Oleh: Severinus Buang Piran*
Lima puluh hari setelah pesta Paskah, umat Katolik merayakan Pentakosta. Perayaan ini mengingatkan umat pada peristiwa turunnya Roh Kudus atas para rasul. Momen ini menyimpan sejumlah pengalaman iman para rasul bersama Yesus. Perayaan ini bukan peringatan liturgis semata. Ada sebuah perjalanan yang dilalui oleh para rasul mulai dari ketakutan hingga memperoleh keberanian.
Setelah wafat Yesus, para murid hidup dalam ketakutan. Namun, peristiwa kebangkitan, kenaikan, hingga janji tentang Roh Kudus, membawa para rasul kembali memiliki harapan baru.
Perjalanan waktu sepuluh hari dalam penantian terasa cukup menegangkan. Mereka berkumpul untuk berdoa dan memecahkan roti bersama, sambil terus bersolider satu dengan yang lain. Di sinilah kekuatan mereka sebelum turunnya Roh Kudus. Dari sini terlihat bahwa kekuatan pewartaan tidak terletak dalam kekuatan manusia tetapi dari keteguhan dalam iman. Keteguhan ini, membawa mereka hingga terpenuhi harapan akan kedatangan Roh Kudus yang memampukan mereka untuk keluar dan menjadi pewarta dan saksi Kristus di tengah tantangan zaman itu.
Terlepas dari berbagai tafsiran eksegetis, momen-momen ini memberikan gambaran akan dunia yang penuh dengan tantangan dari waktu ke waktu. Pentakosta memberi pesan bahwa tantangan terus berubah seiring perjalanan waktu. Sesingkat sehari atau sejam sekalipun manusia dihadapkan pada berbagai realitas yang bergerak maju dan tidak akan terulang. Karena itu, naif jika mengatakan bahwa manusia selalu mengandalkan diri sendiri dalam setiap tantangan.
Dunia terus berubah dari berbagai aspek kehidupan baik sosial, budaya, politik, dan teknologi. Berbagai perubahan ini secara tidak langsung turut berpengaruh pada cara pandang manusia tentang kebenaran dan penghayatan iman. Karena itu, pertanyaan penting di sini adalah sejauh mana semangat Pentakosta masih mampu menjadi dasar pewartaan Gereja Katolik di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung?
Pentakosta: Berteguh dalam Iman dan Harapan
Kisah Para Rasul menampilkan sebuah kesaksian akan keteguhan dalam iman dan harapan. Hal ini jelas dalam tindakan para rasul. Mereka tetap teguh untuk berkumpul dan berdoa sambil memecahkan roti bersama. Berbagai gejolak perasaan tidak membuat mereka mengingkari Tuhan. Kenaikan Yesus ke Surga tidak menghapus kepercayaan mereka.
Sebaliknya mereka tetap beriman dan terus berharap kepada Tuhan. Keteguhan ini membawa mereka pada keberanian menjadi saksi Kristus dengan bantuan kekuatan Roh Kudus. Keteguhan mereka dalam beriman dan berharap pada akhirnya menjadikan mereka sebagai sosok penting yang mengawali seluruh pewartaan tanpa kehadiran Yesus. Mereka menjadi saksi dan bukti bahwa kekuatan utama dari seorang pewarta adalah keteguhan dalam iman dan harapan kepada Tuhan.
Pengalaman iman para rasul meninggalkan perspektif penting bagi para pengikut Yesus. Mereka menunjukkan bahwa salah satu aspek terdalam dari manusia adalah hubungannya dengan Tuhan. Iman kepada Tuhan berarti berserah kepada Tuhan. Melalui iman, manusia sejatinya sedang menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tangan Tuhan. Dengan kata lain, biarkanlah Tuhan yang berkehendak. Namun beriman menuntut kesetiaan, karena beriman berarti percaya tanpa harus melihat. Manusia harus selalu setia kepada Tuhan dalam segala situasi. Kesetiaan berarti tahan pada segala ujian dan cobaan yang terus datang silih berganti.
Manusia tidak hanya beriman, tetapi lebih dari itu menaruh harapan kepada Tuhan. Harapan harus menjadi pasangan yang tidak boleh hilang. Di sini, harapan menunjukkan keterbatasan manusia di hadapan Tuhan. Manusia berharap karena ia lemah dan tak berdaya tanpa Tuhan. Namun, harapan menuntut kerendahan hati dan ketaatan. Para rasul adalah saksi bahwa kerendahan hati dan ketaatan menjadikan mereka layak untuk menerima kekuatan dari Roh Kudus. Mereka hidup dalam kerendahan hati dengan bersolider satu sama lain. Mereka saling menguatkan tanpa arogansi sosok tertentu sebagai figur terkuat yang dapat diandalkan. Dalam kerendahan hati ini, mereka taat menghayati iman sebagai pengikut Kristus yang selalu berdoa dan memecahkan roti bersama. Mereka taat pada setiap ajaran Yesus sambil terus menanti dalam pengharapan.
Bertahan dalam iman dan harapan memperlihatkan keintiman manusia dan Sang Penciptanya. Ini adalah substansi yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Iman dan pengharapan menjadi kekuatan utama dalam menghayati hidup sebagai para pengikut Yesus yang mengemban misi pewartaan di tengah zaman yang terus berubah.
Perubahan Zaman dan Ujian Keteguhan Iman
Fakta yang tidak terbantahkan adalah bahwa zaman terus berubah. Perubahan ini membawa sejumlah tantangan bagi kehidupan manusia. Mustahil jika hidup tanpa tantangan. Namun, di balik tantangan yang kian berubah, bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat diambil adalah iman dan harapan. Hubungan antara manusia dan Tuhan tidak pernah dirampas oleh perubahan zaman. Keintiman manusia dan Tuhan tidak pernah raib oleh berbagai tantangan. Namun, perubahan zaman dengan sejumlah tantangannya dapat mempengaruhi manusia dalam penghayatan iman dan cara memahami kebenaran.
Dalam kaitannya dengan penghayatan iman, kesetiaan manusia perlahan diuji. Perubahan zaman membawa manusia pada sebuah ujian dalam menjaga hubungannya dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan dalam hidup. Ujian ini terlihat jelas ketika seseorang mulai terobsesi dengan penggunaan media digital, berorientasi pada gaya hidup hedonis, dan mulai menjauhkan diri dari Tuhan. Akibatnya, kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup mulai berkurang. Hal ini nyata dalam tingkat intensitas penggunaan handphone jika dibandingkan dengan doa, mengenakan gaya busana tertentu ke Gereja dengan motivasi terlihat mewah, dan selalu melihat prestasi dari kerja keras sendiri. Pada titik ini, seseorang sejatinya sedang jatuh dalam penyangkalan iman kepada Tuhan.
Selain penyangkalan, manusia turut jatuh dalam kesombongan rohani dan intelektual. Kerendahan hati dan ketaatan tidak lagi mendasari setiap pengharapan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi turut menguji kerendahan hati mansuia. Pergeseran ini menyebabkan manusia menjadikan Tuhan sebagai nomor dua dalam kehidupannya.
Dorongan ini menjadi berbahaya ketika perlahan manusia sampai pada sebuah anggapan bahwa kehidupan sepenuhnya berada di bawah kendalinya sendiri sehingga ia tidak lagi membutuhkan Tuhan. Secara spiritual, cara pandang ini membawa manusia pada sebuah penyangkalan akan keterbatasan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Sebagai para pewarta di tengah zaman yang kian berubah, berbagai hal ini tidak boleh terjadi. Manusia harus tetap kembali kepada Tuhan. Manusia hanya boleh bertekuk lutut di hadapan Tuhan bukan di hadapan tantangan zaman. Manusia boleh berubah untuk beradaptasi dengan zaman tetapi tidak menggeser kesadarannya untuk berpaling dari Tuhan.
Semangat para rasul dalam peristiwa Pentakosta membuktikan bahwa bertahan dalam keteguhan iman dan harapan bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebaliknya, hal ini memberikan mereka keberanian untuk mengalahkan tantangan zaman.
Oleh karena itu, zaman boleh berubah, tantangan bisa bermunculan, tetapi keteguhan dalam iman dan pengharapan harus menjadi pegangan dan kompas dalam kehidupan manusia. Sebab inilah yang tidak bisa dirampas dari kehidupan orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.
Di tengah dunia yang terus berubah, Pentakosta mengingatkan bahwa manusia tetap tidak bisa hidup dengan mengandalkan diri sendiri. Karena itu, keteguhan dalam iman dan pengharapan tetap menjadi kekuatan utama bagi manusia dalam menghayati hidup beriman dan mewartakan kebenaran. Dengan kata lain, zaman boleh berubah tetapi keteguhan iman dan harapan pada Tuhan tidak boleh goyah.**
*Penulis adalah penyuluh agama Katolik Kabupaten Asmat-Papua Selatan.
Editor : Hanif