Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tangisan Para Pembaca Alquran

Miftahul Khair • Selasa, 3 Maret 2026 | 13:05 WIB

Ma’ruf Zahran Sabran
Ma’ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran*

 

SEMAKIN menderu suara Alquran menyambut akhir Ramadan. Ibarat berlari, kekuatan maksimal dikerahkan supaya berhasil meraih garis finis dan menjadi pemenang, terutama memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan karim. Disebut karim karena ia sangat dimuliakan. Sebab, kedatangan Ramadan mampu mengampuni semua dosa bagi mereka yang shaum dan qiyam.

Qiyamullail dengan pembacaan satu juz dalam satu malam membuat suasana malam semakin sahdu. Cinta dan rindu menyatu, wajah jamaah memerah, basah oleh air mata yang jatuh di pipi, seiring dengan bacaan yang mengalir deras dari lisan para penghafal Alquran yang masih muda belia, di usia sekitar 25–30 tahun. Ribuan jamaah turun ke masjid, meresapi kalam-kalam suci yang terlantun sahdu. Kondisi yang sulit ditemukan di luar bulan suci Ramadan. Ada perasaan tenang, ada perasaan damai. Pikiran menjadi lapang, pikiran menjadi luas. Kondisi batin menemukan diri sejati yang sulit untuk diceritakan kembali. Kegembiraan seakan baru melepas beban berat di pundak.

Alquran mendidik apa saja yang harus dipegang, diikat, lalu dipertahankan, dan apa yang selayaknya dibuang. Sesuatu yang bermanfaat akan menjadi mutiara, sesuatu yang tidak bermanfaat akan menjadi buih di lautan. Besi yang dipanaskan akan menjadi alat atau senjata, sedangkan debu arangnya akan beterbangan.

Siapa yang memahami makna bacaan Alquran, sungguh ia merasakan betapa Allah Swt. sangat sayang kepada orang yang beriman dan sangat kasih kepada seluruh umat manusia. Tidak terhitung lagi, secara langsung Allah Swt. mengajak manusia untuk beriman melalui kisah, perumpamaan, dan sejarah. Mengajak manusia menggunakan akal sehat untuk mengakses alam semesta yang menjadi bukti kemahahadiran-Nya. Kesadaran bahwa manusia menyandang gelar khalifah Allah di bumi untuk memakmurkan bumi, makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Upaya yang menuntut kejujuran, integritas, amanah, publikasi, dan kecerdasan.

Baca Juga: Transisi Desa

Alquran mengisahkan titik balik kesadaran setelah berjalan jauh tersesat arah. Mengutarakan para pendosa yang berlari kepada Allah, maka ia mendapati Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Menjelaskan kehidupan orang-orang yang mengingkari dan mengkhianati Allah dan Rasulullah, yaitu kaum munafik di Madinah. Kisah Fir’aun, Haman, dan Qarun merupakan setali tiga uang yang sama-sama menjadi musuh Allah dan Rasul Musa. Nabi Nuh, Luth, Hud, Saleh, Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Yakub, mereka semua orang-orang yang taat. Dan apa-apa yang diturunkan kepada Musa dan Isa. Ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat dari Yang Maha Pengasih, mereka tersungkur, bersujud, dan menangis.

Betapa banyak kata “menangis” disebut Alquran sebagai tanda takut sekaligus harap kepada Tuhan. Kunci rahasia untuk terhindar dari siksa neraka ialah tangisan memohon kepada Allah agar berlindung dari murka-Nya dan neraka. Kunci rahasia untuk meraih surga adalah tangisan memohon rida-Nya dan surga.

Suasana batin ketika membaca dan mendengar Alquran melahirkan berjuta rasa (sir). Kehalusan batin tersebut muncul dari respons roh terhadap ayat-ayat suci yang merupakan area yang disucikan (wadil muqaddas). Sehingga malaikat tidak sanggup mencatat pahalanya dan setan tidak mampu merusaknya. Respons tersebut terbit karena keikhlasan hati yang tulus ketika hati sudah siap menerima curah tumpah hidayah. Terdapat kehalusan pesan yang mengantar ke otak kecil, lalu ke seluruh tubuh, sehingga tubuh terguncang, kulit meregang, dan air mata berlinang. Kenikmatan yang sulit untuk ditulis, efek dari pembacaan Alquran dan akses jelajah jaringan pikiran dan perasaan. Perpaduan pikiran dan perasaan disebut akal.

Jelas, memaknai Alquran membutuhkan kecerdasan. Sebab, Alquran melampaui waktu, ruang, dan dialog kekinian. Dalam satu ruang, ia berbicara dengan kesatuan roh, hati, dan jasad. Pada lorong waktu, Alquran merelasi masa lalu, masa kini, dan masa hadapan. Sehingga Alquran selalu mutakhir, tidak usang. Destinasi yang luar biasa bagi yang sanggup merasakan sensasi kitab suci. Kondisi yang membuat betah para pembaca yang sedang membaca kitab diri, kitab keluarga, kitab masyarakat, kitab negara, dan kitab semesta.

Ayat yang saling menjelaskan dan surah yang saling menerangkan membuat hati semakin kuat untuk bersama Alquran. Alquran mengundang nalar sehati dan naluri sejati kebaikan. Berdampak menjadikan kitab suci sebagai sahabat. Sahabat solusi ketika diterpa badai masalah. Sahabat sabar bila jiwa terasa gersang karena bertubi-tubi masalah. Sahabat syukur jika lawatan kenikmatan menghampiri sebagai tamu agung bagi jiwa.

Baca Juga: Puasa Otentik

Keseringan membaca Alquran (murottal) memantik hati tenang dan jinak kepada Sang Pemilik Alquran (Allah Swt.). Alquran menjadi tawaran solusi tepat guna. Alquran akan menjadi imam. Imam dalam arti kompas batin di dunia dan akhirat. Alquran sebagai penghibur di alam kubur, pendekat kepada surga, penjauh dari siksa neraka, dalil dan hujah (argumen) di pengadilan Tuhan, penolong bagi para pembacanya.

Jangan lewatkan momen penting Ramadan dengan Alquran. Ibarat saudara kembar, keduanya berjalan seiring, selaras, serasi, sejiwa. Harmoni Ramadan dengan Alquran dan harmoni Alquran dengan Ramadan. Betapa banyak di bulan ini derai air mata tobat bercucuran. Alquran siap melahirkan manusia baru berkat keagungan Ramadan dan Alquran. Para penjahat lalu berubah menjadi para penaat yang tulus berkat Alquran. Pemarah menjadi pemaaf, pendengki menjadi pemurah. Kemudian pemakan harta riba menjadi pensedekah yang bertobat. Pertobatan nasuha hingga akhir hayat.

Bacalah, pahami, hayati, amalkan, dan syiarkan merupakan tugas kemestaan terhadap Alquran. Diawali dengan keseringan mendengar dan membaca, niscaya tumbuh generasi yang mencintai kitab suci. Bahkan, jika ingin turun keberkahan dari atas langit dan dari dalam bumi, syarat utamanya ialah kegemaran membaca Alquran (my hobby). Penduduk suatu negeri yang beriman dan bertakwa menjadi sorotan penting bagi upaya mengundang rahmat Tuhan Yang Maha Pengampun. Penduduk suatu negeri yang kaya raya, tenteram, aman, rezeki berlimpah, bahagia, bertuah, sejahtera, ketenangan, kesenangan, kesehatan, dan kemakmuran yang tercurah berkat Alquran. Tabarakallah.

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Miftahul Khair
#opini #alquran #Ramadan 2026