Oleh: Prof. Dr. Malik Saepudin, SKM, M.Kes.*
Kasus Hantavirus yang dilaporkan menyebabkan satu warga Ketapang meninggal dunia perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat. Merujuk pemberitaan Kalbar Online pada 13 Mei 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang menyampaikan bahwa pasien sempat dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang dan hasil pemeriksaan laboratorium memastikan adanya infeksi Hantavirus. Informasi tersebut penting karena menunjukkan bahwa kasus ini bukan sekadar dugaan klinis, melainkan telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Namun, masyarakat perlu memahami persoalan ini secara proporsional. Hantavirus bukan penyakit yang penularannya sama seperti COVID-19 atau influenza yang mudah menyebar melalui percakapan, batuk, atau kontak sosial biasa. Sebagian besar infeksi Hantavirus pada manusia berkaitan dengan paparan rodensia, terutama tikus, melalui urine, feses, air liur, atau debu yang tercemar bahan-bahan tersebut. Karena itu, respons yang paling tepat bukan kepanikan, melainkan kewaspadaan lingkungan, pengendalian tikus, serta kebiasaan membersihkan rumah, gudang, dapur, dan tempat penyimpanan makanan dengan cara yang aman.
Dalam konteks Ketapang, kasus ini dapat dibaca sebagai sinyal bahwa penyakit tular rodensia perlu masuk dalam perhatian surveilans daerah. Bila memang tidak ditemukan kasus positif lain di sekitar lokasi, informasi tersebut tentu dapat menenangkan masyarakat. Akan tetapi, kewaspadaan tetap perlu dipertahankan karena keberadaan tikus di lingkungan rumah, pasar, gudang, kebun, atau area penyimpanan pangan dapat menjadi sumber risiko berulang apabila sanitasi lingkungan tidak diperbaiki.
Analisis Dampak Hantavirus
Dampak Hantavirus terhadap kesehatan tidak boleh diremehkan. Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus, kepada manusia melalui kotoran, urine, atau air liur yang mengering. Infeksi ini dapat menimbulkan gejala awal yang mirip flu, seperti demam, menggigil, nyeri otot terutama pada paha dan punggung, serta sakit kepala yang muncul satu hingga delapan minggu setelah paparan.
Pada tahap lanjut, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas berat akibat cairan di paru-paru atau gangguan ginjal serius. Dalam sejumlah kasus, penyakit dapat berkembang menjadi kondisi berat, bergantung pada jenis Hantavirus yang menginfeksi. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa kasus Hantavirus yang terkonfirmasi di Indonesia sejauh ini berkaitan dengan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu sindrom demam berdarah yang berdampak pada fungsi ginjal. Pada kasus tertentu, infeksi juga dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berpotensi mematikan.
Dari sisi keluarga dan masyarakat, satu kasus kematian dapat menimbulkan kecemasan yang besar. Kecemasan ini wajar, tetapi harus dijawab dengan komunikasi risiko yang jernih. Masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa risiko utama bukan berada di dekat pasien dalam aktivitas sosial biasa, melainkan pada lingkungan yang banyak tikus atau saat membersihkan kotoran tikus dengan cara yang tidak aman, seperti disapu dalam kondisi kering atau menggunakan vacuum cleaner.
Bila pesan ini tidak disampaikan dengan baik, masyarakat bisa salah arah: takut kepada pasien atau keluarganya, tetapi justru mengabaikan sumber risiko utama di lingkungan rumah dan tempat kerja.
Bagi pemerintah daerah, dampaknya bukan hanya pada pelayanan klinis, tetapi juga pada kesiapan sistem kesehatan masyarakat. Puskesmas, rumah sakit, laboratorium, pemerintah desa, sektor lingkungan, dan masyarakat perlu bekerja bersama. Kasus ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperkuat deteksi dini demam yang tidak biasa, memperbaiki tata laksana rujukan, meningkatkan edukasi pengendalian tikus, serta memastikan laporan kasus zoonosis tidak terlambat sampai ke dinas kesehatan.
Cara Kerja Penularan
Penularan Hantavirus bermula dari rodensia yang terinfeksi. Tikus tertentu dapat membawa virus tanpa selalu tampak sakit. Virus kemudian keluar melalui urine, feses, dan air liur hewan tersebut. Ketika bahan-bahan itu mencemari lantai, gudang, dapur, makanan, karung, lemari, plafon, atau tempat penyimpanan yang jarang dibersihkan, lingkungan menjadi sumber paparan bagi manusia.
Tidak semua tikus membawa Hantavirus. Tikus baru berisiko menularkan Hantavirus apabila telah terinfeksi dan mengeluarkan virus melalui urine, kotoran, air liur, atau bahan sarangnya. Karena itu, keberadaan tikus tetap harus diwaspadai, tetapi tidak boleh langsung disimpulkan bahwa semua tikus pasti mengandung Hantavirus.
CDC dan WHO menjelaskan bahwa penularan kepada manusia terjadi melalui kontak dengan rodensia yang terinfeksi, terutama melalui urine, kotoran, dan air liurnya. Tikus disebut sebagai reservoir atau pembawa alami Hantavirus. Artinya, virus dapat hidup dan bertahan di dalam tubuh tikus tertentu tanpa selalu membuat hewan tersebut tampak sakit.
Tikus yang terinfeksi tetap dapat bergerak, makan, berkembang biak, dan mencemari lingkungan sekitarnya. Inilah yang membuat tikus berbahaya: bukan karena semua tikus pasti sakit, tetapi karena tikus yang terinfeksi dapat menyebarkan virus tanpa mudah dikenali dari penampilannya.
Tikus bukan berubah menjadi Hantavirus. Yang benar adalah tikus dapat terinfeksi Hantavirus dari tikus lain atau lingkungan yang sudah tercemar. Setelah virus masuk ke tubuh tikus, virus dapat bertahan dan keluar melalui urine, feses, serta air liur. Ketika urine atau kotoran tikus mengering, partikelnya dapat bercampur dengan debu. Jika debu itu terhirup manusia saat membersihkan gudang, rumah kosong, dapur, lumbung, kandang, plafon, atau tempat yang banyak jejak tikus, virus dapat masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan.
WHO menyebutkan bahwa risiko meningkat pada aktivitas seperti membersihkan ruang tertutup dengan ventilasi buruk, bekerja di pertanian atau kehutanan, serta tinggal di rumah yang banyak tikus.
Alur penularannya sederhana: tikus terinfeksi Hantavirus → virus keluar melalui urine, kotoran, atau air liur → lingkungan tercemar → kotoran atau urine mengering menjadi debu → debu terhirup manusia → manusia dapat terinfeksi.
Gigitan tikus juga dapat menularkan Hantavirus, tetapi kasusnya lebih jarang dibandingkan paparan debu atau kontak dengan urine, kotoran, dan air liur tikus.
CDC menegaskan bahwa pengendalian tikus dan pembersihan yang aman merupakan strategi utama pencegahan Hantavirus. Karena kita tidak dapat mengetahui apakah seekor tikus membawa Hantavirus atau tidak, maka pendekatan paling aman adalah menganggap semua jejak tikus sebagai bahan berisiko. Kotoran tikus, urine, sarang, makanan yang digigit tikus, dan debu di tempat yang banyak tikus harus dibersihkan dengan hati-hati.
Meskipun tidak semua tikus membawa Hantavirus, tikus tertentu dapat menjadi reservoir alami virus tersebut. Tikus yang terinfeksi tidak selalu tampak sakit, tetapi dapat mengeluarkan virus melalui urine, kotoran, dan air liurnya. Penularan kepada manusia umumnya terjadi ketika seseorang menghirup debu yang tercemar kotoran atau urine tikus yang sudah mengering, terutama saat membersihkan tempat tertutup seperti gudang, dapur, lumbung, atau area dengan banyak jejak tikus.
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan rumah, menutup makanan, mengendalikan populasi tikus, serta tidak membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu kering atau menggunakan vacuum cleaner karena dapat membuat debu tercemar beterbangan.
Penularan paling sering terjadi ketika partikel dari urine, feses, atau sarang tikus yang telah mengering terganggu dan beterbangan di udara. Situasi ini dapat terjadi saat seseorang menyapu lantai yang banyak kotoran tikus, membersihkan gudang tertutup, membongkar tumpukan barang lama, atau menggunakan alat yang membuat debu beterbangan.
Selain itu, virus juga dapat masuk apabila tangan yang terkontaminasi menyentuh mata, hidung, atau mulut, maupun jika bahan tercemar mengenai luka terbuka. Gigitan atau cakaran tikus juga mungkin menjadi jalur penularan, meskipun lebih jarang.
Penularan antarmanusia pada Hantavirus pada umumnya tidak terjadi. Pengecualian yang dikenal dalam literatur internasional adalah Andes virus di Amerika Selatan yang dalam kondisi tertentu dapat menular antarmanusia. Karena itu, untuk konteks Indonesia dan berdasarkan informasi resmi Kementerian Kesehatan saat ini, penekanan utama tetap pada pencegahan paparan terhadap tikus dan lingkungan yang tercemar, bukan pada pembatasan sosial yang tidak berdasar.
Pernyataan yang Dapat Dikutip Media
“Kasus Hantavirus di Ketapang harus dilihat sebagai peringatan serius bahwa penyakit tular rodensia masih menjadi ancaman nyata. Hantavirus dapat menyebabkan penyakit berat, bahkan kematian, terutama bila pasien terlambat mendapatkan penanganan atau memiliki kondisi kesehatan penyerta. Namun, masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan karena penularan Hantavirus pada umumnya bukan melalui kontak antarmanusia seperti COVID-19, melainkan melalui paparan terhadap tikus, kotoran, urine, air liur, atau debu yang tercemar bahan tersebut.”
“Langkah paling penting saat ini adalah memperkuat kewaspadaan lingkungan. Rumah, gudang, dapur, pasar, tempat penyimpanan pangan, dan area yang jarang dibersihkan harus dijaga agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus. Kotoran tikus jangan langsung disapu dalam keadaan kering karena debunya dapat terhirup. Basahi terlebih dahulu dengan disinfektan, gunakan sarung tangan dan masker, lalu buang limbah secara aman. Pencegahan Hantavirus harus dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar.”
“Pemerintah daerah perlu memastikan penyelidikan epidemiologi berjalan lengkap, termasuk penelusuran sumber paparan, pemantauan kontak lingkungan, edukasi masyarakat, dan pengendalian tikus secara terpadu. Bila tidak ditemukan kasus tambahan, itu tentu kabar baik, tetapi bukan berarti kewaspadaan dihentikan. Justru kasus ini harus menjadi momentum memperkuat surveilans zoonosis dan sanitasi lingkungan di Ketapang.”
Rekomendasi Respons Daerah
Respons daerah sebaiknya diarahkan pada empat langkah utama. Pertama, memperkuat penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui kemungkinan sumber paparan pasien, termasuk riwayat aktivitas, kondisi rumah, keberadaan tikus, dan lokasi yang berpotensi tercemar.
Kedua, meningkatkan edukasi masyarakat tentang cara aman membersihkan kotoran tikus, yaitu tidak menyapu atau menyedot debu secara kering, melainkan membasahi area tercemar dengan disinfektan terlebih dahulu.
Ketiga, memperkuat pengendalian tikus berbasis lingkungan melalui penutupan celah masuk tikus, pengelolaan sampah, penyimpanan makanan dalam wadah tertutup, pembersihan gudang dan dapur, serta perbaikan saluran air.
Keempat, meningkatkan kewaspadaan fasilitas kesehatan terhadap pasien dengan demam akut yang disertai gangguan ginjal, perdarahan, keluhan pernapasan, atau riwayat paparan tikus. Dengan pendekatan ini, pesan kesehatan masyarakat menjadi lebih tepat: tidak menakut-nakuti, tetapi juga tidak menyepelekan.
Kasus Hantavirus di Kabupaten Ketapang perlu diperlakukan serius sebagai peringatan kewaspadaan zoonosis, tetapi tidak perlu dibingkai sebagai wabah yang mudah menular antarmanusia. Fokus utama kewaspadaan dini adalah memutus paparan manusia terhadap tikus, kotoran, urine, air liur, dan lingkungan yang terkontaminasi rodensia.
Dengan demikian, meningkatnya kewaspadaan masyarakat diharapkan dapat menjadi upaya pencegahan yang baik melalui kesadaran individu dan keluarga, serta kesiapsiagaan pemerintah pusat dan daerah melalui Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan dalam menghadapi potensi penyebaran penyakit ini. Semoga seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Barat mampu mengendalikan risiko penularan Hantavirus dengan baik. Semoga. *
*) Penulis adalah ahli epidemiologi dan pemerhati masalah kesehatan masyarakat.
Editor : Hanif