Oleh: Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.
PELAYANAN konsumsi menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Di tengah aktivitas ibadah yang padat dan suhu Kota Makkah yang cukup panas, kebutuhan makanan yang sehat, higienis, dan tepat waktu menjadi perhatian serius Pemerintah Indonesia melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M.
Selama berada di Tanah Suci, setiap jemaah haji Indonesia dijamin memperoleh konsumsi tiga kali sehari, yakni makan pagi, makan siang, dan makan malam.
Layanan ini menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan dan stamina jemaah agar dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan baik.
Sejak awal kedatangan jemaah di Kota Makkah, distribusi konsumsi telah berjalan tertib melalui dapur katering yang bekerja sama dengan PPIH Arab Saudi.
Untuk makan pagi, distribusi makanan biasanya mulai diterima di hotel atau pemondokan jemaah sejak waktu subuh. Bahkan ketika para jemaah melaksanakan salat subuh, petugas distribusi sudah mulai menyiapkan dan mengantarkan makanan ke masing-masing sektor dan hotel.
Dengan demikian, setelah selesai melaksanakan salat subuh, para jemaah dapat langsung menikmati sarapan tanpa harus menunggu terlalu lama. Hal ini tentu sangat membantu, terutama bagi jemaah lanjut usia yang membutuhkan keteraturan waktu makan dan istirahat.
Menu sarapan yang disediakan pun cukup akrab dengan lidah masyarakat Indonesia. Selain nasi putih dan lauk pendamping, terkadang jemaah juga mendapatkan menu khas Nusantara seperti nasi kuning maupun nasi uduk yang disajikan lengkap dengan lauk dan pelengkap sederhana.
Kehadiran menu-menu tersebut sering kali menghadirkan suasana hangat dan mengurangi rasa rindu kampung halaman di tengah suasana Tanah Suci.
Demikian pula untuk makan siang, makanan umumnya sudah dibagikan sebelum waktu salat Zuhur tiba. Sementara itu, makan malam biasanya telah diterima jemaah sebelum azan Magrib berkumandang.
Pola distribusi seperti ini dinilai cukup efektif karena memberi kesempatan kepada jemaah untuk mengatur waktu ibadah, istirahat, dan makan secara lebih nyaman.
Yang menarik, pada setiap kotak makanan selalu ditempelkan label informasi waktu batas konsumsi demi menjaga kualitas dan keamanan makanan.
Untuk makan pagi, misalnya, terdapat keterangan bahwa makanan sebaiknya dikonsumsi paling lambat pukul 09.00 waktu Arab Saudi. Sementara makan siang dianjurkan dikonsumsi sebelum pukul 16.00 WAS, dan makan malam paling lambat pukul 21.00 WAS.
Informasi tersebut penting diperhatikan jemaah agar makanan tetap layak konsumsi, mengingat suhu udara Kota Makkah yang cukup tinggi dapat memengaruhi kualitas makanan apabila disimpan terlalu lama di dalam kamar hotel.
Selain tepat waktu, menu makanan yang disiapkan untuk jemaah juga cukup bervariasi. Setiap hari menu berganti secara bergiliran agar jemaah tidak merasa bosan.
Untuk makan siang, misalnya, lauk yang disajikan kadang berupa ayam, daging sapi, maupun ikan yang diolah dengan cita rasa khas Indonesia.
Tidak hanya itu, menu makanan Indonesia tetap menjadi pilihan utama agar sesuai dengan lidah jemaah Nusantara. Nasi, sayur, sambal, serta lauk bercita rasa Indonesia menjadi bagian yang hampir selalu hadir dalam paket konsumsi jemaah.
Petugas kesehatan haji pun terus mengingatkan jemaah agar tidak terlambat makan, memperbanyak minum air putih, dan menjaga pola istirahat yang cukup.
Keteraturan konsumsi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya tahan tubuh, terutama menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMUZNA).
Pelayanan konsumsi selama musim haji bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi juga merupakan bagian dari pelayanan kemanusiaan dan bentuk perhatian pemerintah kepada para tamu Allah.
Di balik setiap kotak makanan yang diterima jemaah, terdapat kerja keras banyak pihak, mulai dari petugas katering, distribusi, hingga pengawasan kualitas makanan yang dilakukan setiap hari.
Semoga seluruh jemaah haji Indonesia senantiasa diberikan kesehatan, kemudahan dalam beribadah, serta memperoleh haji yang mabrur. Amin ya rabbal ‘alamin.
*) Penulis adalah jemaah haji 2026 asal Kota Pontianak
Editor : Aristono Edi Kiswantoro