Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kombinasi Teori Jendela Johari Dengan Tipe Manusia

Hanif • Jumat, 5 Juni 2026 | 08:28 WIB
Ma
Ma'ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

TEORI Jendela Johari terbit tahun 1955, di UCLA. Oleh dua orang pemikir yaitu Joseph Luft dan Harrington Ingham. Menilik dari kaca mata sosiologi dan model psikologi bahwa penerimaan manusia terhadap diri dan lingkungannya terdiri atas keterbukaan dan ketertutupan. Sehingga ada yang sanggup memahami dirinya dan sebagian ada yang tidak sanggup memahami. Secara rinci, teori Jendela Johari (Johari Window) terdiri dari: Open area. Hiddent area. Blind area. Unknown area. Keempat jendela ini akan dibahas bersama konsep AlGhazali (wafat: Iran, tahun 1111 M) tentang teori Tipe Manusia.

Memadukan teori tipe manusia menurut Al-Ghazali, dilahirkan di Tus, Khurasan-Iran, 1058 M. Wafat: Iran, 1111 M. Dengan teori Jendela Johari (1955 M) menemukan titik kumpul dijiwa manusia. Untuk mengenali diri dan lingkungan. Karena siapa yang telah mengenal diri, niscaya ia dapat mengenal Tuhan. Polarisasi keduanya dapat dikombinasikan beserta dampak.

 

Open Area

Open area merupakan tipe orang yang tahu bahwa dirinya tahu. Tingkat ideal dalam pengetahuan dan pengalaman. Konsep pengetahuan dapat menularkan pengalaman, dan praktik pengalaman bisa melahirkan pengetahuan. Orang yang kaya pengetahuan dan pengalaman akan lebih lurus jalannya.

Keduanya mengantar ke kebijaksanaan dan ketenangan. Sanggup menakar diri kapan bertindak atau diam. Tindakannya mengandung manfaat mendamaikan, diamnya mengandung hikmah kesabaran dan ketenangan. 

Dalam skematika sosial dan psikologi, tipe manusia tersebut sangat bermanfaat bagi diridan lingkungan beserta dampak positif. Bisa mencerdaskan umat, memajukan kesejahteraan ekonomi rakyat. Dalam ruang lingkup apapun, mereka yang menyadari kelebihan dirinya, pasti akan berbagi. Guna merasakan kebahagiaan untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Menyumbang untuk agama dengan jiwa dan harta. Sebab, tanda orang kaya adalah berbagi. Kaya ilmu berbagi dengan ilmu, kaya harta berbagi dengan harta, kaya (kuat) tenaga menyumbang dengan tenaga. Artinya, seluruh medan kehidupan dunia menjadi sawah ladang akhirat. Sebaliknya, tanda orang miskin ialah tidak sanggup berbagi.

Terlebih, orang yang telah mengenali diri akan damai dengan diri dan diri orang lain. Ibarat cermin, ia selalu memberi dampak dari perbuatan sendiri (karmapala). Sehingga, jika mencubit itu sakit, ia tidak kerjakan. Jika menghina dapat mempermalukan, membongkar aib orang lain, ia tidak lakukan. Auto orang yang sudah bisa memimpin diri sendiri, akan bisa memimpin orang lain.

 

Hiddent Area

Tipe ini adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Tipe kedua ini memiliki kesadaran guna memanfaatkan kesempatan yang besar untuk belajar. Mengetahui kelemahan diri lalu  memperbaikinya adalah lebih baik daripada betah di dalam kebodohan. Tipe orang yang demikian, suatu saat akan menjadi alim (berilmu) dan menebarkan ilmunya. Modal utama ialah mengenali diri, mengenal kelebihan dan kekurangan.

Kemudian mengupgrade diri berproses menjadi alim. Nabi menyabdakan, "Jadilah kamu orang alim. Bila tidak bisa jadi orang alim, jadilah pembelajar. Bila tidak bisa menjadi pembelajar, jadilah pendengar (ilmu). Bila tidak bisa menjadi pendengar, jadilah pencinta (ilmu). Jangan kamu menjadi yang kelima, maka kamu akan celaka. (At-Tirmizi)."

Orang yang kelima maksudnya, tidak menjadi pengajar, bukan pembelajar, bukan pendengar dan bukan pula pencinta ilmu. Hiddent area atau tahu kekurangan diri merupakan modal berharga untuk menjadi orang yang berharga. Ia bisa menghargai kelebihan orang lain, dan ia bisa memaklumikekurangan diri.

Untuk selanjutnya belajar serta pandai menempatkan diri. Karena banyak hari ini, orang yang tidak alim tapi merasa alim. Bacaan Alquran berantakan, tapi mau menjadi imam dan khatib. Karakter manusia yang tidak tahu, tapi pura-pura tahu. Mentalitas rusak, tidak pantas jadi menteri tapi mau jadi menteri. Belum layak jadi gubernur, tapi maju jadi kandidat gubernur. Belum patut jadi rektor, tapi maju mendaftar calon rektor.

Tipe manusia yang kenal kekurangan diri menciri keseimbangan semesta. Mendahulukan sesuatu yang layak untuk didahulukan karena ilmunya, umurnya dan jabatan yang disandang. Atau menghormati yang tua, menghargai yang sebaya, menyayangi anak muda. Adab orang yang berdiri memberi salam kepada orang yang duduk. Akhlak orang muda mengunjungi orang tua, dan seorang siswa bersilaturahmi ke rumah guru.

Tuhan pemilik dua tempat terbit dan dua tempat terbenam matahari adalah Tuhan yang meletakkan neraca keseimbangan pada semesta. Bulan tahu kapan harus bersinar dan tahu kapan harus pudar. Meskipun bulan indah, tapi ia tahu kelemahannya. Maka, untuk memberikan waktu kepada matahari supaya bisa terbit pada waktunya, niscaya bulan dan bintang menuju ke peraduan. "Matahari tidak mungkin mendahului bulan. Dan malam tidak mungkin mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis elips-nya. (Yasin:40)." Demikian pula sifat benda angkasa lainnya, antri berbaris rapi.

Maknanya, bulan menyadari kelemahannya dan menyadari kekuatan matahari, demikian sebaliknya. Harmoni alam semesta menjadi pelajaran bagi kaum yang mau berpikir. Langit memberi pelajaran ke bumi dengan turun hujan. Bumi memberi dampak dengan menumbuhkan flora yang indah, serta fauna yang sebagian mereka makan dagingnya dan sebagian dijadikan sebagai kendaraan. Mengapa manusia tidak bersyukur?

 

Blind area

Tipe ini adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Orang bertipe blind area, suatu model yang belum tersadar bahwa di dalam dirinya memiliki keunggulan. Perlu disadarkan dan diberi paham tentang dirinya. Kelebihan yang dimilikinya sangat berguna, bermanfaat, dan setiap kehadirannya sangat ditunggu. Harus membuka jendela diri sendiri, sehingga masyarakat bisa mengambil manfaat dari kecakapan. Kecakapan potensi akademik dan nonakademik, hardware (teknik) dan software (non teknik) yang dimiliki.

Bila daun pintu jendela sudah dibuka, maka ia tidak hanya mencerahkan dirinya. Tapi juga mencerahkan lingkungan dengan cara mengasah dan mengasuh masyarakat. Agar masyarakat semakin berkemajuan, berkecerahan dan berkeunggulan mutu. Mutu dunia dan mutu akhirat. Pada akhirnya, semua akan kembali kepada Tuhan.

Sering kabut dosa membutakan pandangan batin (bashirah) kebenaran. Kadang bisikan jahat dan kedok tipuan kebaikan banyak menyihir orang-orang baik. Sebab dalam kebaikan tersembunyi keburukan (bisikan riya'). Sedangkan dalam keburukan terdapat seruan kebaikan (ajakan tobat). Tugas kita hari ini ialah membuka jendela, menyibak tirai selimut ketertutupan (cover) yang dapat membutakan mata hati dari memandang wajah-Nya yang Maha Mulia.

Ketertutupan telinga dari mendengar ayat-ayat Tuhan, membisukan lisan dari menyebut-Nya, dan menggelapkan hati, yaitu lupa dari mengingat-Nya. Oleh karena itu, ada doa yang sangat baik untuk dibaca. Terutama oleh para pengampu kebijakan sebelum memutuskan perkara, sebelum melakukan tindakan dan eksekusi, supaya tidak terjadi penyimpangan terhadap konstitusi dan malpraktik. "Ya Allah Tuhan kami. Perlihatkan kepada kami yang benar itu benar. Bantu kami untuk mengikutinya. Dan perlihatkan kepada kami yang salah itu salah. Bantu kami untuk menjauhinya. (Doa Nabi Muhammad Saw)."

 

Unknown Area

Tipe ini merupakan orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Ketidaksadaran total secara jasmani dan rohani, sangat parah. Semesta mengatakan ia sakit, dibantah bahwa ia sehat. Lalu, dari sisi mana ingin menyembuhkan? Ketika ia berada di ruang gelap, tapi menolak cahaya ketika cahaya itu datang. Menepis ilmu tatkala ilmu tiba untuk mengusir kebodohan. Padahal, berpayah menuntut ilmu adalah jauh lebih baik daripada menelan pil pahit kebodohan seumur hidup. Artinya, tipe orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, sama dengan betah dalam kondisi kesakitan, kegelapan, kebodohan dunia dan akhirat.

Bahkan, Imam Al-Ghazali menyebut tipe ini dengan istilah kebodohan kuadrat (jahil murakkab). Sangat sulit untuk disadarkan, mereka termasuk kelompok Fir'aun, Haman, Qarun yang sangat pendusta dengan ciri yang sudah diterangkan oleh kitab suci. "Tuli, bisu, buta, mereka tidak akan kembali kepada kebenaran. (Al-Baqarah:18)."

Mereka tetap durhaka, hingga mereka melihat gejolak api neraka yang menyala-nyala. Sebuah penyesalan yang tidak berguna lagi. Ibarat kata, "nasi sudah menjadi bubur, bubur tidak bisa menjadi nasi."

Ciri tipe manusia unknown area ialah suka memperdebatkan hal-hal sepele yang bukan prinsip. Ciri lain ialah membantah Allah dan Rasulullah. "Diantara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, ketiadaan petunjuk dan tidak dituntun oleh kitab yang menerangi." (Lukman:20).

Akhirnya, kebodohan merupakan sosok yang membahayakan, lebih berbahaya daripada ular berbisa. Ilustrasi yang disampaikan oleh sahabat Nabi. "Sekiranya kebodohan berbentuk seperti ular yang berbisa, pasti sudah aku bunuh. (Sahabat Ali bin Abi Thalib)." Wallahualam.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#jendela johari #tipe manusia #Refleksi Diri #al ghazali #teori