Oleh: Feira Budiarsyah Arief
Rangkaian ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sering dipahami sebagai puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Namun di balik jutaan langkah manusia yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, tersimpan pelajaran mendalam tentang hakikat kehidupan dan pergulatan manusia dengan dirinya sendiri.
Setelah mengikuti seluruh rangkaian Armuzna, muncul satu pertanyaan yang terus menggelayuti pikiran saya: sebenarnya apa yang sedang diajarkan Allah SWT kepada jutaan manusia melalui perjalanan spiritual tersebut?
Bagi setiap orang, jawabannya mungkin berbeda. Namun bagi saya, Armuzna mengajarkan satu hal yang sangat mendasar: musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali menganggap sumber masalah berada di luar dirinya. Kita mudah menyalahkan lingkungan, keadaan, rekan kerja, atasan, bahkan mereka yang memiliki pandangan berbeda. Padahal, ancaman terbesar terhadap kualitas hidup dan kualitas keimanan sering kali justru berasal dari dalam diri, yakni hawa nafsu yang tidak terkendali.
Makna inilah yang saya rasakan ketika menyaksikan jutaan jemaah bergerak menuju Jamarat untuk melaksanakan lontar jumrah. Secara fisik, yang dilempar hanyalah tujuh butir kerikil. Namun secara simbolik, yang sedang dilawan adalah sifat-sifat buruk yang selama ini bersemayam dalam hati manusia.
Kesombongan yang membuat seseorang merasa lebih mulia daripada orang lain. Kemarahan yang mendorong lahirnya permusuhan. Kedengkian yang membuat hati sulit menerima keberhasilan sesama. Keserakahan yang membuat manusia tidak pernah merasa cukup. Semua itu merupakan penyakit hati yang perlahan mengikis nilai ibadah sekaligus kemanusiaan seseorang.
Ritual lontar jumrah berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS ketika menghadapi godaan setan untuk membatalkan perintah Allah SWT. Namun dalam konteks kehidupan modern, makna simbolik itu terasa semakin relevan. Sebab setan yang paling sulit dikalahkan bukanlah yang berada di luar diri manusia, melainkan yang bersembunyi di dalam hati dan menjelma menjadi ego, ambisi berlebihan, serta berbagai dorongan negatif lainnya.
Karena itu, perjuangan seorang haji sesungguhnya tidak berakhir ketika lontar jumrah selesai dilaksanakan. Justru perjuangan yang lebih berat dimulai setelah ia kembali ke kehidupan sehari-hari.
Ukuran keberhasilan ibadah haji bukan semata-mata terletak pada selesainya rangkaian ritual, tetapi pada perubahan karakter yang lahir setelahnya. Apakah seseorang menjadi lebih sabar? Lebih rendah hati? Lebih mudah memaafkan? Lebih mampu mengendalikan amarah? Atau justru kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelum berangkat ke Tanah Suci?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berat daripada melempar tujuh butir kerikil.
Di Mina, saya juga menyaksikan pemandangan yang sulit dilupakan. Jutaan manusia dari berbagai bangsa berjalan menuju tujuan yang sama. Ada yang menggunakan kursi roda, ada yang harus dipapah keluarganya, ada yang berjalan tertatih karena usia dan keterbatasan fisik. Namun semuanya bergerak menuju satu arah dengan harapan yang sama, yakni menyempurnakan ibadah hajinya.
Pemandangan itu seolah menjadi gambaran kehidupan manusia secara keseluruhan. Pada hakikatnya, setiap orang sedang menempuh perjalanan menuju tujuan yang sama, yakni kembali kepada Allah SWT. Perbedaannya hanya terletak pada cara masing-masing menjalani perjalanan tersebut.
Ada yang melangkah dengan penuh syukur. Ada yang terus mengeluh. Ada yang sibuk memperbaiki dirinya. Namun tidak sedikit pula yang lebih sibuk mencari kekurangan orang lain.
Padahal pada akhirnya semua manusia akan sampai pada titik yang sama: kematian. Dan setelah itu, setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam perspektif tersebut, Armuzna bukan sekadar rangkaian ritual ibadah. Armuzna merupakan miniatur perjalanan hidup manusia. Arafah mengingatkan tentang Padang Mahsyar, tempat seluruh manusia akan dikumpulkan. Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan dan kesetaraan, bahwa di hadapan Allah seluruh manusia berada dalam posisi yang sama. Sementara Mina mengajarkan pentingnya perjuangan melawan hawa nafsu yang menjadi sumber berbagai kerusakan dalam kehidupan.
Ketiga tempat itu membentuk satu rangkaian pelajaran yang utuh tentang kehidupan manusia sejak di dunia hingga kembali menghadap Sang Pencipta.
Mungkin karena itulah banyak jemaah pulang dari Armuzna dengan air mata yang berbeda. Bukan semata karena kelelahan fisik, cuaca yang panas, atau padatnya jutaan manusia. Melainkan karena mereka menemukan kembali kesadaran yang selama ini sering terlupakan: bahwa hidup di dunia sesungguhnya sangat singkat.
Jabatan akan berakhir. Harta akan ditinggalkan. Kedudukan akan berganti. Popularitas akan memudar. Yang tersisa hanyalah amal saleh yang dilakukan dengan keikhlasan.
Pada akhirnya, Armuzna adalah perjalanan batin seorang hamba untuk mengenal dirinya sendiri. Sebab sebelum mampu memperbaiki dunia di sekelilingnya, manusia terlebih dahulu harus mampu menaklukkan musuh terbesar yang ada dalam dirinya.
Dan musuh itu bernama hawa nafsu.
Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para jemaah haji, mengampuni dosa-dosa mereka, serta mempertemukan kembali seluruh tamu-Nya dalam keadaan terbaik di dunia maupun di akhirat. Aamiin ya Rabbal 'Alamin. (Tamat)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro