Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Mengapa Ada Orang yang Tidak Pernah Merasa Bersalah?

Rafael B. Junior • Selasa, 7 Juli 2026 | 08:16 WIB
Diana Fauziah, S.Ag
Diana Fauziah, S.Ag

Oleh: Diana Fauziah, S.Ag.*

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang dengan karakter yang beragam. Ada yang mampu mengakui kekeliruannya dengan lapang dada, tetapi ada pula yang selalu memiliki alasan untuk membenarkan diri. Saat dikritik, ia merasa diserang. Ketika mengalami kegagalan, penyebabnya selalu berasal dari luar dirinya. Ketika hubungan memburuk, orang lain dianggap sebagai pihak yang bermasalah.

Sekilas, sikap seperti ini mudah dipandang sebagai bentuk keegoisan atau sifat manipulatif. Namun, psikologi mengajukan pertanyaan yang berbeda. Alih-alih sekadar menilai perilakunya, psikologi berusaha memahami mengapa sebagian orang begitu sulit menerima bahwa dirinya juga bisa keliru.

Mengucapkan "aku salah" sebenarnya hanya terdiri atas dua kata. Namun, bagi sebagian orang, dua kata itu terasa jauh lebih berat daripada yang dibayangkan. Mengakui kesalahan tidak lagi dipandang sebagai pengakuan atas tindakan yang keliru, melainkan sebagai penilaian terhadap diri sendiri. Kesalahan terasa seperti ancaman yang mengguncang harga diri.

Dalam perspektif psikoanalisis, ego memiliki fungsi menjaga keseimbangan batin. Ketika seseorang menghadapi kenyataan yang memunculkan rasa malu, rasa bersalah, atau takut ditolak, ego dapat bekerja melalui berbagai mekanisme pertahanan.

Tanpa disadari, seseorang mungkin memindahkan kesalahan kepada orang lain, mencari pembenaran atas tindakannya, atau menolak fakta yang bertentangan dengan citra dirinya. Tujuannya bukan semata-mata agar selalu menang, melainkan karena mengakui kekalahan terasa terlalu menyakitkan. Dengan cara itu, ia tetap dapat mempertahankan perasaan aman di tengah situasi yang dianggap mengancam harga dirinya.

Psikologi memang tidak pernah menyatakan bahwa semua perilaku manusia berasal dari masa kecil. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman awal bersama orang tua atau pengasuh berperan penting dalam membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Bayangkan seorang anak yang tidak sengaja menumpahkan air di atas karpet kesayangan orang tuanya. Alih-alih ditenangkan, ia justru mendengar kalimat seperti, "Gimana sih kamu? Punya mata enggak?" atau, "Bisa hati-hati enggak? Jadi basah, kan, karpetnya." Bagi orang dewasa, kalimat itu mungkin terdengar sepele. Namun, jika pengalaman serupa terus berulang, anak dapat belajar bahwa setiap kesalahan akan dibalas dengan rasa malu, penolakan, atau kemarahan.

Pengalaman-pengalaman semacam itu dapat membentuk keyakinan bahwa melakukan kesalahan berarti menjadi pribadi yang tidak layak diterima atau dicintai. Akibatnya, ketika dewasa, kritik tidak lagi dipandang sebagai masukan, melainkan sebagai ancaman. Reaksi defensif yang muncul pun sering kali jauh lebih besar daripada persoalan yang sebenarnya.

Psikologi kepribadian juga menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki harga diri yang stabil. Sebagian individu sangat bergantung pada pengakuan dari luar atau validasi eksternal untuk merasa berharga. Dalam kondisi seperti ini, kritik mudah dimaknai sebagai ancaman terhadap identitas diri. Tidak mengherankan jika menjaga citra diri akhirnya terasa lebih penting daripada memahami persoalan yang sesungguhnya.

Situasi ini dapat menjelaskan mengapa seseorang terus mencari pembenaran, sulit meminta maaf, atau berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih menderita dibandingkan orang lain dalam suatu konflik. Penjelasan tersebut juga sejalan dengan teori attachment yang dikembangkan Bowlby. Menurut teori ini, setiap anak memiliki kebutuhan dasar untuk merasa aman, dicintai, dan dilindungi oleh orang tuanya. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, anak dapat mengalami kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh kritik, kasih sayang yang tidak konsisten, atau tuntutan untuk selalu sempurna dapat memandang kesalahan sebagai sesuatu yang berbahaya. Saat dewasa, sikap defensif yang muncul bukan semata-mata karena keras kepala, melainkan karena pola tersebut pernah menjadi cara paling aman untuk melindungi dirinya.

Meski demikian, pengalaman masa kecil tidak menentukan nasib seseorang. Perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh banyak faktor, dan setiap individu tetap memiliki kemampuan untuk belajar, bertumbuh, serta mengubah pola respons yang selama ini dimilikinya.

Dalam banyak konflik, perhatian kita sering tertuju pada satu pertanyaan: siapa yang salah? Psikologi justru mengajukan pertanyaan yang berbeda. Bukan sekadar mencari siapa yang patut disalahkan, melainkan berusaha memahami mengapa seseorang terus mengulang pola perilaku yang sama.

Mengapa ia berulang kali kehilangan teman? Mengapa setiap hubungan berakhir dengan cerita bahwa semua orang telah menyakitinya? Mengapa kritik selalu dianggap sebagai serangan, sementara kesalahan hampir selalu ditemukan pada orang lain?

Jika pola yang sama terus muncul dalam berbagai hubungan dengan orang yang berbeda, mungkin persoalannya bukan semata-mata karena dunia yang selalu salah. Mungkin ada pola batin yang belum pernah benar-benar disadari atau diselesaikan.

Namun, tulisan ini sebenarnya bukan tentang "orang seperti itu". Kalau boleh jujur, hampir setiap orang pernah berada di posisi tersebut. Kita pernah mencari pembenaran, lebih sibuk menjelaskan daripada mendengarkan, atau merasa kritik merupakan serangan terhadap diri sendiri, padahal orang lain mungkin hanya sedang menyampaikan sudut pandang yang berbeda.

Perbedaannya terletak pada apa yang kita lakukan setelahnya. Ada yang terus mempertahankan diri, tetapi ada pula yang mampu berhenti sejenak dan berkata, "Sebentar, mungkin ada yang perlu aku perbaiki."

Memahami asal-usul suatu perilaku tidak berarti menghapus tanggung jawab pribadi. Setiap orang tetap bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya, sekalipun pola tersebut terbentuk melalui pengalaman hidup yang panjang dan kompleks. Pengetahuan tentang proses psikologis hanya membantu kita memahami bahwa respons yang tampak tidak rasional sering kali merupakan cara lama untuk menghadapi rasa takut, rasa malu, atau penolakan.

Pemahaman semacam ini juga bukan bertujuan membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain. Sebaliknya, pemahaman membantu kita menetapkan batasan yang sehat tanpa terburu-buru memberi cap atau menghakimi. Kita dapat memahami alasan di balik suatu perilaku, tetapi tetap menilai bahwa perilaku tersebut perlu dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada mencari siapa yang salah. Apa yang sebenarnya sedang ia pertahankan? Dan, yang jauh lebih sulit dijawab, apa yang sebenarnya sedang aku pertahankan ketika begitu sulit mengakui bahwa aku bisa saja salah?**

 

*Penulis adalah alumni UIN Walisongo Semarang, jurusan Tasawuf dan Psikoterapi; tenaga pendidik SMP Al- Jihad Ketapang, Kalbar.

 

Editor : Rafael B. Junior
#pembenaran diri #psikologi #Kesalahan #hubungan