Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjaga Tenaga Menjelang ARMUZNA

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 17 Mei 2026 | 23:33 WIB
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.

 

Oleh: Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.

MENJELANG puncak pelaksanaan ibadah haji atau fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMUZNA), para petugas haji Indonesia terus mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan aktivitas ibadah sunnah yang terlalu berat.

Imbauan tersebut juga berulang kali disampaikan kepada jemaah asal Kalimantan Barat, baik oleh petugas kloter, tenaga kesehatan, pembimbing ibadah, maupun petugas sektor di Makkah.

Imbauan itu bukan tanpa alasan. Puncak haji merupakan fase paling menguras tenaga dan membutuhkan kondisi fisik yang benar-benar prima.

Sementara itu, suhu di Kota Makkah pada siang hari saat ini telah mencapai sekitar 42 derajat Celsius. Pada titik tertentu, suhu bahkan terasa lebih tinggi akibat pantulan panas dari bangunan, jalan, dan hamparan batu di sekitar Masjidil Haram.

Dalam beberapa hari terakhir, mulai terdapat jemaah yang mengalami berbagai keluhan kesehatan, seperti tekanan darah meningkat, batuk, flu ringan, radang tenggorokan, kelelahan, hingga gangguan akibat dehidrasi.

Sebagian besar kondisi tersebut dipengaruhi proses adaptasi terhadap cuaca ekstrem di Arab Saudi, ditambah aktivitas ibadah yang terlalu dipaksakan, terutama berjalan kaki jauh menuju Masjidil Haram di tengah terik matahari.

Petugas kesehatan haji menyebut cuaca panas dan udara yang sangat kering menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah Indonesia, khususnya jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, maupun gangguan pernapasan. Risiko heat exhaustion hingga heat stroke juga menjadi perhatian serius menjelang ARMUZNA.

Karena itu, jemaah diminta mulai menghemat tenaga. Jika tidak ada kepentingan mendesak, aktivitas menuju Masjidil Haram sebaiknya dikurangi sementara, terutama pada pukul 10.00 hingga 15.00 waktu Arab Saudi ketika suhu berada pada titik tertinggi.

Petugas bahkan menyarankan agar jemaah lebih banyak beribadah di hotel atau musala terdekat demi menjaga kebugaran menghadapi wukuf di Arafah yang merupakan inti pelaksanaan ibadah haji.

Bagi sebagian jemaah, berada di Tanah Suci tentu menghadirkan semangat luar biasa untuk memperbanyak ibadah. Tidak sedikit yang ingin setiap hari melaksanakan umrah sunnah, tawaf, maupun salat berjamaah langsung di Masjidil Haram. Namun dalam kondisi saat ini, menjaga kesehatan justru menjadi bagian penting dari ikhtiar ibadah itu sendiri.

“Hemat tenaga, cukup istirahat, makan tepat waktu, dan minum air putih yang cukup,” demikian imbauan yang terus disampaikan petugas kepada para jemaah menjelang ARMUZNA.

Selain faktor suhu, kepadatan jemaah di Kota Makkah juga semakin meningkat seiring kedatangan jutaan jemaah dari berbagai negara. Kondisi ini membuat mobilitas menuju Masjidil Haram membutuhkan energi lebih besar dibanding hari-hari biasa. Antrean bus, perjalanan kaki, hingga kepadatan saat tawaf dan sa’i menjadi tantangan fisik yang tidak ringan.

Jemaah asal Kalimantan Barat sendiri hingga saat ini secara umum dalam kondisi baik. Meski demikian, petugas kloter terus mengingatkan pentingnya disiplin menjaga pola makan, memperbanyak konsumsi air putih, tidak menunda istirahat, serta selalu menggunakan alat pelindung seperti payung, masker, dan penutup kepala saat berada di luar ruangan.

Di sisi lain, suasana spiritual menjelang puncak haji mulai terasa semakin kuat. Hotel-hotel pemondokan jemaah Indonesia dipenuhi lantunan doa, pembacaan talbiyah, dan berbagai pembekalan terkait teknis pelaksanaan ARMUZNA. Para jemaah tampak mulai mempersiapkan perlengkapan pribadi yang akan dibawa menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Bagi jemaah yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji, fase ARMUZNA menjadi momen yang paling dinanti sekaligus paling berat. Di Arafah, jutaan manusia akan berkumpul di satu hamparan padang luas untuk melaksanakan wukuf sebagai rukun utama haji. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu kerikil, kemudian menuju Mina untuk melontar jumrah.

Seluruh rangkaian tersebut membutuhkan kekuatan fisik, mental, dan kesabaran yang luar biasa. Karena itu, para petugas berharap jemaah mulai mengatur ritme ibadah dan tidak lagi memforsir tenaga untuk aktivitas yang kurang mendesak.

Pada akhirnya, ibadah haji bukan tentang seberapa banyak aktivitas yang dilakukan sebelum puncak haji, melainkan bagaimana jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian rukun dan wajib haji dengan baik, sehat, dan khusyuk.

Menjaga kesehatan menjelang ARMUZNA bukan berarti mengurangi semangat ibadah, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyempurnakan perjalanan spiritual di Tanah Suci. **

 

*) Penulis adalah jemaah haji 2026 asal Kota Pontianak 

 
Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Muzdalifah #indonesia #mina #arafah #haji