Oleh: Dr. Vincensius Darmin Mbula, OFM*
Percayakah kita bahwa hujan deras menyebabkan banjir, atau sesungguhnya hujan hanya sedang berbicara dengan air mata langit tentang luka-luka hutan yang telah kita robek? Setiap tetes yang jatuh dari awan membawa pesan sunyi bahwa sungai meluap bukan semata karena langit terlalu murah hati, melainkan karena bumi kehilangan pelukannya untuk menampung kehidupan. Maka, ketika banjir datang ke Sintang, alam seakan berbisik kepada hati manusia: bukan hujan yang bersalah, tetapi relasi kita dengan ciptaan yang telah lama meminta untuk dipulihkan.
Banjir besar yang terjadi di Sintang memang tampak secara langsung dipicu oleh hujan deras, karena curah hujan yang tinggi meningkatkan volume air sungai, mempercepat limpasan permukaan, dan akhirnya menyebabkan air meluap ke permukiman; namun, jika ditelaah lebih mendalam, hujan bukanlah satu-satunya penyebab, melainkan faktor pemicu yang bekerja dalam suatu jaringan realitas ekologis dan sosial. Kita dapat percaya bahwa hujan deras berkontribusi terhadap banjir berdasarkan fakta empiris dan penjelasan ilmiah dalam bidang hidrologi. Namun, keyakinan itu harus disertai kesadaran bahwa banjir juga dipengaruhi oleh deforestasi di daerah tangkapan air, kerusakan lahan gambut, sedimentasi sungai, tata ruang yang tidak berkelanjutan, dan perubahan iklim global.
Dengan demikian, realitas yang benar bukanlah “hujan menyebabkan banjir” secara sederhana, melainkan “hujan deras bertemu dengan lingkungan yang telah kehilangan daya serap dan daya tahan ekologis.” Dalam perspektif Ekologi Integral sebagaimana diajarkan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato Si', bencana seperti banjir mengungkap bahwa alam tidak pernah bekerja secara terpisah dari tindakan manusia; oleh sebab itu, mempercayai realitas hujan sebagai penyebab banjir berarti juga mengakui tanggung jawab manusia untuk memulihkan hutan, menjaga sungai, dan membangun peradaban cinta yang selaras dengan seluruh ciptaan.
Aktor yang Saling Berjejaring
Menurut Bruno Latour, realitas banjir di Sintang tidak dapat dipahami sebagai akibat linear dari satu sebab tunggal, misalnya “hujan deras menyebabkan banjir.” Dalam kerangka Actor-Network Theory, hujan, sungai, hutan, tanah, kanal, perusahaan perkebunan, kebijakan pemerintah, tata ruang, masyarakat, dan perubahan iklim semuanya adalah aktor yang saling berjejaring dan bersama-sama menghasilkan peristiwa yang kita sebut Banjir. Hujan memang merupakan aktor penting, tetapi ia tidak bekerja sendirian; daya rusak banjir muncul ketika relasi antara berbagai aktor tersebut berubah.
Ketika hutan di hulu berkurang, tanah kehilangan kemampuan menyerap air, sungai mengalami sedimentasi, dan permukiman berkembang di dataran banjir, maka hujan yang sebelumnya merupakan bagian normal dari siklus alam menjadi peristiwa yang menimbulkan bencana. Dengan demikian, bagi Latour, realitas banjir adalah hasil dari perakitan (assemblage) banyak entitas yang saling memengaruhi, bukan sekadar fakta alam yang berdiri sendiri.
Lebih jauh, Latour menolak pemisahan tegas antara “alam” dan “masyarakat.”
Banjir bukan hanya fenomena alam, tetapi kenyataan hibrid yang memperlihatkan bahwa manusia dan nonmanusia hidup dalam keterikatan yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu, pertanyaan “apakah benar hujan menyebabkan banjir?” dijawab dengan nuansa: benar, tetapi hanya dalam jaringan relasi yang memungkinkan hujan bertindak sebagai penyebab. Kita percaya pada realitas hujan yang menyebabkan banjir bukan karena hujan memiliki kekuatan mutlak, melainkan karena bukti ilmiah, pengalaman masyarakat, dan pengamatan lapangan membentuk kesepakatan tentang bagaimana berbagai aktor berinteraksi.
Dalam istilah Latour, fakta ilmiah bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi hasil dari proses kolektif yang menghubungkan data, instrumen, ilmuwan, dan pengalaman hidup warga. Dengan demikian, banjir di Sintang menjadi pelajaran bahwa krisis ekologis adalah persoalan relasional: ketika jaringan antara manusia, sungai, hutan, dan atmosfer terganggu, air hujan yang turun dari langit dapat berubah menjadi pengingat nyata bahwa bumi dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membentuk.
Tubuh Kehidupan
Dalam kosmologi masyarakat Masyarakat Adat Dayak, banjir tidak dipahami semata-mata sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai tanda bahwa relasi antara manusia, hutan, sungai, dan roh penjaga alam mengalami ketidakseimbangan. Hutan dipandang sebagai “tubuh kehidupan” yang menyimpan air, menjaga kesuburan tanah, dan melindungi kampung dari bencana. Karena itu, masyarakat Dayak mengembangkan aturan adat untuk menjaga kawasan hulu, melindungi hutan keramat, membatasi penebangan pohon, dan mengatur pemanfaatan lahan secara bergilir agar tanah memiliki waktu untuk memulihkan diri.
Sistem perladangan tradisional, pembukaan lahan yang terukur, serta penghormatan terhadap sempadan sungai merupakan bentuk pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang hidup bersama alam. Dalam pandangan ini, mencegah banjir berarti menjaga harmoni antara manusia dan seluruh unsur ciptaan, sehingga air hujan dapat diserap oleh tanah dan dialirkan secara alami tanpa menimbulkan kerusakan.
Konsep Dayak untuk mencegah banjir juga bertumpu pada prinsip kolektivitas dan tanggung jawab antar generasi. Keputusan mengenai hutan dan sungai biasanya diatur melalui musyawarah adat dan dipimpin oleh kepala adat yang memastikan bahwa kepentingan bersama lebih diutamakan daripada keuntungan jangka pendek. Nilai seperti gotong royong, rasa hormat terhadap leluhur, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian dari jaringan kehidupan menumbuhkan etika ekologis yang sangat kuat.
Dalam perspektif ini, banjir dipahami sebagai konsekuensi ketika manusia melanggar batas-batas moral dalam memperlakukan alam. Oleh sebab itu, solusi yang ditawarkan bukan hanya teknis, tetapi juga spiritual dan sosial: memulihkan hutan, menjaga daerah resapan air, menaati hukum adat, dan mendidik generasi muda untuk mencintai tanah leluhur. Dengan demikian, kebijaksanaan Dayak menunjukkan bahwa pencegahan banjir yang efektif berakar pada penghormatan mendalam terhadap hubungan timbal balik antara manusia, sungai, hutan, dan seluruh komunitas kehidupan.
Kurikulum
Implikasi konsep ekologis masyarakat Masyarakat Adat Dayak bagi desain kurikulum di sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi adalah perlunya mengembangkan kurikulum yang berakar pada relasi antara manusia, alam, dan budaya. Kurikulum tidak cukup hanya menyajikan pengetahuan tentang banjir sebagai fenomena fisik dalam Geografi atau Hidrologi, tetapi juga harus mengintegrasikan kearifan lokal Dayak mengenai perlindungan hutan, penghormatan terhadap sungai, dan tanggung jawab antargenerasi. Di tingkat sekolah dasar, siswa dapat diajak mengenal siklus air, fungsi hutan, dan cerita rakyat Dayak tentang keseimbangan alam. Di tingkat menengah, peserta didik dapat menganalisis hubungan antara deforestasi, perubahan iklim, dan banjir melalui proyek lintas disiplin berbasis STEAM.
Di perguruan tinggi, mahasiswa dapat mengkaji kebijakan publik, tata ruang, dan pembangunan berkelanjutan dengan menggunakan perspektif Ekologi Integral dan Actor-Network Theory dari Bruno Latour. Dengan demikian, kurikulum menjadi sarana untuk membentuk kompetensi ekologis, kesadaran budaya, dan tanggung jawab moral terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Dalam manajemen ruang kelas, pendekatan ini menuntut guru dan dosen menciptakan lingkungan belajar yang dialogis, kontekstual, dan partisipatif. Kelas dipahami sebagai komunitas belajar tempat siswa dan mahasiswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengamati realitas lokal, berdiskusi, melakukan penelitian lapangan, dan merancang solusi konkret bagi persoalan banjir dan kerusakan lingkungan. Guru dapat menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, refleksi kritis, dan kolaborasi dengan komunitas adat setempat. Tata ruang kelas dapat mendukung pembelajaran kooperatif melalui diskusi kelompok, peta ekosistem, dan dokumentasi hasil observasi lapangan.
Di perguruan tinggi, mahasiswa dapat dilibatkan dalam riset partisipatif bersama masyarakat Dayak untuk mendokumentasikan praktik-praktik konservasi tradisional dan menerjemahkannya ke dalam inovasi kebijakan dan teknologi yang berkeadilan ekologis. Dengan pendekatan ini, ruang kelas menjadi laboratorium transformasi yang menumbuhkan pengetahuan, empati, dan aksi nyata, sehingga peserta didik di semua jenjang pendidikan belajar bahwa mencegah banjir bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga panggilan etis untuk merawat hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan seluruh ciptaan.**
*Penulis adalah Konsultan Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder, Pontianak.
Editor : Hanif