Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjaga Tenaga di Tengah Panas Makkah

Hanif • Senin, 18 Mei 2026 | 09:13 WIB
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.

Oleh: Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng. 

Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMUZNA), saya mulai benar-benar merasakan bagaimana beratnya perjuangan fisik para jemaah haji di Tanah Suci. Suhu Kota Makkah yang dalam beberapa hari terakhir mencapai sekitar 42 derajat Celsius bukan sekadar angka. Panasnya terasa membakar kulit, terutama ketika berada di sekitar Masjidil Haram pada siang hari.

Di tengah jutaan manusia dari berbagai negara yang memadati Kota Makkah, saya melihat sendiri bagaimana para jemaah Indonesia tetap berusaha menjalankan ibadah dengan penuh semangat. Banyak yang tetap ingin ke Masjidil Haram setiap waktu salat, melakukan tawaf sunnah, bahkan melaksanakan umrah berkali-kali. Kerinduan untuk beribadah di depan Ka’bah memang sulit dibendung.

Namun di sisi lain, saya juga mulai melihat tanda-tanda kelelahan pada sebagian jemaah. Ada yang batuk, flu ringan, radang tenggorokan, hingga mulai mengalami kelelahan akibat kurang istirahat dan dehidrasi. Tidak sedikit pula jemaah yang memaksakan berjalan kaki cukup jauh menuju Masjidil Haram di tengah cuaca yang sangat panas.

Saya memahami betul semangat mereka. Ketika berada di Tanah Suci, rasanya setiap detik ingin dimanfaatkan untuk beribadah sebanyak mungkin. Tetapi saya juga menyadari bahwa puncak ibadah haji yang sebenarnya justru belum dimulai.

ARMUZNA adalah fase yang sangat menguras tenaga. Wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melontar jumrah di Mina membutuhkan kondisi fisik yang benar-benar prima. Karena itu, saya melihat imbauan para petugas haji agar jemaah mulai menghemat tenaga merupakan hal yang sangat penting.

Beberapa kali saya mendengar petugas kesehatan mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri keluar hotel pada pukul 10.00 hingga 15.00 waktu Arab Saudi. Pada jam-jam tersebut, panas Kota Makkah terasa sangat ekstrem. Pantulan panas dari jalan, bangunan, dan hamparan batu membuat suhu terasa jauh lebih menyengat.

Saya juga memperhatikan bagaimana petugas haji Indonesia bekerja tanpa henti mengingatkan jemaah untuk cukup minum air putih, makan tepat waktu, serta menjaga waktu istirahat. Hal-hal sederhana yang kadang dianggap sepele justru menjadi penentu kondisi tubuh menjelang ARMUZNA.

Salah satu hal yang menurut saya sangat membantu adalah layanan konsumsi jemaah Indonesia. Selama berada di Makkah, makanan didistribusikan dengan cukup tertib dan tepat waktu. Bahkan ketika waktu subuh, makanan pagi biasanya sudah tersedia di hotel sebelum jemaah selesai salat.

Bagi jemaah lanjut usia, pelayanan seperti ini sangat berarti. Mereka tidak perlu lagi mencari makanan di luar hotel atau berjalan jauh di tengah kepadatan Kota Makkah.

Saya sendiri beberapa kali merasa terharu ketika melihat menu-menu khas Indonesia hadir di Tanah Suci. Kadang ada nasi kuning, nasi uduk, sambal, atau lauk dengan cita rasa Nusantara. Di tengah suasana jauh dari kampung halaman, makanan seperti itu menghadirkan rasa hangat tersendiri bagi para jemaah.

Selain konsumsi, layanan Bus Shalawat juga menjadi penolong besar bagi jemaah Indonesia. Saya melihat sendiri bagaimana bus-bus itu bekerja hampir tanpa henti mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan kembali lagi ke pemondokan.

Di tengah cuaca panas dan jarak yang cukup jauh, layanan bus ini benar-benar membantu, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Meski demikian, menjelang ARMUZNA, para petugas mulai meminta jemaah mengurangi aktivitas yang tidak terlalu penting. Saya kira imbauan itu sangat bijak. Sebab ibadah haji bukan soal siapa yang paling sering ke Masjidil Haram sebelum puncak haji, melainkan siapa yang mampu menjalankan seluruh rukun dan wajib haji dengan baik dan sehat.

Di hotel-hotel pemondokan Indonesia, suasana spiritual kini terasa semakin kuat. Saya mendengar lantunan talbiyah hampir setiap waktu. Para jemaah mulai mempersiapkan perlengkapan pribadi untuk dibawa ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Ada wajah-wajah penuh harap. Ada pula kegelisahan, terutama bagi jemaah yang baru pertama kali berhaji. Namun di balik itu semua, saya melihat semangat yang luar biasa.

Saya pribadi belajar bahwa menjaga kesehatan di Tanah Suci bukan berarti mengurangi ibadah. Justru itulah bagian dari ikhtiar agar kita mampu menyempurnakan perjalanan spiritual ini hingga akhir.

Semoga seluruh jemaah haji Indonesia selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji. Semoga seluruh langkah, lelah, dan doa di Tanah Suci bermuara pada satu harapan: menjadi haji yang mabrur. Amin ya rabbal ‘alamin. (Penulis adalah jemaah haji asal Pontianak)

Editor : Hanif
#jemaah haji #wukuf #Makkah #Armuzna #Cuaca Ekstrem