Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mudik Lebaran dan Ramadan Hati

Hanif PP • Senin, 16 Maret 2026 | 13:05 WIB

Y Priyono Pasti.
Y Priyono Pasti.

Oleh: Y Priyono Pasti*

Mudik Lebaran untuk merayakan Ramadan hati tinggal menghitung hari. Sejumlah daerah bersiap menyambut kedatangan para pemudik. Sarana infrastruktur dan moda transportasi pendukung mulai disiapkan. Jalan dan pelabuhan pun berbenah demi kelancaran, keamanan, dan kenyamanan perjalanan.

Perjalanan spiritual umat Muslim dalam menunaikan ibadah puasa kini telah sampai di penghujungnya. Setelah menjalani puasa di bulan suci Ramadan yang penuh rahmat dan pengampunan selama sebulan, umat Muslim bersyukur menyambut hari kemenangan, yakni Hari Raya Idulfitri. Untuk merayakannya, tradisi mudik Lebaran menjadi pilihan banyak orang.

Dikutip dari Wikipedia, kata “mudik” berasal dari bahasa Jawa Ngoko, yakni mulih dilik, yang berarti pulang sebentar atau dalam waktu singkat. Tujuan mudik antara lain untuk bersilaturahmi dan bertemu keluarga besar, berbagi rezeki dengan keluarga di kampung halaman, memanfaatkan libur panjang, menunjukkan keberhasilan bekerja di perantauan, berziarah ke makam leluhur, serta merasakan kekhusyukan Salat Idulfitri bersama keluarga dan handai taulan.

Kini jutaan umat Muslim melakukan mudik Lebaran. Survei Kementerian Perhubungan menunjukkan sekitar 143,91 juta orang berencana mudik pada tahun 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,3 juta hingga 1,5 juta orang diperkirakan akan melintasi Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Sementara itu, berdasarkan proyeksi operasional, sekitar 353.901 kendaraan dan 108.952 penumpang pejalan kaki diperkirakan menyeberang dari Sumatera menuju Jawa melalui pelabuhan tersebut.

Melalui tradisi mudik Lebaran, para perantau ingin merekatkan kembali tali persaudaraan dan persahabatan dengan keluarga serta handai taulan di kampung halaman setelah sekian lama berpisah akibat mobilitas sosial dan geografis.

Selain menjadi kesempatan berharga untuk berkumpul bersama keluarga, mudik Lebaran juga merupakan fenomena sosial berskala besar di Indonesia. Tradisi ini ditandai dengan kegiatan silaturahmi, halalbihalal, dan ziarah kubur yang sekaligus berfungsi melestarikan jati diri sebagai anggota komunitas atau suku tertentu, terutama sebagai Muslim.

Bagi kaum urban atau pendatang di kota, budaya urban tidak pernah sepenuhnya menjadi bagian utuh dari biografi mereka. Mereka tetap ingin merawat budaya asal, seperti adat istiadat, bahasa, cara bergaul, cara makan, jenis makanan, kesenian, hingga permainan tradisional. Mudik Lebaran menjadi sarana untuk menghidupkan kembali jati diri sekaligus memenuhi hasrat bernostalgia (Deddy Mulyana, 2016).

Prosesi mudik juga menyegarkan kembali kenangan masa kecil: mengumpulkan makanan untuk berbuka puasa, bermain petasan dan kembang api, ngabuburit, tarawih bersama teman, serta berbuka puasa bersama keluarga tercinta. Lebih dari itu, mudik menegaskan bahwa para pemudik bukanlah manusia-manusia mekanis yang tanpa lelah mengabdikan diri pada uang dan pekerjaan.

Melalui tradisi mudik Lebaran, para pemudik dapat mensyukuri rahmat dan nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus menyucikan hati dari berbagai penyakit batin yang mungkin mengendap selama setahun terakhir.

Kita berharap melalui tradisi mudik untuk merayakan Idulfitri ini, khususnya umat Muslim, mampu “meramadankan” hati. Kita dapat berubah dari sikap pemurung Dukhiram—yang hidupnya dipenuhi peristiwa menyedihkan—menjadi Si Ceria Sukhiram yang percaya pada naik turunnya gelombang kehidupan, menjalani hidup dengan senyum dan pikiran positif.

Agar para pemudik dapat sampai ke kampung halaman dan berjumpa dengan keluarga serta orang-orang tercinta, marilah kita menyampaikan doa tulus bagi mereka sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Melalui momentum Idulfitri ini, marilah kita saling mendoakan, meningkatkan amal ibadah dan perbuatan baik, serta memperkuat semangat toleransi antarumat beragama di bumi Indonesia yang majemuk.

Melalui tulisan ini, penulis juga memanjatkan doa bagi saudara-saudara umat Muslim yang tengah melaksanakan mudik Lebaran:

“Ya Tuhan Yang Mahabaik, Mahakasih, dan Mahabijaksana, Engkau mengetahui keinginan hamba-hamba-Mu yang sedang melakukan perjalanan mudik. Kini jutaan hamba-Mu memulai perjalanan panjang menuju kampung halaman untuk merayakan Idulfitri yang suci bersama keluarga dan handai taulan mereka.

Berilah mereka kesehatan dan kekuatan. Limpahkan rahmat-Mu, sertai perjalanan mereka, dan berikan keselamatan selama di perjalanan. Jauhkan mereka dan kendaraan mereka dari segala marabahaya, sehingga mereka dapat tiba di tujuan dengan selamat untuk bersilaturahmi dan melakukan halalbihalal bersama keluarga dan kerabat.

Berkatilah, lindungilah, dan jagalah pula para petugas mudik: petugas keamanan, polisi, serta para petugas layanan publik di bidang perhubungan, informasi, dan komunikasi, juga para relawan. Semoga prosesi mudik Lebaran tahun 2026 berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan, dan semoga amal bakti mereka mendapat ganjaran dari Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Mengakhiri tulisan ini, penulis dengan tulus mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Muslim. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT serta senantiasa dilimpahi rahmat dan hidayah-Nya.

Melalui tradisi mudik Lebaran ini, marilah kita membangun toleransi, kebersamaan, serta saling menghargai dan menghormati. Mari pula membangun kebiasaan hidup yang lebih manusiawi, positif, produktif, bermakna, berkeadaban, dan bermartabat.

Marilah kita mengisi kehidupan dengan kasih Tuhan secara terus-menerus, agar hidup kita dipenuhi berkat-Nya. Ketika kehidupan kita dilimpahi kasih karunia Allah, kasih yang sama akan mengalir kepada orang-orang di sekitar kita melalui tindakan nyata.

Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Minal Aidzin Walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita rajut masa depan Indonesia dengan hati yang damai, suasana yang sejuk, serta kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang harmonis, rukun, adil, dan beradab. (*)

 

*Penulis alumnus USD Yogyakarta, guru di SMP/SMA St. F. Asisi, Pontianak, Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
#Idulfitri #Silaturahmi #pulang kampung #Mudik Lebaran #tradisi