Oleh: Feira Budiarsyah Arief
Saya akhirnya memahami mengapa banyak orang mengatakan bahwa Makkah adalah kota yang berbeda dari tempat mana pun di dunia. Bukan hanya karena di sanalah Ka’bah berdiri dan jutaan umat Islam berkumpul, tetapi karena di kota itu, hati terasa begitu dekat dengan Allah SWT. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Ada harapan yang terasa hidup. Dan ada keyakinan bahwa setiap doa, bahkan yang hanya terlintas diam-diam di dalam hati, didengar oleh-Nya.
Perasaan itu mulai saya rasakan sejak perjalanan haji musim 1447 H/2026 M bersama jemaah asal Kalimantan Barat.
Sandal yang Hilang, Lalu Ditemukan di Makkah
Salah satu pengalaman yang paling membekas justru berawal dari hal yang sangat sederhana: sandal yang tertukar.
Saat berada di Embarkasi Batam sebelum keberangkatan menuju Arab Saudi, saya hendak melaksanakan salat di musala Asrama Haji Batam. Seusai salat, sandal yang saya gunakan ternyata sudah tidak ada. Yang tersisa hanya sandal lain yang bentuknya hampir serupa.
Awalnya saya mencoba mencari ke sana kemari. Bahkan menjelang keberangkatan menuju Bandara Hang Nadim Batam, saya masih menyusuri deretan jemaah laki-laki di aula asrama haji, berharap menemukan sandal tersebut. Panitia juga sempat membantu mengumumkan melalui pengeras suara jika ada jemaah yang merasa sandalnya tertukar.
Namun hasilnya tetap nihil.
Akhirnya saya mengikhlaskan kejadian itu. Dalam perjalanan haji dengan ribuan orang, sandal tertukar memang bukan hal aneh. Saya menganggap mungkin memang itu bagian kecil dari perjalanan yang harus diterima.
Beberapa hari setelah tiba di Makkah, saya masih lebih sering beribadah di masjid dekat hotel sambil menyesuaikan kondisi fisik dan cuaca. Hingga suatu malam, setelah salat Isya berjamaah, saya berjalan keluar masjid sambil memandangi ratusan sandal yang berjajar di pintu masuk.
Entah mengapa, tiba-tiba terlintas dalam hati, “Adakah ya sandal saya di antara sebanyak ini sandal?”
Saya pun melihat lebih teliti. Dan saya terdiam. Sandal yang hilang di Batam itu benar-benar ada di hadapan saya. Persis sandal yang saya cari sejak di embarkasi.
Saya masih ingat rasa haru yang muncul saat itu. Sulit menjelaskan bagaimana sandal itu bisa sampai di sana. Saya tidak tahu apakah pemilik yang tertukar baru menyadarinya setelah berada di Makkah, atau memang Allah SWT sedang menunjukkan sesuatu melalui peristiwa kecil tersebut. Wallahu a’lam.
Namun malam itu saya merasa seperti sedang diingatkan bahwa di Tanah Haram, bahkan lintasan hati yang sederhana pun bisa dijawab oleh Allah SWT.
Tas Tertinggal di Tengah Keramaian Jemaah
Pengalaman lain terjadi ketika saya mendampingi anggota regu yang belum sempat melaksanakan umrah wajib karena masih berhalangan saat pertama kali tiba di Makkah. Setelah menyelesaikan rangkaian umrah sunah, kami sempat makan di area food court sekitar Zamzam Tower.
Suasana sangat ramai. Jemaah dari berbagai negara memenuhi area makan. Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan lokasi, salah satu anggota rombongan tiba-tiba panik karena baru menyadari tasnya tertinggal di tempat makan.
Di dalam tas itu terdapat barang-barang penting.
Kami langsung kembali sambil terus berdoa sepanjang perjalanan. Dalam hati saya hanya berkata, “Ya Allah, kalau memang masih Engkau izinkan, semoga tas itu masih ada.”
Dan sekali lagi, Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya.
Tas itu masih berada di meja yang sama. Tidak berpindah. Tidak hilang. Bahkan seluruh isinya masih utuh meski tempat tersebut sudah digunakan jemaah lain untuk makan.
Rasa syukur yang muncul saat itu sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dipertemukan di Tengah Jutaan Manusia
Di Makkah, saya juga sering mengalami hal-hal yang secara logika terasa nyaris mustahil. Misalnya bertemu orang-orang yang sama sekali tidak direncanakan.
Pernah suatu ketika saya hanya membatin ingin bertemu teman sesama jemaah asal Pontianak. Kadang saya juga teringat sahabat lama, rekan satu kantor, atau sesama dosen yang saya tahu sedang berhaji di waktu yang sama.
Subhanallah, tidak lama kemudian orang yang saya pikirkan benar-benar muncul.
Ada yang tiba-tiba berpapasan saat thawaf di Masjidil Haram. Ada yang bertemu ketika menunggu Bus Shalawat. Ada pula yang tanpa sengaja duduk berdekatan saat makan.
Padahal jutaan manusia berkumpul di Makkah pada waktu bersamaan.
Namun di kota itu, saya merasa Allah SWT begitu mudah mempertemukan siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Ketika Allah Menjawab dengan Cara Tak Terduga
Mungkin bagi sebagian orang, semua itu hanyalah kebetulan-kebetulan kecil. Tetapi bagi saya dan banyak jemaah lain yang merasakannya langsung, pengalaman-pengalaman seperti itulah yang justru menguatkan keyakinan bahwa Makkah memang tempat doa-doa diijabah.
Di kota suci ini, setiap orang datang membawa harapan masing-masing. Ada yang memohon kesehatan, memohon ampunan, meminta keselamatan keluarga, memohon rezeki, keturunan, hingga berharap pulang dengan predikat haji yang mabrur.
Dan sering kali Allah SWT menjawabnya dengan cara-cara yang tidak terduga. Rasulullah SAW bersabda: “Doa yang paling utama adalah doa pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi)
Allah SWT juga berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Perjalanan Hati Menuju Baitullah
Karena itu, bagi saya, perjalanan ke Makkah bukan sekadar perjalanan fisik menuju Baitullah. Ini adalah perjalanan hati. Perjalanan untuk belajar berserah, belajar yakin, dan belajar memahami bahwa Allah SWT begitu dekat dengan hamba-Nya.
Di Makkah, saya belajar bahwa yang dikabulkan Allah SWT bukan hanya doa-doa besar. Kadang justru hal-hal kecil yang tampak sepele menjadi cara-Nya menunjukkan kasih sayang dan kebesaran-Nya kepada seorang hamba.
Semoga seluruh jemaah haji asal Kalimantan Barat dan seluruh jemaah Indonesia diberikan kesehatan, kemudahan ibadah, keselamatan, dan memperoleh haji yang mabrur.
Amin ya rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (**)
Editor : Hanif