Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Filsafat dan Nalar Kritis di Era AI: Dari Ruang Kuliah hingga Ruang Keputusan Perbankan

Hanif • Senin, 29 Juni 2026 | 09:45 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan / AI
Ilustrasi kecerdasan buatan / AI

Oleh: Vinsensius, S.Fil., M.M.

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perguruan tinggi menghadapi tantangan yang tidak ringan. Teknologi kini mampu menyediakan informasi, menyusun laporan, bahkan menghasilkan analisis dalam waktu singkat. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa manusia perlahan kehilangan kemampuan berpikir secara mendalam, kritis, dan reflektif.

Kekhawatiran itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Workshop Humaniora bertajuk Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini yang diselenggarakan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. Kegiatan yang menghadirkan Uskup Keuskupan Sanggau, Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, dan dosen STF Driyarkara Jakarta, Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, tersebut tidak hanya membahas filsafat sebagai disiplin ilmu, tetapi juga sebagai fondasi penting bagi kehidupan manusia di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.

Menjaga Nalar Kritis di Tengah Budaya Instan

Dalam pemaparannya, Mgr. Valentinus Saeng menegaskan bahwa filsafat tetap memiliki peran strategis dalam pendidikan tinggi. Menurutnya, filsafat melatih manusia berpikir kritis, memahami realitas secara mendalam, serta membedakan pengetahuan, opini, dan kebenaran.

Ia mengingatkan bahwa berbagai perubahan besar dalam sejarah dunia sering berawal dari sebuah gagasan. Karena itu, meremehkan filsafat sama saja dengan meremehkan kekuatan pemikiran manusia dalam membentuk arah peradaban.

Pesan terpenting dari workshop tersebut adalah perlunya mengembangkan critical thinking di tengah peradaban digital. Teknologi memang memudahkan manusia memperoleh jawaban, tetapi tidak serta-merta mengajarkan cara mengajukan pertanyaan yang tepat. Padahal, kemampuan bertanya merupakan fondasi lahirnya ilmu pengetahuan.

Fenomena ini disoroti oleh moderator, Trio Kurniawan. Ia menggambarkan bagaimana mahasiswa saat ini dapat menyelesaikan tugas dengan cepat menggunakan AI, menghasilkan presentasi yang menarik, bahkan memperoleh nilai akademik yang baik. Namun, ketika diminta menjelaskan alasan di balik suatu kesimpulan, tidak sedikit yang mengalami kesulitan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir. Pendidikan harus tetap menjadi proses pembentukan manusia yang mampu berpikir, menganalisis, dan mempertanggungjawabkan pandangannya secara rasional dan etis.

Pandangan serupa disampaikan Romo Agustinus Setyo Wibowo, SJ. Menurutnya, generasi digital menghadapi tantangan baru berupa ketergantungan pada teknologi dan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Kebiasaan mengonsumsi informasi secara instan berisiko melemahkan kemampuan refleksi dan konsentrasi yang menjadi syarat penting bagi proses belajar yang bermakna.

Dalam konteks itulah filsafat hadir sebagai ruang latihan intelektual yang membantu manusia tetap menjadi subjek, bukan sekadar pengguna teknologi.

Filsafat Relevan dalam Pengambilan Keputusan Perbankan

Menariknya, relevansi filsafat tidak hanya terlihat dalam dunia pendidikan. Dalam sesi tanggapan panelis, Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., menunjukkan bahwa filsafat juga memiliki keterkaitan erat dengan praktik perbankan.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis yang dilatih melalui filsafat sangat membantu dalam proses pengambilan keputusan, khususnya dalam analisis kredit dan manajemen risiko.

Ia menjelaskan bahwa teknologi memang mampu menyediakan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan dalam analisis kredit. Namun, terdapat aspek-aspek tertentu yang tidak dapat dinilai sepenuhnya oleh teknologi, terutama yang berkaitan dengan karakter dan integritas seseorang.

Dalam praktik perbankan, keputusan kredit tidak hanya ditentukan oleh kemampuan finansial calon debitur, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan yang dapat diberikan kepada yang bersangkutan. Karena itu, proses wawancara, observasi, dan penelusuran rekam jejak tetap menjadi bagian penting dalam analisis kredit.

Pengalaman di dunia perbankan menunjukkan bahwa karakter manusia merupakan variabel yang sulit diprediksi. Seseorang dapat menunjukkan sikap yang baik pada suatu waktu, tetapi berubah ketika menghadapi situasi yang berbeda. Oleh sebab itu, pengambilan keputusan memerlukan pertimbangan yang tidak hanya berbasis data, tetapi juga penilaian kritis dan kehati-hatian.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa filsafat tidak berhenti pada tataran teori. Filsafat memberikan fondasi berpikir yang membantu para profesional memahami kompleksitas perilaku manusia, mempertimbangkan berbagai risiko, dan mengambil keputusan secara lebih bijaksana.

Teknologi Memerlukan Kebijaksanaan

Sebagai akademisi yang bergelut di bidang filsafat dan manajemen keuangan, saya melihat bahwa diskusi dalam workshop ini menyentuh salah satu persoalan paling mendasar dalam kehidupan modern. Persoalannya bukanlah apakah teknologi harus diterima atau ditolak, melainkan bagaimana manusia menggunakannya secara bertanggung jawab.

Teknologi telah membawa banyak kemajuan di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan keuangan. Dunia perbankan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat layanan dan meningkatkan efisiensi, sementara perguruan tinggi memanfaatkannya untuk memperluas akses terhadap pengetahuan. Namun, teknologi tetaplah alat, bukan tujuan.

Kemampuan menimbang nilai, memahami konsekuensi, membaca karakter manusia, dan mengambil keputusan yang bijaksana tetap berada di tangan manusia. Tidak ada algoritma yang mampu sepenuhnya menggantikan kebijaksanaan, sebagaimana tidak ada mesin yang dapat menggantikan tanggung jawab moral.

Karena itu, filsafat tidak boleh dipandang sebagai ilmu yang ketinggalan zaman. Justru ketika dunia bergerak semakin cepat dan dipenuhi berbagai kemudahan instan, filsafat hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan kedewasaan berpikir.

Pada akhirnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang terampil menggunakan teknologi. Kampus juga memiliki tanggung jawab melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, berintegritas, dan berani mengambil keputusan yang benar. Sebab, di tengah dunia yang semakin dikendalikan algoritma, masa depan tetap ditentukan oleh kualitas akal budi manusia. (**)

 

 *) Penulis adalah dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak.

Editor : Hanif
#nalar kritis #budaya instan #Filsafat #mahasiswa #perkembangan teknologi