Oleh: Sholihin HZ*
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Di dalamnya terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Alquran sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan (khairun min alfi syahrin). Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut melebihi ibadah selama sekitar delapan puluh tiga tahun. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh menjemput malam tersebut dengan meningkatkan kualitas ibadah.
Ahli tafsir terkemuka saat ini, Prof. M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa pembahasan tentang Lailatul Qadar tidak bisa dilepaskan dari Surah Al-Qadr dalam Alquran. Surah ke-97 ini menjelaskan bahwa malam itu adalah malam turunnya Alquran dan menjadi simbol kemuliaan wahyu yang diberikan kepada umat manusia.
Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata qadar memiliki beberapa makna penting. Pertama, kemuliaan, sehingga Lailatul Qadar dipahami sebagai malam yang sangat mulia. Kedua, penetapan atau pengaturan, yakni malam ketika Allah menetapkan berbagai urusan kehidupan manusia. Ketiga, kesempitan, karena pada malam tersebut begitu banyak malaikat turun ke bumi sehingga bumi seakan terasa sempit.
Kemuliaan malam ini juga tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh akal manusia. Alquran bahkan menegaskan dengan ungkapan retoris: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa keagungan malam tersebut melampaui kemampuan manusia untuk menggambarkannya secara sempurna.
Persiapan Menjemput Lailatul Qadar
Dalam pandangan Quraish Shihab, Lailatul Qadar ibarat tamu agung. Tamu agung tidak akan datang kepada seseorang yang tidak siap menyambutnya. Karena itu, persiapan spiritual harus dilakukan sejak awal Ramadan, bukan hanya menunggu malam ke-27 atau sepuluh malam terakhir saja.
Para ulama bahkan memberikan perumpamaan yang indah, yakni bulan Rajab adalah masa menanam, Sya’ban masa menyiram, dan Ramadan adalah masa memanen. Artinya, keberkahan Lailatul Qadar biasanya diraih oleh orang-orang yang telah menyiapkan dirinya jauh sebelumnya melalui peningkatan ibadah dan perbaikan akhlak.
Upaya menjemput malam kemuliaan itu dapat dilakukan dengan beberapa langkah sederhana namun mendalam. Pertama, menghidupkan malam dengan ibadah. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak shalat malam, membaca Alquran, dan berdoa pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kedua, memperbanyak interaksi dengan Alquran.
Lailatul Qadar adalah malam turunnya Alquran. Karena itu, membaca, memahami, dan merenungkan Alquran menjadi amalan yang sangat dianjurkan sebagaimana tulisan al Faqir di media ini (9/3/2026). Berikutnya adalah persiapan ruhani kita dengan membersihkan hati.
Quraish Shihab menekankan pentingnya hati yang damai. Orang yang benar-benar memperoleh Lailatul Qadar akan merasakan ketenangan batin serta terdorong untuk melakukan kebaikan. Terakhir adalah memperbaiki hubungan dengan sesama. Kedamaian dalam Surah Al-Qadr (salamun hiya hatta mathla’il fajr) menunjukkan bahwa malam tersebut sarat dengan suasana damai. Kedamaian itu tidak hanya dalam diri, tetapi juga dalam hubungan sosial.
Tanda Orang Mendapatkan Lailatul Qadar
Quraish Shihab mengingatkan bahwa tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar bukanlah fenomena alam atau kejadian mistis. Tanda yang lebih penting justru terlihat pada perubahan diri. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan semakin terdorong untuk melakukan kebaikan dan hatinya dipenuhi kedamaian, jauh dari rasa dengki dan kebencian.
Dengan kata lain, ukuran keberhasilan menjemput Lailatul Qadar adalah transformasi moral dan spiritual dalam kehidupan seseorang. Jika setelah Ramadan seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih baik kepada sesama, maka itu merupakan tanda keberkahan malam tersebut.
Menjemput Lailatul Qadar sejatinya adalah menjemput perubahan diri. Ia bukan hanya malam penuh pahala, tetapi juga malam yang menghidupkan kesadaran bahwa hidup harus diarahkan menuju kebaikan dan kedamaian yang lebih luas.
Jika seorang mukmin mampu meraih semangat tersebut, maka Lailatul Qadar tidak hanya menjadi pengalaman spiritual sesaat, tetapi juga menjadi titik awal perjalanan hidup yang lebih bermakna.**
*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak & Penulis Buku “Yang Sedikit Yang Menginspirasi”.
Editor : Hanif