Oleh: Feira Budiarsyah Arief
Salah satu pelajaran paling berkesan yang saya bawa pulang dari ARMUZNA tahun 1447 H/2026 M justru bukan berasal dari momen melontar jumrah itu sendiri. Pelajaran itu datang dari perjalanan pulang setelahnya.
Terdengar sederhana. Hanya berjalan kembali menuju tenda.
Namun di situlah Allah SWT mengajarkan sesuatu yang hingga hari ini masih terus saya renungkan.
Pagi tanggal 10 Dzulhijjah, kami berangkat dari tenda menuju Jamarat dengan penuh semangat. Sebelum berangkat, istri saya sempat berkata, "Alhamdulillah sekarang sudah ada terowongan Mina. Jarak ke Jamarat jadi lebih dekat."
Saya mengangguk setuju.
Memang benar. Dibandingkan cerita para jemaah haji pada masa-masa sebelumnya, keberadaan terowongan membuat perjalanan menuju lokasi lontar jumrah terasa jauh lebih mudah dan nyaman.
Saat itu saya berpikir perjalanan pulang nanti tentu juga akan sama mudahnya.
Ternyata tidak.
Usai melontar Jumrah Aqabah, arus jemaah diarahkan petugas ke jalur berbeda. Terowongan yang kami gunakan saat berangkat ditutup. Tidak ada pilihan selain mengikuti arus manusia yang terus bergerak.
Awalnya saya mengira hanya sedikit memutar.
Namun semakin lama berjalan, semakin terasa bahwa rute yang harus ditempuh jauh lebih panjang dari perkiraan.
Ketika akhirnya tiba di tenda, saya melihat aplikasi penunjuk jarak menunjukkan angka sekitar 6 kilometer lebih.
Jarak yang semula terasa dekat berubah menjadi perjalanan panjang.
Keesokan harinya, saat melontar jumrah tanggal 11 Dzulhijjah, saya berharap situasinya berbeda.
Ternyata tidak.
Kami kembali diarahkan melalui jalur memutar.
Begitu pula pada hari berikutnya.
Berulang kali kami harus menerima kenyataan bahwa jalan yang menurut logika terasa dekat ternyata tidak selalu bisa dilewati.
Di tengah langkah-langkah panjang itu, saya tiba-tiba teringat kisah perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat ketika menunaikan ibadah haji. Mereka tidak menikmati berbagai fasilitas yang ada sekarang. Tidak ada pendingin udara. Tidak ada terowongan modern. Tidak ada kemudahan transportasi seperti yang kita nikmati saat ini.
Mungkin karena itulah saya mulai memandang perjalanan memutar tersebut dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi sebagai kesulitan.
Melainkan sebagai pelajaran.
Dan pelajaran terbesar yang saya dapatkan ternyata bukan tentang jauhnya perjalanan di Mina, melainkan tentang kehidupan itu sendiri.
Bukankah sering kali kita merencanakan sesuatu dengan sangat matang?
Kita merasa sudah mengetahui jalannya.
Kita merasa sudah menghitung waktunya.
Kita merasa tujuan sudah berada di depan mata.
Namun kemudian Allah SWT menunjukkan jalan yang berbeda.
Jalan yang lebih panjang.
Jalan yang lebih berliku.
Jalan yang mengharuskan kita berjalan lebih jauh dari yang kita bayangkan.
Persis seperti perjalanan pulang dari Jamarat menuju tenda.
Saat itulah saya memahami bahwa tidak semua tujuan harus dicapai melalui jalan terdekat. Kadang-kadang Allah justru memilihkan jalan memutar karena ada pelajaran yang harus kita temukan di sepanjang perjalanan tersebut.
Pengalaman itu mengingatkan saya pada beberapa doa yang pernah saya panjatkan ketika berhaji tahun 2010.
Saat itu saya berdoa agar suatu hari diberi kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral atau S3 jika memang hal itu baik menurut Allah SWT.
Saya juga berdoa agar suatu saat memiliki rumah sendiri, karena ketika itu masih tinggal bersama keluarga mertua.
Sebagai manusia, tentu saya berharap jawaban doa itu datang secepat mungkin.
Namun Allah memiliki waktu-Nya sendiri.
Doa tentang rumah ternyata Allah kabulkan pada tahun 2012. Saat itu kami akhirnya bisa menempati rumah sendiri, meskipun pembangunannya belum sepenuhnya selesai.
Sementara doa untuk melanjutkan studi S3 baru Allah jawab pada tahun 2019.
Sembilan tahun setelah doa itu saya panjatkan di Tanah Suci.
Jika menggunakan ukuran manusia, sembilan tahun terasa sangat lama.
Tetapi ketika saya melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, saya justru menyadari bahwa Allah mengabulkannya pada saat yang paling tepat.
Saat kondisi keluarga lebih siap.
Saat pekerjaan memungkinkan.
Saat kemampuan diri lebih matang.
Allah tidak terlambat.
Allah juga tidak lupa.
Allah hanya memiliki ukuran waktu yang berbeda dengan ukuran waktu manusia.
Dari situlah saya belajar memahami bahwa doa memiliki banyak bentuk jawaban.
Ada doa yang langsung dikabulkan.
Ada doa yang ditunda pengabulannya.
Ada pula doa yang tidak diberikan sesuai permintaan kita karena Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebagian doa akan disimpan Allah sebagai kebaikan yang kelak diberikan di akhirat.
Maka sebenarnya tidak ada doa yang sia-sia.
Yang sering keliru hanyalah cara kita memahami jawabannya.
Perjalanan pulang dari Jamarat menuju tenda di Mina menjadi gambaran yang sangat jelas bagi saya.
Kita ingin jalan yang dekat.
Tetapi Allah mengarahkan kita ke jalan yang lebih panjang.
Kita ingin cepat sampai.
Tetapi Allah mempertemukan kita dengan proses.
Kita ingin hasil segera terlihat.
Tetapi Allah mengajarkan kesabaran.
Dan ketika akhirnya tiba di tujuan, kita baru memahami bahwa setiap langkah yang terasa berat ternyata memiliki makna yang tidak pernah kita lihat sebelumnya.
ARMUZNA mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai tujuan.
Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani proses menuju tujuan tersebut.
Karena sering kali Allah tidak mengubah tujuan yang kita harapkan. Allah hanya mengubah jalannya agar kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih siap menerima karunia-Nya.
Mungkin itulah salah satu pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Mina.
Bahwa doa tidak pernah sia-sia.
Bahwa ikhtiar tidak pernah terbuang percuma.
Dan bahwa setiap jalan memutar yang Allah berikan sesungguhnya sedang mengantar kita menuju waktu terbaik menurut-Nya, bukan menurut kita.
(Bersambung)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro