Oleh: Muhammad Habibi*
Ramadan kini berada di tengah dunia yang serba viral. Potongan video ceramah, pernyataan tokoh, hingga perdebatan soal praktik ibadah beredar cepat di media sosial. Dalam beberapa hari terakhir, warganet terbelah oleh cuplikan ceramah yang tersebar tanpa konteks utuh, memicu saling hujat di kolom komentar. Tidak jarang, semangat beragama justru disertai ujaran yang melukai dan informasi yang belum tentu benar. Di tengah situasi itu, puasa menemukan maknanya yang lebih luas: bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ujaran.
Dalam perspektif komunikasi, setiap orang hari ini adalah komunikator publik. Melalui gawai di tangan, siapa pun bisa memproduksi dan menyebarkan pesan. Satu unggahan dapat memengaruhi ribuan orang. Satu komentar bisa memicu konflik. Ruang publik tidak lagi hanya berada di alun-alun atau gedung parlemen, tetapi juga di linimasa dan kolom komentar. Karena itu, kualitas komunikasi menjadi bagian dari kualitas kehidupan sosial.
Puasa sesungguhnya adalah latihan pengendalian diri. Jika perut dilatih untuk sabar, maka lisan dan jari juga perlu disiplin. Menahan marah, menghindari gosip, dan tidak tergesa-gesa menyebarkan kabar adalah bagian dari etika puasa. Dalam konteks media, ini berarti berpikir sebelum berbicara dan menimbang sebelum membagikan.
Masalahnya, budaya media hari ini justru mendorong sebaliknya. Algoritma lebih menyukai konten yang emosional, provokatif, dan sensasional. Berbagai laporan tentang perilaku bermedia menunjukkan bahwa konten yang memicu kemarahan cenderung menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi atau informasi netral. Dalam situasi seperti ini, berbicara tanpa pikir menjadi kebiasaan kolektif. Puasa hadir sebagai kritik kultural terhadap kebiasaan itu. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dikatakan perlu dikatakan.
Etika komunikasi bekerja pada dua lapis, yakni niat dan dampak. Seseorang bisa merasa benar secara niat, tetapi melukai secara dampak. Di ruang digital, kata-kata tidak berhenti pada layar, tetapi membentuk persepsi, memengaruhi emosi, dan memicu tindakan. Karena itu, puasa tidak cukup dimaknai sebagai ritual personal, melainkan harus dibaca sebagai latihan sosial: bagaimana mengelola kata agar tidak berubah menjadi senjata.
Fenomena ini terlihat jelas ketika isu agama, politik, atau identitas dibahas di media sosial. Labeling, stigma, dan hujatan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Ironisnya, hal itu justru terjadi di bulan yang seharusnya menghadirkan kesejukan. Ramadan sering kali hanya berpindah ke kalender, tetapi belum sepenuhnya berpindah ke karakter. Puasa berhenti di lambung, tidak naik ke pikiran.
Padahal, puasa mengandung pelajaran empati. Orang yang lapar lebih mudah memahami perasaan orang lain. Dalam komunikasi, empati berarti mencoba melihat dari sudut pandang lawan bicara. Bukan sekadar ingin menang argumen, tetapi ingin menjaga relasi. Bukan hanya ingin didengar, tetapi juga mau mendengar. Tanpa empati, komunikasi berubah menjadi arena adu keras suara, bukan ruang berbagi makna.
Puasa juga mengajarkan disiplin. Ada waktu sahur, ada waktu berbuka. Ada batas yang tidak boleh dilanggar. Prinsip ini relevan dalam bermedia. Informasi hari ini dikonsumsi tanpa jeda dan dibagikan tanpa verifikasi. Akibatnya, hoaks, potongan video tanpa konteks, dan narasi menyesatkan mudah menyebar. Ramadan seharusnya melatih kita untuk memperlambat arus itu: membaca sebelum membagikan, memeriksa sebelum mempercayai, dan berpikir sebelum mengomentari.
Dalam ajaran Islam, menjaga lisan bukan sekadar etika pribadi, tetapi tanggung jawab sosial. Alquran mengingatkan agar kaum beriman berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan). Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam. Prinsip ini sangat relevan di era media: berbicara adalah tindakan publik, dan diam sering kali lebih bijak daripada menyulut konflik.
Dalam perspektif komunikasi publik, Ramadan dapat dipahami sebagai proyek literasi etika. Ia mengajarkan bahwa komunikasi yang baik bukan yang paling keras, tetapi yang paling tepat. Bukan yang paling cepat, tetapi yang paling benar. Bukan yang paling viral, tetapi yang paling bermanfaat. Jika nilai ini hidup, Ramadan tidak hanya mengubah individu, tetapi juga memperbaiki kualitas percakapan publik.
Makna kebahagiaan orang berpuasa juga relevan dengan cara kita berkomunikasi. Saat berbuka, kebahagiaan lahir dari hal sederhana: segelas air dan sebutir kurma. Ini mengajarkan moderasi. Dalam dunia media, moderasi berarti tidak harus merespons semua notifikasi, tidak perlu ikut setiap perdebatan, dan tidak wajib mengomentari semua isu. Menahan diri dari kelelahan informasi adalah bentuk puasa modern.
Di sisi lain, media memiliki peran penting dalam membingkai Ramadan. Tayangan religi, ceramah, dan konten inspiratif dapat menjadi sarana pendidikan publik. Namun ketika Ramadan dipersempit menjadi sekadar komoditas rating dan iklan, pesan moralnya berisiko dangkal. Pesan agama kalah oleh kemasan hiburan. Padahal, media seharusnya menjadi mitra dalam membangun kesadaran, bukan sekadar pasar bagi simbol-simbol religius.
Ramadan juga mengajarkan nilai diam. Dalam komunikasi, diam bukan berarti pasif, tetapi reflektif. Diam memberi ruang berpikir. Diam mencegah luka. Diam menunda konflik. Jika budaya ini dibawa ke ruang digital, kita akan melihat pergeseran dari debat ke dialog, dari hujatan ke hujjah, dari sensasi ke substansi.
Pada akhirnya, puasa adalah praktik sosial. Ia mengatur hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus hubungan manusia dengan manusia. Dalam konteks media, hubungan itu terjalin melalui kata, gambar, dan simbol. Menahan lapar membersihkan tubuh. Menahan ujaran membersihkan relasi sosial.
Ramadan ini, kita bisa memulai dari hal-hal kecil: tidak ikut menyebar potongan video tanpa konteks, tidak tergesa-gesa membagikan kabar yang memancing emosi, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan olok-olok. Jika setiap orang mau menahan satu komentar yang berpotensi melukai, ruang publik akan terasa lebih sehat.
Jika Ramadan hanya mengubah jadwal makan, ia kehilangan daya transformasinya. Tetapi jika Ramadan mengubah cara kita berbicara, menulis, dan menyikapi perbedaan, ia menjadi kekuatan peradaban. Di tengah dunia yang gaduh oleh opini dan amarah, puasa mengajarkan seni komunikasi yang paling sulit: menahan diri.
Mungkin inilah makna puasa yang paling aktual di era viral. Bukan sekadar membuat tubuh ringan, tetapi membuat ruang publik lebih sehat. Dari sinilah Ramadan menemukan relevansinya: bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai sekolah etika komunikasi.**
*Penulis adalah dosen Komunikasi Politik dan Media IAIN Pontianak.
Editor : Hanif