Oleh: Sholihin HZ*
RAMADAN hampir berlalu. Bulan yang setiap tahunnya selalu datang membawa cahaya, lalu pergi meninggalkan banyak kenangan dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang sering muncul di hati kita adalah mengapa saat Ramadan kita mampu melakukan begitu banyak kebaikan, tetapi setelah Ramadan berlalu semuanya perlahan menghilang?
Coba kita ingat kembali bagaimana suasana hidup kita selama Ramadan. Pada bulan itu, kita mampu bangun sebelum subuh. Bahkan jauh sebelum azan Subuh berkumandang, banyak di antara kita sudah terjaga. Ada yang bangun untuk sahur, ada yang bangun untuk tahajud, ada pula yang menyempatkan diri membaca Alquran di sepertiga malam. Padahal sebelum Ramadan, bangun lebih awal sering terasa berat. Alarm berbunyi berkali-kali pun kadang tidak cukup kuat untuk membuat kita beranjak dari tempat tidur. Namun saat Ramadan datang, entah dari mana datangnya kekuatan itu. Kita bisa bangun dengan lebih mudah, bahkan terkadang tanpa alarm.
Di bulan Ramadan juga kita mampu berinteraksi lebih dekat dengan Alquran. Banyak orang yang mampu mengkhatamkan Alquran satu kali, bahkan dua atau tiga kali. Mushaf yang sebelumnya sering tersimpan rapi di rak, tiba-tiba menjadi teman harian yang selalu dibuka. Yang menarik, semua itu dilakukan dalam keadaan lapar dan dahaga. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kita menahan diri dari makan dan minum. Secara fisik tentu tubuh tidak sekuat hari-hari biasa. Namun, justru di tengah kondisi seperti itu, kita masih mampu membaca Alquran, bersedekah, mengikuti pengajian, bahkan memperbanyak ibadah lainnya.
Ramadan juga mengajarkan kita tentang disiplin waktu. Perhatikan ketika waktu berbuka tiba. Begitu azan Magrib berkumandang, hampir semua orang segera berbuka. Tidak ada yang berkata, “Nanti saja, lima belas menit lagi.”
Semua ingin berbuka tepat waktu. Kita begitu peka terhadap waktu berbuka, bahkan terkadang sudah menunggu beberapa menit sebelumnya. Hal yang sama juga terlihat pada salat malam Ramadan. Setelah menunaikan Salat Isya dan Tarawih, banyak di antara kita yang masih menambah dengan shalat sunnah, witir, atau qiyamul lail. Masjid-masjid yang biasanya sepi di malam hari tiba-tiba menjadi hidup. Lantunan ayat-ayat Alquran terdengar hingga larut malam.
Ramadan benar-benar mampu mengubah ritme kehidupan kita. Namun pertanyaannya kemudian muncul dengan sangat jujur: jika semua itu mampu kita lakukan selama Ramadan, mengapa setelah Ramadan berlalu kebiasaan itu perlahan hilang? Mengapa bangun sebelum Subuh kembali terasa berat?
Mengapa mushaf Alquran kembali jarang dibuka? Mengapa salat sunnah yang dulu terasa ringan kini terasa sulit? Padahal Allah yang kita sembah di bulan Ramadan adalah Allah yang sama di bulan-bulan setelahnya.
Bisa jadi masalahnya bukan pada kemampuan kita, tetapi pada kesadaran kita. Ramadan sebenarnya telah membuktikan bahwa kita mampu. Kita mampu bangun malam. Kita mampu membaca Alquran lebih banyak. Kita mampu menjaga shalat tepat waktu. Kita mampu menahan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Ramadan seakan ingin mengatakan kepada kita: “Kamu sebenarnya bisa.”
Karena itu, catatan akhir Ramadan seharusnya bukan sekadar rasa haru karena bulan mulia ini akan pergi. Catatan akhir Ramadan seharusnya menjadi titik awal untuk menjaga sebagian dari kebiasaan baik yang telah kita bangun. Tidak harus semuanya. Tetapi jangan sampai semuanya hilang.
Jika selama Ramadan kita mampu membaca satu juz sehari, mungkin setelah Ramadan kita bisa menjaga setengah juz. Jika selama Ramadan kita mampu bangun malam setiap hari, mungkin setelahnya kita bisa melakukannya sekali atau dua kali dalam sepekan. Yang penting, api kebaikan itu jangan sampai padam.
Ramadan ibarat madrasah yang melatih jiwa kita selama satu bulan penuh. Setelah lulus dari madrasah itu, tugas kita adalah membawa pelajaran tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Jika Ramadan berlalu tanpa meninggalkan bekas apa pun dalam diri kita, maka yang hilang bukan hanya Ramadan. Yang hilang adalah kesempatan besar untuk berubah menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah. Semoga Ramadan tidak hanya menjadi kenangan tahunan, tetapi menjadi titik perubahan dalam perjalanan hidup kita. Karena sesungguhnya, yang paling penting bukan hanya bagaimana kita menjalani Ramadan, tetapi bagaimana kita menjaga roh Ramadan setelah ia pergi. Selamat Idulfitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.**
*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak & Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat.
Editor : Hanif