Oleh: Feira Budiarsyah Arief
Semakin saya menjalani rangkaian ibadah haji, semakin saya menyadari bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Haji adalah perjalanan batin yang membawa manusia masuk ke dalam ruang perenungan paling dalam tentang dirinya sendiri, tentang hidupnya, dan tentang ke mana ia akan kembali.
Banyak orang mempersiapkan haji dengan bekal materi, kesehatan, hingga pengetahuan manasik. Namun ketika benar-benar berada di sini, saya merasakan bahwa Allah SWT menghadirkan pelajaran yang berbeda untuk setiap orang. Tidak ada perjalanan haji yang benar-benar sama.
Ada yang diuji dengan fisiknya. Ada yang diuji dengan kesabarannya menghadapi jutaan manusia. Ada yang diuji dengan keikhlasan menerima keadaan yang jauh dari kenyamanan. Bahkan ada yang diuji dengan egonya sendiri.
Di sinilah saya memahami bahwa menjadi tamu Allah ternyata bukan hanya soal berhasil datang ke Tanah Suci. Lebih dari itu, bagaimana hati benar-benar hadir memenuhi panggilan-Nya.
Kalimat talbiyah yang terus menggema di setiap sudut perjalanan terasa memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bacaan yang dihafal.
"Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak."
Setiap kali kalimat itu terucap, saya merasa sedang mengingatkan diri sendiri bahwa semua yang selama ini dibanggakan di dunia sesungguhnya tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT.
Jabatan, kedudukan, kekayaan, popularitas, bahkan identitas yang selama ini melekat pada diri kita seakan luruh begitu saja ketika mengenakan dua helai kain ihram.
Saat pertama kali melihat jutaan manusia berpakaian serupa tanpa pembeda, saya teringat pada satu kenyataan yang sering kali ingin dilupakan manusia: suatu saat kita semua akan meninggalkan dunia ini dengan keadaan yang hampir sama.
Tidak membawa harta.
Tidak membawa jabatan.
Tidak membawa kebanggaan dunia.
Yang ikut hanyalah amal.
Karena itulah, ketika memasuki fase ARMUZNA—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—saya merasa sedang memasuki sebuah miniatur kehidupan manusia dari dunia menuju akhirat.
Di Arafah, saya melihat jutaan manusia berkumpul dalam satu hamparan luas. Tidak ada lagi batas negara, warna kulit, bahasa, ataupun status sosial. Semua berdiri sebagai hamba yang sama-sama berharap ampunan Allah SWT.
Pemandangan itu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan.
Di tengah lautan manusia yang begitu besar, saya justru merasa sangat kecil.
Sangat lemah.
Dan sangat banyak dosa.
Tak heran jika begitu banyak jemaah yang menangis di Arafah. Bukan karena kelelahan fisik semata, tetapi karena hati mereka sedang berhadapan langsung dengan kesadaran tentang siapa dirinya di hadapan Allah SWT.
Bagi saya pribadi, Arafah terasa seperti gambaran Padang Mahsyar yang sering diceritakan para ulama. Tempat ketika seluruh manusia kelak dikumpulkan dan menunggu keputusan Allah Yang Maha Adil.
Tidak ada tempat bersembunyi.
Tidak ada gelar yang dapat dibanggakan.
Tidak ada kekuasaan yang bisa digunakan.
Yang tersisa hanyalah amal dan rahmat Allah SWT.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Muzdalifah.
Di tempat ini saya belajar tentang arti kesederhanaan yang sesungguhnya. Jutaan manusia bermalam di ruang terbuka dengan fasilitas yang sangat terbatas. Tidak ada perlakuan khusus. Tidak ada kenyamanan berlebih.
Malam di Muzdalifah mengajarkan saya bahwa kehidupan dunia memang hanya persinggahan yang sangat singkat.
Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar berbagai hal, seolah akan hidup selamanya. Padahal pada akhirnya semua akan ditinggalkan.
Lalu tibalah di Mina.
Di sinilah saya merasakan pelajaran yang tidak kalah besar. Saat melontar jumrah, saya menyadari bahwa yang sedang dilawan bukanlah tugu batu yang berdiri di hadapan.
Yang sedang dilawan sesungguhnya adalah diri sendiri.
Kesombongan.
Amarah.
Iri hati.
Keserakahan.
Dan berbagai sifat buruk yang sering kali diam-diam tumbuh dalam diri manusia.
Semakin saya menjalani ARMUZNA, semakin saya merasa bahwa rangkaian ini bukan sekadar ritual yang harus diselesaikan. ARMUZNA adalah ruang pendidikan jiwa yang luar biasa.
Di tempat inilah manusia dipertemukan dengan dirinya yang paling jujur.
Di tempat inilah banyak air mata jatuh tanpa mampu ditahan.
Di tempat inilah banyak doa dipanjatkan dengan penuh harap.
Dan di tempat inilah saya merasakan betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Allah SWT.
Karena itu, bagi saya, ARMUZNA bukan hanya perjalanan haji. ARMUZNA adalah perjalanan yang menghubungkan dunia dan akhirat dalam satu rangkaian perenungan yang sangat nyata.
Sebuah perjalanan yang mengingatkan bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah SWT dengan membawa bekal yang sama: amal yang pernah kita lakukan selama hidup di dunia.
(Bersambung)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro