Oleh: Dr. Patmawati, M.Ag*
TANPA terasa bulan Ramadan memasuki hari-hari akhir. Ramadan merupakan ibadah yang mempertemukan kesadaran sebagai makhluk dengan pemilik kesadaran itu sendiri yakni Dewata Seuwae atau Tuhan Yang Maha Esa, pencipta segala sesuatu baik yang ada di alam dunia maupun alam akhirat. Puasa menjadi arena dharma, arena kewajiban, kebajikan, kebenaran dan kemuliaan.
Puasa seorang hamba karena Tuhan-Nya akan mengantarkan kepada kemuliaan, kebajikan dan keadilan. Pada akhir bulan Ramadan, organ tubuh mendapatkan keadilan, bisa rehat sejenak, dari fungsinya selama ini. Mulut, usus dan lambung memiliki waktu untuk refresh. Puasa Ramadan memberi kesempatan pada tubuh memperbaiki diri, pengaturan ulang metabolisme paling kuat, tubuh akan mendaur ulang sel-sel yang rusak. Dengan kata lain berpuasa adalah terapi yang paling ampuh, tidak butuh biaya, tetapi berefek holistik lahir batin. Perlahan membersihkan racun (detoksifikasi), meningkatkan imun, serta memperbaiki kesehatan organ melalui autofagi.
Puasa harusnya juga menjadi ajang pembakaran aura negatif atau sifat tercela. Jika dalam kehidupan sosial kita pernah, bahkan sering mendapat perlakuan kurang baik dari seseorang, dengan berpuasa kita dilatih untuk menahan diri untuk tidak memiliki kebencian serta dendam. Sejatinya puasa Ramadan adalah madrasah pengendalian diri, tidak hanya sekedar menahan lapar dahaga. Sebagai sarana penyucian jiwa, puasa mendidik pelakunya untuk sabar, memaafkan, dan memperbaiki akhlak, sehingga memupuk kedamaian batin dan hubungan sosial yang lebih baik.
Hal ini menjadi penting ibarat perang kita adalah pemenang. Jika rintangan yang dihadapi selama puasa mampu dilewati karena ketakwaan semata kepada Sang Khaliq, maka puasa akan berdampak kepada tumbuhnya kekuatan spiritual, kekuatan jiwa, ritus dan doa yang diperoleh dari pemilik kehidupan Allah SWT.
Puasa dan Peningkatan Takwa
Puasa dan peningkatan takwa tentu memiliki hubungan erat. Allah SWT secara lugas menjelaskan tujuan akhir puasa dalam Al-Baqarah ayat 183, yakni membentuk kepribadian yang bertakwa, di mana kontrol diri yang dipelajari selama bulan satu bulan lamanya tetap terjaga setelah Ramadan berlalu.
Ketika seorang hamba berpuasa maka ia memasuki dunia parantapa atau penakluk musuh. Musuh terhadap ketidakadilan, kezaliman, dan kebatilan yang sedang merajalela. Mereka selalu berada pada kondisi guilty conscience yakni merasa bersalah, salah satu rasa yang baik, supaya tidak melakukan kesalahan yang sama. Mampu menuju tobatnya Nabi Daud.
Sewaktu Nabi Daud berkuasa, dia mencintai istri rakyatnya dan meminta sang suami menceraikan istrinya, padahal Nabi Daud sendiri sudah memiliki 99 istri. Teguran Allah dilukiskan dalam Surat Shad ayat 21-25. Nabi Daud kedatangan dua malaikat yang menyerupai manusia bersaudara yang sedang bersengketa. Satu orang memiliki 99 ekor biri-biri dan yang satu orang lagi hanya memiliki seekor. Pemilik 99 ekor memenangkan perdebatan di antara mereka berdua, dan meminta milik saudaranya yang seekor tersebut.
Nabi Daud memutus bahwa pemilik biri-biri 99 ekor telah berlaku aniaya karena menginginkan milik saudaranya yang cuma seekor. Setelah Nabi Daud memutuskan barulah dia tersadar bahwa dia pun telah melakukan perbuatan aniaya dengan meminta isteri dari rakyatnya yang hanya seorang sedangkan dia sendiri sudah memiliki 99 orang istri. Untuk menebus kesalahannya, dia melakukan puasa Daud yakni puasa selang seling, sehari makan, sehari puasa.
Dari kisah Nabi Daud telah memberikan pembelajaran untuk menekan keserakahan dalam diri manusia karena makhluk yang paling serakah di dunia ini adalah manusia. Saat manusia makan, tubuh sudah memberi sinyal kenyang tetapi nafsu makan lebih mendominasi, sangat sulit berhenti mengunyah. Akibatnya bermunculanlah berbagai penyakit seperti obesitas, hipertensi, dan asam urat. Binatang buas sekalipun, saat berburu dan mendapatkan mangsa, setelah kenyang dia meninggalkan buruannya dan memberi kesempatan kepada binatang lain untuk makan. Mereka tidak serakah, mereka tetap berbagi dengan binatang yang lain.
Keserakahan manusia, akan menjerumuskannya pada hidup yang sia-sia. Berbagi rezeki di bulan Ramadan bukan hanya anjuran Rasulullah SAW untuk meningkatkan kedermawanan, terutama melalui sedekah, memberi makan berbuka puasa, dan zakat fitrah. Tetapi secara luas berdampak psikologis dan spritual. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. (HR. Tirmidzi).”**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif