Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

RA Kartini, Kuasa Feminin, dan Tantangannya

Hanif • Selasa, 21 April 2026 | 07:50 WIB
Y Priyono Pasti.
Y Priyono Pasti.

Oleh: Y Priyono Pasti*

Cita-cita luhur RA Kartini yang tertuang dalam buku kumpulan surat-suratnya yang monumental berjudul “Door Duisternis tot Lich”, (Habis Gelap Terbitlah Terang) yang diterbitkan pada tahun 1911 oleh J.H. Abendanon, terus menggema hingga hari ini. Cita-cita mulia itu mampu menginspirasi, menguatkan semangat, membangun harapan, memberikan pencerdasan, pencerahan,  perlindungan, dan pemberdayaan kaum wanita di negeri ini.

Mengenang, memeringati, mengaktualisasikan dan mengontekstualisasikan cita-cita luhur Kartini itu, pada 21 April setiap tahunnya selalu diadakan berbagai acara dan aneka lomba untuk menghargai jasa perjuangan dan pengorbanan RA Kartini yang tiada tara dalam memperjuangkan emansipasi kaum wanita (Indonesia), mengangkat harkat dan martabat wanita serta pelopor kebaikan.

Membuahkan hasil

Hari ini, persamaan hak serta kedudukan wanita dan pria di Indonesia telah menemukan aktualitasnya. Emansipasi wanita di republik ini kian membuahkan hasil. Kini, banyak kaum wanita Indonesia memiliki jabatan strategis dan menduduki posisi penting di berbagai lembaga (institusi) di negeri ini. Beragam lembaga dan sejumlah aktivis wanita terus bermunculan, untuk berjuang membela dan menyuarakan hak-hak kaumnya yang selama ini terpinggirkan.

Beragam jabatan kunci dalam berbagai aspek kehidupan diduduki kaum wanita, baik di sektor pemerintah maupun swasta. Manajer, pimpinan perusahaan, organisasi, partai politik, LSM, duta bangsa, wakil rakyat, camat, bupati/wali kota, gubernur, menteri, cukup banyak wanita yang berkiprah di sana. Bahkan di republik ini, presidennya pernah dijabat oleh seorang wanita, yakni Megawati Soekarnoputri ( Presiden ke-5 RI).

Fakta-fakta tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas betapa sudah banyak perempuan Indonesia yang memiliki kedudukan dan pengaruh yang signifikan bagi masyarakat. Fakta-fakta tersebut kian menegaskan kebangkitan wanita Indonesia di negeri ini. Penguatan peran wanita dalam lingkaran kekuasaan dan kepemimpinan di Indonesia kian membuahkan hasil signifikan yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Gempita kepemimpinan perempuan kian semarak. Merayakan keperempuan (kuasa feminin) menjadi keniscayaan. Selain merayakannya, penguatan perempuan dengan kuasa feminin yang dimilikinya di tengah konstelasi politik budaya patriarkis yang menghimpit kuat menjadi tuntutan agar semakin berdampak.

Dari perspektif gender, dalam pelaksanaan pemilu dan pilkada serentak 2024 yang lalu misalnya, perebutan kursi 542 kepala daerah mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga nasional di seluruh Indonesia,  perebutan 575 kursi di DPR RI, 19.817 DPRD provinsi/kabupaten/kota, dan 136 DPD, banyak perempuan yang menjadi kandidat di dalamnya.

Meskipun prosentasenya masih kecil dibandingkan kaum Adam, kiprah para wanita di dalam lingkaran kekuasaan dan kepemimpinan di republik ini menegaskan bahwa kuasa kaum feminin kian menguat. Kini, persamaan hak serta kedudukan antara wanita dan pria di Indonesia menemukan aktualitasnya. Emansipasi wanita di republik ini semakin membuahkan hasil.

Fenomena menguatnya kuasa feminin dalam lingkaran kekuasaan dan kepemimpinan di negeri ini, di satu sisi memberi penegasan menguatnya kuasa feminin dalam berbagai dimensi kehidupan. Namun, di sisi lain, untuk meningkatkan dan menguatkan karier politik dan memperlebar ruang kepemimpinan perempuan secara signifikan bukan persoalan gampang.

Banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Untuk menduduki posisi eksekutif puncak di suatu kabupaten/kota, apalagi di tingkat provinsi dan di pusat kekuasaan tetap saja ada “kaca” (penghalang) yang tak mudah, bahkan tak gampang mereka pecahkan untuk menggapainya.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan tak mudahnya seorang wanita mendobrak “kaca” penghalang tersebut. Mengkristalisasikan Alice Eagly dan Linda Carli dalam E. Goestiandi (2007), dua faktor utama yang menjadi penyebabnya adalah persepsi dan prasangka yang tak menguntungkan wanita, dan tuntutan kehidupan keluarga yang menyita perhatian dan waktu wanita.

Harus diakui, persepsi dan prasangka masyarakat belum sepenuhnya memberi ruang yang luas bagi kepemimpinan wanita di negeri ini. Masyarakat kita terlanjur percaya pada slogan “Men are from Mars, women are from venus” (buku terkenal karya John Gray, 1992).

Metafora ini menjelaskan bahwa pria dan wanita memiliki perbedaan psikologis mendasar, perbedaan cara berpikir, berkomunikasi, dan menangani masalah sering memicu kesalahpahaman. Pria dan wanita ibarat berasal dari planet berbeda.

Wanita selalu dikaitkan dengan karakter-karakter yang bersifat komunal, seperti penuh  perasaan (baper), ringan tangan, friendly, baik hati, simpatik, sensitif, ramah, dan lemah lembut. Sementara laki-laki dikaitkan dengan perangai-perangai keras, seperti agresif, ambisius, dominan, penuh percaya diri, berdaya tahan tinggi, penuh ketegasan, dan individualistik.

Masyarakat kita masih sering berangggapan, bahwa kepemimpinan yang efektif identik dengan sifat-sifat keras. Akibatnya, wanita acapkali bergulat dengan kondisi ambigu yang sarat dilema. Seorang wanita yang bersikap dan bertindak terlalu komunal dianggap tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. Sebaliknya, bila seorang wanita berperangai terlalu keras (yang sangat yakin dengan ‘power kejantanannya’) dan individualistik dipandang (bahkan dicap) kehilangan watak kewanitaannya.

Selain persepsi dan prasangka sebagaimana yang dipaparkan di atas, tuntutan kehidupan keluarga yang menyita perhatian dan waktu wanita secara signifikan merupakan kendala lain dalam kepemimpinan seorang wanita. Menjalankan tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya, telah menjadi kendala nyata kepemimpinan seorang wanita. Frekuensi pengambilan cuti, izin, dan absensi yang tinggi telah mengurangi “akses” mereka untuk dapat maksimal menjadi seorang pemimpin. Bagaimana menyiasatinya?

Berbagai upaya mesti dilakukan untuk mengakselerasi dan menguatkan seorang wanita menjalankan peran kuasa femininnya (kepemimpinannya secara optimal). Pertama, kepemilikan kompetensi kepemimpinan yang memadai dan terus berupaya untuk meningkatkan dan menguatkannya melalui pengalaman (aksi) dan refleksi mesti menjadi pengarus-utamaan.

Menganalogi Mintzberg, “No one can create a leader in a class-room.” Kecakapan kepemimpinan lahir dari serangkaian pengalaman, pergulatan di lapangan, yang diperkuat oleh refleksi atas pengalaman itu. Interaksi antara pengalaman dan refleksilah yang membuat seseorang mampu mengembangkan seni dan praktik kepemimpinannya. Pemimpin wanita harus menyadari betapa pentingnya hal tersebut dan berupaya melakukannya untuk menguatkan kuasa femininnya.

Kedua, meluruskan cara pandang masyarakat kita terhadap pemimpin wanita dan gaya kepemimpinan yang dikembangkannya. Lembaga pendidikan, LSM, Organisasi Kewanitaan, dan sejumlah lembaga lain yang secita-cita dapat menjadi wadah yang tepat untuk menguatkan kuasa feminin itu.

Ketiga, biarkan wanita mengembangkan gaya kepemimpinan mereka sendiri (their own leadership style), tak perlu membanding-bandingkannya dengan pria pemimpin.

Catatan penutup

Kartini bukan sekadar kebaya. Ia adalah simbol perjuangan emansipasi, pemikiran progresif, dan pendidikan keberdayaan bagi perempuan Indonesia. Kebaya adalah warisan budaya yang merepresentasikan identitas, namun inti peringatan Kartini terletak pada semangat belajar, kesetaraan (gender), dan mimpi yang tak dibatasi, bukan hanya seremonial pakaian tradisional.

Perayaan Kartini modern harus lebih menekankan pada aksi kreatif seperti diskusi, aksi sosial, dan pelatihan digital.  Oleh karena itu, peringatan hari Kartini harus berfokus pada semangat emansipasi, kesetaraan, dan pemberdayaan perempuan dalam pemikiran, bukan hanya seremonial mengenakan kebaya. Peringatan dan perayaan hari Kartini harus memberikan kesadaran reflektif yang mendalam untuk melanjutkan pemikiran dan cita-cita luhurnya, bukan hanya perayaan simbolis-artifisial-karitatif.

Hari ini, kuasa feminin dalam lingkaran kekuasaan dan kepemimpinan memberikan harapan baru dalam dinamika kepemimpinan di negeri ini. Kita, masyarakat (khususnya kaum wanita) tentu semakin bangga akan kuasa feminin dan kiprahnya untuk memajukan daerah yang dipimpinnya dan berkontribusi membangun negeri.

 Mari kita dukung dan memberikan ekosistem kondusif untuk artikulasi kepemimpinan perempuan dengan gaya yang mereka miliki. Mendukung kepemimpinan perempuan, termasuk memberikan kesempatan dan mengatasi hambatan karier yang ada, sangat penting untuk mencapai kesetaraan gender dan memaksimalkan potensi organisasi, institusi, dan pemda (baik tingkat kabupaten maupun provinsi) yang perempuan menjadi pemimpinnya.

Mendukung gaya kepemimpinan perempuan adalah langkah strategis dalam menciptakan lingkungan organisasi, institusi, dan pemda yang lebih inklusif, sehat, dan efektif. Penelitian menunjukkan, pemimpin perempuan sering kali membawa pendekatan yang demokratis, partisipatif, dan transformasional, yang mampu memotivasi tim secara efektif. 

Semoga kuasa feminin di Indonesia memberikan dimensi baru dalam kiprah pelayanannya terhadap masyarakat yang mengedepankan kasih keibuannya, semakin jaya, inspiratif, dan motivatif, sehingga jargon aspiratif yang menyebut masa kini sebagai “millenium wanita” semakin menemukan aktualitasnya. Semoga demikian!**

*Penulis adalah alumnus USD Yogya; guru di SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak.

Editor : Hanif
#inspirasi #cita cita #Habis Gelap Terbitlah Terang #RA Kartini