Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Catatan Haji: Menelusuri Jejak Rasul di Makkah dan Madinah

Hanif • Senin, 15 Juni 2026 | 11:31 WIB
Feira Budiarsyah Arief
Feira Budiarsyah Arief

Oleh: Feira Budiarsyah Arief

Perjalanan ibadah haji tidak hanya menghadirkan pengalaman spiritual melalui rangkaian ritual di Tanah Suci. Di sela waktu setelah puncak pelaksanaan ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), banyak jemaah memanfaatkan kesempatan untuk menelusuri jejak sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad SAW di dua kota suci: Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawarah.

Bagi sebagian orang, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah tersebut mungkin tampak sebagai wisata religi biasa. Namun bagi jemaah haji, setiap lokasi menyimpan pelajaran tentang keimanan, kesabaran, pengorbanan, dan perjuangan yang menjadi fondasi lahir dan berkembangnya Islam.

Menelusuri Tapak Perjuangan Nabi di Makkah Al Mukarramah

Di Makkah, salah satu tujuan yang paling banyak dikunjungi adalah Gua Hira di puncak Jabal Nur. Di tempat inilah Rasulullah SAW sering berkhalwat sebelum diangkat menjadi nabi dan menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril. Dari lokasi sederhana tersebut, risalah Islam mulai diturunkan kepada umat manusia.

Tak jauh berbeda dalam makna sejarah, Gua Tsur di Jabal Tsur menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq RA saat bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy dalam peristiwa hijrah menuju Madinah. Dari tempat itu pula lahir salah satu pesan keteguhan iman yang diabadikan dalam Al-Qur'an: "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS. At-Taubah: 40).

Jemaah juga kerap mengunjungi Jabal Rahmah di Padang Arafah, lokasi yang selalu mengingatkan pada momen wukuf, rukun utama haji. Ketika kembali menatap hamparan Arafah setelah pelaksanaan ibadah, banyak jemaah mengenang suasana haru saat jutaan manusia berkumpul memohon ampunan dan rahmat Allah SWT.

Kawasan Mina dan Muzdalifah yang baru saja dilalui dalam rangkaian ARMUZNA pun menghadirkan perspektif berbeda ketika dilihat dari sudut pandang sejarah. Tempat-tempat tersebut mengingatkan bahwa haji bukan sekadar ritual tahunan, melainkan warisan perjuangan para nabi yang berlangsung selama ribuan tahun.

Jejak sejarah di Makkah juga dapat ditemukan di pemakaman Ma'la, tempat dimakamkannya sejumlah sahabat dan keluarga Rasulullah SAW, termasuk Sayyidah Khadijah RA. Keberadaan makam tersebut menjadi pengingat akan besarnya pengorbanan generasi pertama yang mendukung dakwah Islam pada masa-masa awal.

Menelusuri Cahaya Dakwah di Madinah Al Munawarah

Jika Makkah menjadi tempat lahirnya Islam, maka Madinah Al Munawarah adalah kota tempat Islam tumbuh menjadi peradaban besar. Di kota inilah Rasulullah SAW membangun masyarakat yang berlandaskan iman, ilmu, dan persaudaraan.

Salah satu lokasi utama yang dikunjungi jemaah adalah Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah dari Makkah. Masjid ini memiliki kedudukan istimewa karena dibangun di atas fondasi ketakwaan dan memiliki keutamaan besar bagi umat Islam.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Masjid Qiblatain, tempat terjadinya peristiwa bersejarah perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah di Makkah. Peristiwa tersebut menjadi simbol ketaatan para sahabat yang langsung melaksanakan perintah Allah SWT tanpa keraguan.

Dari sana, rombongan biasanya menuju Bukit Uhud. Di kaki bukit ini dimakamkan para syuhada yang gugur dalam Perang Uhud, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib RA. Kawasan Uhud mengajarkan pelajaran tentang keberanian, ketaatan, disiplin, serta konsekuensi dari mengabaikan perintah yang telah ditetapkan.

Kebun-kebun kurma Madinah juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan ziarah. Selain menjadi komoditas utama kota tersebut sejak masa Rasulullah SAW, kebun kurma mengingatkan pada berbagai kisah kehidupan masyarakat Madinah dan perjuangan para sahabat dalam membangun komunitas Islam.

Namun sesungguhnya, nilai terbesar dari perjalanan menelusuri jejak Rasulullah SAW bukanlah foto-foto yang dibawa pulang atau oleh-oleh yang tersimpan dalam koper. Yang paling berharga adalah pelajaran yang tertanam dalam hati.

Makkah mengajarkan tentang keteguhan dalam menghadapi ujian dan perjuangan menegakkan kebenaran. Madinah mengajarkan arti persaudaraan, pengorbanan, serta bagaimana membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Karena itu, menelusuri jejak Rasulullah SAW di dua kota suci bukan sekadar wisata sejarah. Ia merupakan perjalanan spiritual untuk memahami bagaimana Islam lahir di tengah tantangan berat di Makkah, lalu berkembang menjadi peradaban yang menerangi dunia dari Madinah.

Dan ketika para jemaah akhirnya berdiri di pelataran Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, menyaksikan langsung tempat-tempat yang selama ini hanya mereka baca dalam kitab dan sejarah, banyak yang merasakan bahwa perjalanan panjang menuju Tanah Suci menemukan maknanya yang sesungguhnya: menyaksikan secara langsung tapak perjuangan seorang manusia mulia yang ajarannya hingga kini menjadi petunjuk bagi miliaran umat manusia di seluruh dunia. Wallahu a'lam bish-shawab. (**)

 

*) Penulis adalah jemaah Haji 2026 asal Pontianak

Editor : Hanif
#madinah #Makkah #Armuzna #Perjuangan #Rasulullah SAW