Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Model Beragama Narsistik Eksklusif

Hanif • Rabu, 6 Mei 2026 | 09:26 WIB
Syamsul Kurniawan
Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan* 

Model beragama narsistik-eksklusif merupakan salah satu gejala paling menonjol dalam lanskap keberagamaan kontemporer, terutama di era digital yang ditandai oleh dominasi ruang publik virtual. Dalam model ini, identitas agama tidak lagi diposisikan sebagai sumber makna spiritual, melainkan sebagai instrumen untuk membangun superioritas sosial. Individu atau kelompok yang terjebak dalam model ini cenderung menampilkan diri sebagai representasi kebenaran tunggal. Mereka memproyeksikan citra “paling benar” dan “paling lurus” sebagai bagian dari kebutuhan akan pengakuan.

Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia berakar pada perubahan struktur sosial yang mempertemukan agama dengan logika atensi digital, di mana eksistensi sering kali diukur dari seberapa terlihat seseorang di ruang publik. Dalam konteks ini, agama mengalami transformasi dari ruang kontemplasi menjadi arena kompetisi simbolik. Yang dipertarungkan bukan lagi kedalaman makna, melainkan dominasi representasi.

Untuk memahami dinamika ini secara lebih mendalam, Teori Pilihan dari William Glasser (1998) memberikan landasan penting. Glasser menegaskan bahwa perilaku manusia didorong oleh motivasi internal, bukan semata oleh faktor eksternal. Dalam kerangka tersebut, narsisme beragama dapat dipahami sebagai upaya individu memenuhi kebutuhan dasar, khususnya kebutuhan akan kekuasaan (power) dan pengakuan.

Kebutuhan untuk diakui sebagai “paling benar” merupakan manifestasi dari dorongan internal untuk memperoleh status dan legitimasi di mata orang lain. Pada saat yang sama, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (love and belonging) sering kali disalurkan melalui identifikasi kelompok yang eksklusif, yang justru memperkuat batas antara “kita” dan “mereka”.

Di sinilah problem utama muncul. Ketika agama dijadikan alat pemenuhan kebutuhan psikologis tanpa disertai refleksi kritis, maka ia berpotensi melahirkan sikap eksklusif dan bahkan antagonistik. Model beragama narsistik-eksklusif juga berkaitan erat dengan konsep total behavior dalam Teori Pilihan. Perilaku keagamaan tidak hanya berupa tindakan, tetapi juga melibatkan pikiran, perasaan, dan kondisi fisiologis.

Artinya, klaim kebenaran yang eksklusif bukan sekadar pernyataan verbal, tetapi merupakan hasil dari konstruksi psikologis yang kompleks. Ketika individu terus-menerus menginternalisasi narasi superioritas, maka ia akan bertindak, berpikir, dan merasakan dunia dalam kerangka dikotomis: benar versus salah, kita versus mereka.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, pola ini menjadi sangat problematik karena berpotensi memicu polarisasi sosial. Polarisasi ini semakin diperparah oleh fenomena ujaran kebencian dan penistaan agama yang kerap muncul sebagai ekspresi lanjutan dari narsisme religius. Di ruang digital, pola ini diperkuat oleh algoritma yang cenderung memperbesar konten yang provokatif dan emosional. Akibatnya, ekspresi keagamaan yang eksklusif justru mendapatkan panggung yang lebih luas dibandingkan narasi moderat.

Dalam situasi seperti ini, moderasi beragama menghadapi tantangan serius, karena ia kalah dalam hal daya tarik emosional dan viralitas. Namun, persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan normatif yang menekankan “harus moderat”. Diperlukan pendekatan yang lebih mendasar, yaitu memahami akar psikologis dari perilaku tersebut.

 

Dari Represi Menuju Reorientasi

Di sinilah konsep saya tentang Sublimasi Narsisme Religius menjadi relevan sebagai tawaran teoritik. Konsep ini berangkat dari asumsi saya bahwa narsisme tidak dapat dihapus, karena ia merupakan bagian inheren dari kebutuhan manusia akan pengakuan. Oleh karena itu, strategi yang lebih realistis adalah mengarahkannya, bukan menekannya.

Sublimasi berarti mengubah orientasi narsisme dari keinginan untuk terlihat paling benar menjadi keinginan untuk membawa kebaikan bersama. Dengan demikian, kebutuhan akan pengakuan tetap terpenuhi, tetapi dalam kerangka yang lebih konstruktif.

Dalam perspektif Teori Pilihan, hal ini mengandung implikasi bahwa pilihan individu perlu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan akan kekuasaan (power) dan rasa memiliki (belonging) melalui cara-cara yang tidak merusak relasi sosial, melainkan justru memperkuatnya. Individu tetap memiliki kebebasan (freedom) untuk mengekspresikan agamanya, tetapi dengan kesadaran bahwa ia tidak memiliki kendali atas orang lain.

Kesadaran ini penting, karena menurut Glasser, satu-satunya perilaku yang dapat dikendalikan adalah perilaku diri sendiri. Dengan demikian, beragama tidak lagi diarahkan untuk mengontrol atau menghakimi orang lain, melainkan untuk memperbaiki diri. Jika sublimasi ini berhasil, maka model beragama narsistik-eksklusif dapat bertransformasi menjadi model beragama yang lebih inklusif dan reflektif.

Pada akhirnya, masa depan moderasi beragama tidak ditentukan oleh hilangnya narsisme, tetapi oleh kemampuan manusia untuk mengelolanya agar selaras dengan kebenaran, kejujuran, dan kemaslahatan bersama.

 

*(Penulis adalah Ketua Komisi Pendidikan Keagamaan, Dewan Pendidikan Kalimantan Barat)

Editor : Hanif
#agama #polarisasi #Eksklusif #narsistik #Era Digital