Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tidak Semua Guru Harus Menjadi Kepala Sekolah

Hanif • Rabu, 6 Mei 2026 | 09:22 WIB
Ilustrasi Guru
Ilustrasi Guru

Oleh: Sigit Aprisama*

Setiap tahun, ribuan guru di Indonesia “naik jabatan” menjadi kepala sekolah. Di atas kertas, ini tampak sebagai kemajuan karier. Namun di balik promosi itu, ada kehilangan yang jarang disadari: ruang kelas perlahan ditinggalkan oleh mereka yang justru paling dibutuhkan siswa.

Selama ini, ada asumsi yang nyaris tak pernah dipertanyakan, yakni menjadi kepala sekolah adalah puncak kesuksesan seorang guru. Narasi ini begitu kuat, hingga perkembangan karier seolah hanya memiliki satu arah, keluar dari kelas menuju jabatan struktural. Akibatnya, guru-guru terbaik justru didorong menjauh dari praktik mengajar, berganti peran menjadi administrator yang disibukkan oleh laporan, rapat, dan beban birokrasi.

Di sinilah letak masalah mendasarnya. Desain karier guru di Indonesia masih bias struktural, menganggap kepemimpinan administratif sebagai satu-satunya bentuk kemajuan.  Padahal, keunggulan mengajar dan kepemimpinan organisasi adalah dua kompetensi yang berbeda. Tidak semua guru hebat akan menjadi kepala sekolah yang efektif, dan tidak semua kepala sekolah berasal dari guru yang unggul di kelas.

Ironisnya, sistem yang ada justru memperlemah keduanya sekaligus. Kelas kehilangan pengajar inspiratif yang memiliki kedekatan pedagogis dengan siswa, sementara sekolah belum tentu mendapatkan pemimpin yang memiliki visi dan kapasitas manajerial yang memadai. Ini bukan sekadar persoalan pilihan individu, melainkan konsekuensi dari kebijakan yang belum memberi ruang pada keragaman jalur karier guru.

Memang, pemerintah telah menyediakan jenjang profesional seperti Guru Madya hingga Guru Utama. Namun dalam praktiknya, jalur ini belum sepenuhnya menjadi pilihan karier yang prestisius. Dari sisi kesejahteraan, pengaruh profesional, hingga pengakuan sosial, posisi tersebut masih kalah dibanding jabatan kepala sekolah. Pesannya menjadi jelas, jika ingin “naik kelas”, tinggalkan ruang kelas.

Pengalaman negara lain menunjukkan pendekatan yang lebih sehat. Di Singapura, guru memiliki tiga jalur karier, yakni jalur pengajaran, kepemimpinan, dan spesialis. Guru yang memilih tetap mengajar dapat berkembang menjadi “master teacher” dengan pengaruh luas terhadap praktik pembelajaran nasional. Di Inggris, skema seperti Advanced Skills Teacher memungkinkan guru berprestasi tetap berada di kelas sambil membimbing rekan sejawat dan meningkatkan kualitas pengajaran secara sistemik.

Pendekatan ini menegaskan satu hal penting, yakni peningkatan karier tidak harus berarti meninggalkan kelas. Indonesia perlu bergerak ke arah yang sama. Pertama, memperkuat jalur karier guru ahli dengan pengakuan yang setara, baik dari sisi kesejahteraan maupun status profesional—dengan jabatan struktural. Kedua, membuka ruang formal bagi guru berpengalaman untuk berperan sebagai mentor, pelatih, atau pengembang kurikulum tanpa harus meninggalkan tugas utama mengajar. Ketiga, memastikan bahwa promosi menjadi kepala sekolah benar-benar berbasis minat dan kompetensi kepemimpinan, bukan sekadar kelanjutan otomatis dari masa kerja atau pilihan yang dianggap paling “naik”.

Bayangkan jika guru terbaik tetap berada di ruang kelas, sekaligus membimbing guru lain, mengembangkan metode pembelajaran, dan menjadi rujukan profesional. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu sekolah, tetapi dapat menjalar ke seluruh ekosistem pendidikan.

Posisi kepala sekolah tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya simbol keberhasilan. Dunia pendidikan membutuhkan lebih banyak guru hebat yang memilih untuk tetap mengajar dan dihargai karena pilihan itu.

Kita tidak kekurangan kepala sekolah. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk merancang sistem yang mengakui satu hal mendasar: menjadi guru hebat di kelas adalah puncak karier itu sendiri.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#pendidikan #kualitas #karier #guru #kepala sekolah