Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
Ketidaksiapan menghadapi perubahan menjadi problem tersendiri dalam kehidupan seseorang. Perubahan dari bayi ke masa kanak-kanak, tumbuh gigi, rambut, tulang membesar mengikuti skala, umumnya terjadi penyesuaian yang diawali sakit. Demikian juga pertumbuhan dari remaja dan perkembangan dewasa menuju masa tua. Masa tua ditandai tubuh tidak sekuat dan sesehat dulu, tapi mudah rentan oleh cuaca panas, dingin, dan suasana hati. Mudah tersinggung, cepat marah, tidak mau mengakui kekurangan dan merasa diri masih kuat seperti masa muda. Selain disebabkan oleh raga dan jiwa, juga faktor hormon.
Sebagai saksi sejarah ada yang unik, keunikan Ramadan tahun ini adalah perang. Perang kawasan Timur Tengah yang mengingatkan umat pada perang Badar. Ada beberapa skala yang jika dicermati memiliki unsur kesamaan dan memiliki unsur perbedaan. Kesamaan tersebut, perang Badar terjadi di bulan suci Ramadan tahun ke-2 Hijriah. Sedang serangan Israel ke Iran terjadi pada tanggal 10 Ramadan 1447 Hijriah.
Posisi umat Islam di perang Badar berjumlah 313 orang, sedang musuh berjumlah 1000 orang dengan alutsista yang lengkap. Pihak musuh memiliki pasukan tempur infanteri, kaveleri, artileri, persiapan logistik dan strategi perang yang matang. Pasukan militer musuh dipimpin langsung oleh Umar bin Hisyam (Abu Jahal). Sedang umat Islam terdiri atas masyarakat sipil yang langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW (kekasih dan utusan Allah SWT).
Mengingat semua ajaran agama di dunia telah mengupas tuntas peristiwa akhir kemanusiaan (the end humanity). Ada yang menyebut perang Armageddon, almalhamah alkubro (perang besar), fitnah akhir zaman. Sepakat semua ajaran agama (Yahudi, Nasrani, Islam) bahwa area tempur berlokus di Timur Tengah sebagai negeri-negeri akhir zaman.
Konflik sejumlah negara Arab dan sekitar pasti berdampak ekonomi, politik regional dan internasional, keamanan dan pertahanan pangan dunia. Padahal, di Timur Tengah pula (dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa) sebagai situs sejarah kenabian dan kerasulan, firman Tuhan diturunkan dan misi damai agama disampaikan. Tempat yang banyak terdapat destinasi tempat suci. Bumi tempat kelahiran para utusan Tuhan yang mulia, dan bumi tempat menyimpan jasad mulia para Nabi dan orang-orang saleh.
Jangan heran, perang Badr terjadi saat bulan suci Ramadan, 17 Ramadan tahun-2 Hijrah yang artinya umat muslim sedang menjalani puasa. Pada saat itu, turun lailatul qadar dalam bentuk pasukan yang tidak tampak yaitu tentara malaikat, dipimpin langsung oleh Jibril. Artinya, kondisi global apapun yang riuh di dunia ini, penetapan rencana lailatul qadar untuk setahun ke depan pasti turun. Dengan catatan, guna kemuliaan untuk 82 tahun atau lebih baik daripada seribu bulan.
Perang Iran vs Israel dan USA akan berdampak pada resesi ekonomi global. Genderang perang ditabuh, sejak Asy-Syahid As-Sayyid Imam Ayatullah Ali Khomeini wafat (Teheran, Sabtu, 28 Februari 2026) akibat rudal yang menghantam kediaman sang Imam. Kewafatan Imam Ali Khomeini menyulut api kemarahan bangsa Iran dan froksi-froksi yang tersebar luas di semua wilayah dan belahan dunia. Dunia kembali diguncang bom, tanpa tahu kapan akan berhenti. Atau sebaliknya, eskalasi perang semakin parah dan meluas. Sebab, target tentara Iran adalah menghapus Israel dari muka bumi.
Prediksi dunia akan suram (2030), bila perang tidak berhenti. Manusia hanya bertahan untuk hidup sederhana. Sederhana dalam arti asal bisa pangan dan sandang. Tidak sedikit pemandangan yang menyedihkan, manusia beratap langit dan berlantai tanah (tuna wisma) yang terus merangkak naik jumlahnya. Lapangan pekerjaan sempit, biaya hidup tinggi, dan angka bunuh diri meningkat tajam.
Dunia telah mencapai puncak keberhasilan maksimal (2020). Pasca 2020 kecenderungan dunia menurun secara pelan menuju titik terendah. Bisa disaksikan, manusia semakin korup, semakin brutal mengejar mimpi dan merusak alam. Masa yang sangat ditakuti, ketika manusia saling memangsa untuk meraih ambisi atau sekadar mencari sesuap nasi guna mengganjal perut kosong.
Kemudian, apakah Ramadan tahun ini menjadi awal bagi keterpurukan dan kemiskinan masif? Bila menilik tanda-tanda akhir zaman yang sudah diprediksi (nubuwah) kerasulan? Pasti, sebab kewafatan Rasulullah SAW merupakan tanda pertama semakin dekat kiamat. Mengapa gerangan? Karena setiap Rasul yang diutus, selalu mewasiatkan kedatangan Rasul terakhir yang bernama Ahmad (Muhammad bin Abdullah) sebagai Rasul penutup para Rasul di muka bumi.
Rasul Muhammad ialah Rasul terakhir dan umat Muhammad ialah umat terakhir, Alquran merupakan kitab suci terakhir. Penggunaannya (Alquran) tidak mengenal istilah kedaluarsa, selalu update, tidak outdate. Kitab suci kepunyaan Tuhan, lantaran tidak sanggup diintervensi dan direvisi manusia.
Berdasarkan firman Tuhan, "Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu. Telah Aku tuntaskan nikmat-Ku kepadamu. Dan Aku rida Islam menjadi agamamu. (Al-Maidah:3).”
Islam menuntun akidah, ibadah dan akhlak. Akhlak menjadi candradimuka bagi kebeningan akidah dan menjadi ciri ketulusan ibadah yang diterima Tuhan. Ibadah ritual mengajarkan aplikasi agama dalam bentuk akhlak. Sehingga Rasul memberi garansi kebenaran iman kepada Allah dan hari akhir ialah: Mereka yang memuliakan tamu, memuliakan tetangga, menyambung hubungan silaturahim, berkata yang baik atau diam. Keempat kriteria yang tampil dalam kehidupan sosial. Jelas, agama disamping memiliki dimensi langit (vertikal), juga memiliki dimensi bumi (horizontal).
Keterpaduan dua relasi tersebut menjadi arus utama agama terakhir diturunkan. Dalam rangka menjaga keseimbangan (balance) jasmani dan rohani, bumi dan langit, dunia dan akhirat, Tuhan dan manusia, surga dan neraka. Jika ajaran agama hanya mengajarkan neraka tanpa surga, niscaya mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dimurkai. Bila agama hanya mengajarkan surga tanpa neraka, niscaya mereka termasuk golongan orang-orang yang sesat (tertipu).
Selain menjaga harmoni hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.
Edukasi puasa merupakan pelatihan keseimbangan energi, informasi, materi, ruang dan waktu.
Maksudnya, ibarat roda pedati yang berjalan terus. Waktu jeda penting dalam rangka mengistirahatkan tenaga kuda. Puasa Ramadan diibaratkan berhenti sejenak dari kerja rutin komputer untuk diinstall ulang. Organ tubuh manusia juga perlu istirahat untuk menyegarkan kembali (refreshment) perangkat lahir batin. Menjaga keseimbangan kerja lambung, otak, jantung, paru, hati, ginjal, pankreas, limpa, guna membuang toksin (racun tubuh) di masa peremajaan sel. Masya Allah.**
Editor : Hanif