melalui pengakuan sosial yang tumbuh di ruang publik digital. Berdasarkan poling yang dilakukan hingga 30 Desember 2025 dan diumumkan pada 31 Desember 2025, Sujiwo—Bupati Kabupaten Kubu Raya—ditetapkan sebagai pemenang setelah menyisihkan 14 nominator kepala daerah lainnya.
Dasar penilaian warganet mencakup kinerja, ketepatan janji kampanye, komunikasi, serta kebijakan daerah yang pro-rakyat. Pada babak final, Sujiwo berhasil mengungguli kompetitor kuat seperti Fransiskus Diaan (Bupati Kapuas Hulu), Edi Rusdi Kamtono (Wali Kota Pontianak), dan Ria Norsan (Gubernur Kalimantan Barat). Sujiwo unggul pada aspek kinerja birokrasi, perlindungan sosial, dan pembangunan berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinan Sujiwo, Kabupaten Kubu Raya tercatat sebagai lima besar nasional Inspektorat Berkinerja Terbaik tahun 2025, menandakan kuatnya sistem pengawasan dan integritas tata kelola pemerintahan. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya juga menyabet penghargaan Adiwiyata sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah pada isu lingkungan.
Pada tahun yang sama, Pemkab Kubu Raya menerima Paritrana Award yang menegaskan keberpihakan terhadap perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan hingga tingkat desa di bawah kepemimpinan Bupati Sujiwo. Capaian ini menggambarkan kepemimpinan yang berorientasi pada efektivitas kelembagaan dan keberlanjutan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan Sujiwo dalam ajang ini tidak sekadar mencerminkan keunggulan dalam persaingan popularitas, tetapi juga menunjukkan kemampuannya membangun kedekatan nyata dengan masyarakat melalui kinerja yang dirasakan langsung serta komunikasi publik yang konsisten dan terbuka. Gaya kepemimpinan dynamic government (Farazmand, 2001; Siong, 2007) yang dipraktikkan oleh Bupati Sujiwo mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menghadirkan pemerintahan yang responsif di ruang digital.
Kemenangan ini menempatkan Sujiwo sebagai figur kepemimpinan daerah yang berhasil mengonsolidasikan kepercayaan publik, baik secara administratif maupun simbolik, di tengah dinamika demokrasi lokal Kalimantan Barat (Erdi, 2026). Sujiwo menjadi contoh nyata bahwa kaderisasi oleh partai politik tidak berhenti setelah kader mencapai puncak karier, karena seiring waktu publik meletakkan dirinya sebagai milik bersama (Bass & Reggio, 2006).
Melalui proses kaderisasi yang berjenjang dan berkelanjutan, Sujiwo tampil sebagai kepala daerah yang mampu menerjemahkan nilai-nilai ideologis Pancasila ke dalam praktik pemerintahan sehari-hari dengan keberanian mengambil keputusan serta konsistensi dalam pelayanan publik. Keberhasilannya memperoleh pengakuan luas dari masyarakat, termasuk melalui ajang Kalbar Award 2025, menegaskan bahwa kaderisasi politik tidak berhenti pada pembentukan elite, tetapi juga melahirkan legitimasi sosial dan kepercayaan publik.
Penghargaan ini merupakan wujud kepercayaan masyarakat sekaligus apresiasi atas kepemimpinan, dedikasi, dan kinerja dalam mewujudkan visi kepemimpinan yang sukses (Klitgaard & Light, 2005). Penghargaan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai capaian personal, melainkan sebagai amanah publik yang memperkuat komitmen kepemimpinan untuk menghadirkan pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Dukungan dan pengakuan masyarakat melalui ajang ini menjadi dorongan moral bagi Sujiwo untuk terus memperkuat kinerja pemerintahan, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta memastikan setiap kebijakan dan program pembangunan benar-benar berdampak nyata bagi kesejahteraan warga Kabupaten Kubu Raya dan kemajuan Provinsi Kalimantan Barat.
Sujiwo tidak bekerja sendiri. Ia didukung penuh dan ikhlas oleh Wakil Bupati Sukiryanto sebagai back hand andal yang mampu mengurai detail visi dan misi Kubu Raya Melaju. Hasil kerja nyata pasangan Sujiwo–Sukiryanto yang belum berusia satu tahun antara lain penataan Jalan Sungai Raya Dalam (Serdam), Pasar Parit Baru, Tugu Mayor Ali Anyang, Pasar Sungai Rengas, Jalan Trans Kalimantan, Tugu Bandara Supadio, dan lainnya, tanpa perlawanan berarti dari pihak-pihak yang terdampak penataan ruang publik.
Editor : Hanif