Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Aku Memulai “Madrasah” Puasaku

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 22 Februari 2026 | 21:44 WIB

Eka Hendry Ar
Eka Hendry Ar

Oleh: Eka Hendry Ar*.

 

ALHAMDULILLAH dari lubuk hati terdalam dipanjatkan kepada Allah SWT, karena masih dipertemukan kembali dengan bulan Suci Ramadan tahun ini.  Beberapa saudara, kerabat dan sahabat ada yang tidak lagi mendapatkan kesempatan ini, mereka telah ditakdirkan untuk menghadap kepada Sang Pencipta. 

Sebagai manifestasi dari karunia ini, maka dari lubuk hati yang terdalam pula,  “Aku menanamkan komitmen menjadi (ikhtiar) puasa terbaikku untuk-Nya.  Sekiranya ini menjadi puasa terakhirku, maka inilah barangkali “persembahanku” terakhir kalinya. Meskipun sudah dapat kupastikan, sebaik apapun ikhtiarku, tetap saja puasaku akan “compang-camping”.” 

Husnudzanku, Allah tidak akan melihat “compang-camping” puasa kita, karena Ia lebih mementingkan apa yang menjadi komitmen di lubuk hati tertulus kita dan seberapa besar proses mujahadah terbaik yang bisa dilakukana.  Puasa adalah ibadah yang paling personal, sekaligus paling rahasia.  Dan juga termasuk diantara ibadah yang “sulit”.  Sebagai ibadah yang sangat personal, kemurnian puasa hanya diketahui oleh setiap kita dan Tuhan.  Mata manusia dapat kita kelabuhi, tapi tidak dengan “penglihatan-Nya”. 

Puasa menyimpan rahasia antara hamba dan Tuhannya.  Seperti ibadah-ibadah lainnya, dua fakultas bertemu dalam satu nafas, fakultas jasmani dan rohani. Demikian pula puasa, ia merupakan satu tarikan nafas antara peribadatan lahiriah dan ruhaniah.  Menahan (imsak) makan dan minum, hubungan biologis sekaligus mengendalikan hawa nafsu, emosi dan ambisi. 

Menahan tidak makan dan minum saja sudah merupakan pekerjaan yang tidak mudah, apakan lagi menahan dorongan hasrat biologis, terlebih lagi dalam fasilitas yang halal (suami istri). 

Maka tidak sedikit saudara muslim kita yang tidak dapat menjalankan puasa. Karena tidak kuat meninggalkan kebiasaan sehari-hari tersebut. 

Kemudian, katakanlah kita mampu menahan makan dan minum, maka tugas berikut yang lebih berat adalah mengendalikan hawa nafsu, emosi dan ambisi. 

Mempuasakan lisan untuk tidak berkata-kata yang buruk, mata untuk tidak melihat yang dilarang oleh agama, telingga untuk tidak mendengarkan hal-hal yang tidak berguna dan mengandung dosa.  Mempuasakan tangan untuk tidak melakukan perbuatan yang tercela.  Menjaga kaki untuk tidak berjalan ke arah maksiat.

Sekiranya kita berhasil menjaga dari indera-indera tersebut, maka tugas berikutnya lebih sulit lagi adalah menjaga dan mengendalikan hati dan pikiran. 

Pikiran dan hati merupakan salah satu fakultas dalam diri manusia yang paling sukar dikendalikan, karena ia memiliki kebebasan yang besar. 

Jasmani kita boleh terbatas dan terkurung dalam “penjara” yang dzahir, namun tidak dengan keduanya.  Mata dzahir terbatas sampai kepada objek yang terlihat, namun pikiran dapat menembus di balik batas tersebut.  Imajinasi pikiran manusia bisa melesat ke semesta, melampaui batas ruang dan waktu. 

Apakah puasa juga harus mengendalikan pikiran? Jelas, puasa juga berarti mengendalikan pikiran, karena meskipun pikiran tempat tumbuh gagasan dan idea yang besar untuk kemajuan, namun di tempat yang sama juga bisa terbit keinginan dan kehendak untuk merusak.

Bagaimana Hitler dengan ide gilanya nazisme lahir dari pikiran yang buruk, jahat dan cenderung merusak (fasad).  Keinginan untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita (seperti mencuri, menimpu, korupsi, mendominasi, menghegemoni), akan berawal dari kehendak, ide dan reason yang dibangun dalam pikiran kita. 

Pikiran bisa secara akrobatik menjustifikasi sesuatu yang buruk, dengan argumen pembenar, sehingga kita terdorong melakukan sesuatu yang buruk. Banalitas kejahatan, bermula dari pikiran yang dikendalikan dan segaja dibuat monolitik untuk melegitimasi kehendak dan kepentingan kita. 

Oleh karenanya, puasa Ramadan juga menjadi madrasah atau kampus untuk mengendalikan alam pikiran, agar ia tidak menjadi berhala di dalam tubuh manusia.

Demikian juga dorongan yang di dalam dada kita (hati), ia juga sama dahsyatnya dengan pikiran.  Hati manusia adalah tempat kasih sayang dan cinta tumbuh bersemi, namun padanya juga tempat yang sama  tumbuhnya amarah, kebencian, dendam, iri, dengki dan ambisi.

Nabi memberikan umpama, jika segumpal daging (qalb) ini rusak, maka rusaklah semua tubuh manusia.  Namun sebaliknya, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh manusia.  

Melalui puasa Ramadan, kita juga diwajibkan untuk berupaya membersihkan, mengendalikan dan memadamkan penyakit-penyakit di dalamnya (memadamkan api amarah, kebencian, iri dengki dan dendam kesumat). 

Dengan puasa kita juga dilatih untuk mengendalikan kekang ambisi yang berprilaku seperti kuda euforia yang baru lepas dari kandang.  Karena dalam pikiran dan hati manusia tempat tumbuh berbagai ambisi, ambisi untuk berkuasa, ambisi terhadap harta benda, ambisi untuk yang terkemuka. 

Ambisi bukan sekedar cita-cita, bukan sekedar keinginan, tetapi ia merupakan dorongan syahwat yang besar dan dahsyat, sekaligus memiliki daya hancur yang besar baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.  Oleh karenanya, ia perlu dikendalikan sedemikian rupa.

Demikianlah madrasah puasa kita lalui, bertahap dari satu level yang “sulit” hingga ke level yang “lebih sulit” dan “tersulit”.  Meskipun “sulit”, namun bukan mustahil untuk dicapai.  Tentu dengan segala kerendahan hati kita capai atas pertolongan dan ridha Allah SWT. 

Mengapa manusia beriman mampu memikul tugas berat ini, karena ada energi keimanan. Ada pengharapan dan keyakinan bahwa, ridha Allah harus diperjuangkan, harus direngkuh dengan kerja keras (mujahadah).  Kaum beriman meyakini Allah memfasilitasi makhluk-Nya untuk mencapai pundi-pundi kemuliaan di sisi-Nya.

Puasa itu istimewa, ia untuk-Ku kata Allah.  Karena tugas puasa sangat berat, ganjarannya sepadan adalah keridhaan Allah. 

Keridhaan adalah maqam tertinggi pengharapan makhluk kepada Khaliqnya.  Semoga kita tidak pernah berputus asa untuk terus berproses dari Ramadan ke Ramadan, guna mengapai janji-Nya, hamba yang bertakwa.  Wa allah a’alam bi shawab.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#ramadan