Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Memahami Empat Pesan Takdir Menuju Kebahagiaan

Hanif • Jumat, 8 Mei 2026 | 09:54 WIB
Ma
Ma'ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

KESANGGUPAN memahami empat pesan takdir mengisyaratkan jalan kebahagiaan. Betapa tidak, Tuhan mengatur kehidupan supaya berlangsung dalam keseimbangan. Artinya, tidak akan ada banjir, jika manusia mau membatasi diri untuk tidak menjadikan bumi sebagai objek eksploitasi. Karena turunnya air hujan berdasarkan perhitungan Tuhan secara akurat (bi qadar). Sehingga flora bisa tumbuh, fauna bisa berkembang biak.

Ada empat takdir yang jika sanggup disikapi dengan benar, maka akan membawa kebahagiaan. Jika disikapi dengan salah, maka akan mengundang kesengsaraan tanpa berujung.

Takdir tetap berlaku sesuai dengan naskah, diktum baik atau buruk. Sekarang bagaimana cara

menyikapi takdir sehingga mendatangkan kebahagiaan bukan kesengsaraan.

Pertama, rezeki. Sifat rezeki ada saatnya luas, ada waktunya sempit. Dua keadaan tersebut mendidik akhlak syukur dan sabar. Ibarat dua sisi mata uang, syukur di kala lapang dan sabar di kala

sempit. Tuhan tidak pernah memaksa manusia untuk kaya, jaya, sempurna, hebat. Sebab kelebihan dan kekurangan pasti Tuhan pergilirkan diantara semua hamba-Nya. Bukti luka dan sembuh merupakan dualitas yang membersamai kehidupan manusia. Artinya, kemenangan merupakan saudara kandung kekalahan.

Ekspektasi manusia kadang melampaui batas yang ditentukan Tuhan. Karena manusia patuh kepada hawa nafsunya dan mengikuti hawa nafsu orang lain. Ingin kelihatan "wah," hebat, kaya, berkuasa, pintar, terhormat, terpandang, meskipun harus berhutang. Manusia menjadi tawanan bagi hawa nafsunya sendiri. Manusia merasa malu, bila secara ekonomi lebih miskin dari yang lain. Merasa kurang bila tidak memiliki kelebihan khusus. Kondisi ini bila dibiarkan, akan memantik musibah buruk yang lebih besar lagi. Tatkala manusia belum sanggup berdamai dengan takdir rezekinya sendiri.

Apa pesan batin yang terkandung dalam rezeki Tuhan? Menyimpan rahasia rida kepada-Nya, ikhlas, dan bertawakal setelah berusaha, ikhtiar dan doa. Tuhan mendidik manusia menggunakan media semesta sebagai pesan santun. Seperti peredaran bulan di langit berpengaruh terhadap pasang-surut air laut di bumi. Demikian pula hembusan angin dari selatan ke utara, dan dari utara ke selatan sangat berguna bagi nelayan untuk melaut dan petani dalam bercocok tanam.

Kedua, jodoh. Esensi satu diri memiliki unsur dualitas yang menjadi bukti kreasi kesempurnaan ciptaan Tuhan. "Tuhan yang telah menciptakan, menyempurnakan dan membuat keseimbangan di tubuhmu. (Al-Infitar:7)." Fakta keseimbangan, setiap manusia memiliki karakter maskulin (kebapaan) dan karakter feminin (keibuan). Keseimbangan pada neraca semesta (mizan). Jika bapak ibarat langit, maka ibu ibarat bumi.

Esensinya, takdir berjodoh atau tidak berjodoh di dunia, sudah ditetapkan oleh Allah SWT sejak lima ratus tahun sebelum alam roh. "Adakah telah sampai kepada manusia masa ketika belum ada sesuatu yang dapat disebut? (Al-Insan:1)."

Jika logika takdir tidak mampu dipahami, maka manusia akan terus berperang melawan objek musuh yang tidak nampak yaitu panjang angan-angan. Akal sehat mengajarkan sekeras apapun upaya dan ikhtiar menjodohkan, tatkala takdir mencatat tidak berjodoh, niscaya tidak bertemu jodoh untuk menikah.

Jika naskah takdir menetapkan berjodoh, niscaya berlaku pepatah, "Asam di gunung, ikan

di laut, bertemu dalam kuali." Karena itu, jomblo bukan aib bila itu pilihan waras. Menikah bukan salah, bila disadarkan atas pertimbangan wajar. Semua memiliki resiko, menikah terdapat resiko, tidak menikah ada risikonya.

Ketiga, ajal kematian. Meskipun ajal kematian sudah ditetapkan. Sebagai manusia kita disuruh memelihara kehidupan sebagai anugerah terbesar dari Allah SWT. Dengan cara hidup sehat, tidak merokok, memelihara sanitasi lingkungan, olahraga, pergaulan yang menyenangkan, menjaga  silaturahmi, otak yang tidak terbebani dengan urusan duniawi, keluarga bahagia. Item tersebut ikut

mendukung hidup sehat dan panjang umur. Selayaknya, memerhatikan porsi kerja seimbang. Ada waktu kerja dan ada waktu istirahat. Kerja berlebih menyebabkan tensi jantung tidak beraturan, dan pompa jantung melemah.

Isyarat batin setiap kali melayat prosesi kematian adalah pelajaran bahwa kematian jangan ditakuti, tapi persiapkan iman tauhid dan amal saleh untuk kehidupan setelah kematian. Artinya, pesan setiap kematian mengandung makna pergunakan sisa kehidupan damai untuk ilmu, iman, amal saleh.

Tempat, cara dan waktu kematian sudah ditentukan, ditulis dalam diri setiap jiwa, sehingga tidak mampu untuk menghindar. Seluruh anggota tubuh merupakan kode takdir kehidupan dan kematian yang dijalani, ia akan memberikan sinyal sebelum kematian tiba. Bagi orang yang sadar bahwa kehidupan merupakan saudara kembar kematian. Dengan kata lain, kemanusiaan semesta merupakan naskah skenario ketuhanan.

Dalam firman Tuhan dinyatakan, "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatimu, kendatipun kamu bersembunyi dalam benteng yang tangguh. (An-Nisa':78)." Kematian akan   mendapatimu, karena ia tidak jauh, terdapat di dalam diri setiap manusia.

Keempat, kebahagiaan atau kesengsaraan (surga atau neraka). Kriteria penghuni surga (bahagia) dan penghuni neraka (sengsara) telah dijelaskan Alquran dalam kehidupan dunia dan akhirat. Pilihan bebas terletak di tangan manusia. Tuhan memberi kesempatan kepada manusia untuk memantapkan diri ke surga dengan ketaatan.

Karena ketaatan disadari dan tanpa paksaan. Atau memantaskan diri ke neraka dengan kedurhakaan. Karena kedurhakaan disadari dan tanpa paksaan. Bahkan, banyak manusia yang bangga dengan kedurhakaannya. Keduanya adalah jalan kebebasan untuk menentukan pilihan, sebelum ketuk palu kematian.

Pesan dari kedua tempat tersebut (surga dan neraka) ialah kembalilah kepada Allah wahai orang-orang yang taat, yaitu tobat bagi hamba Tuhan yang sombong di dalam menaati-Nya. Kembalilah kepada Allah wahai orang-orang yang durhaka. Tobat bagi para pendosa. Karena di

dalam balutan dosa terdapat seruan dan tangisan rindu kepada ampunan-Nya. Wallahualam.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#ajal #jodoh #takdir #rezeki #Kehidupan