Oleh: Prof. Dr. Samsul Hidayat, M.A
Kota Qufu selama ini dikenal dunia sebagai tempat kelahiran filsuf besar Konfusius. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa kota yang menjadi pusat peradaban Konfusianisme tersebut juga menyimpan sejarah panjang hubungan harmonis antara komunitas Muslim dan keluarga keturunan Konfusius. Salah satu buktinya adalah keterlibatan keluarga Kong dalam mendukung pembangunan Masjid Qufu (曲阜清真寺/Qūfù Qīngzhēnsì) serta hubungan persahabatan yang telah terjalin selama berabad-abad.
Fakta sejarah tersebut saya saat mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program yang diselenggarakan oleh Confucius Research Institute (CRI) di Qufu, Provinsi Shandong, Tiongkok.
Melalui penelusuran dokumen sejarah yang dipamerkan di Pusat Informasi Budaya Islam Qufu serta wawancara dengan Imam Masjid Qufu, H. Irsa (Yuan Caidong), saya memperoleh gambaran mengenai hubungan yang telah lama terjalin antara komunitas Muslim dan keluarga Kong, keturunan langsung Konfusius.
Salah satu panel sejarah menjelaskan bahwa sejak masa Dinasti Ming hingga Dinasti Qing, keluarga Muslim Wang yang bermukim di Qufu menjalin hubungan erat dengan pemerintahan keluarga Kong yang menyandang gelar Yansheng Gong, pewaris resmi Konfusius. Hubungan tersebut tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga mencakup bidang pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan.
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa salah seorang tokoh Muslim, Wang Hongxu (1871–1954), dikenal sebagai dokter, kaligrafer, sekaligus cendekiawan yang memiliki hubungan baik dengan keluarga Kong. Ia bahkan pernah membantu pengobatan anggota keluarga Kong dan memperoleh penghargaan dari pemerintah Dinasti Qing atas jasa-jasanya.
Yang lebih menarik, dokumen sejarah juga mencatat bahwa pejabat keluarga Kong pernah memberikan dukungan terhadap pembangunan Masjid Qufu. Sejumlah sahabat serta masyarakat non-Muslim juga turut menyumbangkan dana untuk renovasi masjid. Fakta tersebut menunjukkan bahwa hubungan Islam dan Konfusianisme di Qufu tidak dibangun melalui persaingan, melainkan melalui kerja sama dan sikap saling menghormati.
Berdasarkan dokumen sejarah, pembangunan dan renovasi masjid tidak hanya didukung oleh komunitas Muslim, tetapi juga mendapat perhatian dari pihak keluarga Kong dan masyarakat sekitar.
Temuan tersebut diperkuat oleh penjelasan Imam Masjid Qufu, H. Irsa. Menurutnya, hingga kini hubungan antara komunitas Muslim dan masyarakat sekitar tetap berlangsung harmonis. Ia mengungkapkan bahwa ketika pembangunan kembali masjid dilakukan pada era modern, sejumlah warga non-Muslim juga ikut memberikan sumbangan sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan rumah ibadah tersebut.
"Kami hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar. Ketika pembangunan masjid dilakukan, ada warga non-Muslim yang ikut membantu dan memberikan donasi," ujar H. Irsa.
Fakta sejarah tersebut menjadi bukti bahwa dialog antara Islam dan Konfusianisme bukan sekadar wacana akademik, melainkan telah dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat Qufu selama berabad-abad.
"Selama ini banyak orang melihat hubungan Islam dan Konfusianisme hanya dari perspektif perbedaan agama. Padahal, dokumen sejarah di Qufu memperlihatkan banyak contoh kerja sama, saling percaya, dan penghormatan antarkomunitas yang telah berlangsung lama," ujarnya.
Selain menampilkan kisah hubungan keluarga Kong dengan komunitas Muslim, pusat dokumentasi sejarah Islam di Qufu juga menyimpan berbagai arsip mengenai perkembangan komunitas Hui, silsilah keluarga Muslim, peran para ulama, hingga kontribusi tokoh-tokoh Muslim dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik di Qufu.
Bagi saya, temuan tersebut memiliki arti penting bagi pengembangan kajian hubungan antaragama dan peradaban. Menurutnya, sejarah Islam di Qufu memperlihatkan bahwa identitas keagamaan tidak menghalangi lahirnya kolaborasi dalam membangun masyarakat.
"Qufu memberikan pelajaran bahwa harmoni tidak lahir karena menghilangkan perbedaan, melainkan karena adanya penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Di kota kelahiran Konfusius ini, Islam tumbuh berdampingan dengan tradisi Konfusianisme melalui hubungan sosial yang saling menguatkan," katanya.
Melalui Qilu Visiting and Research Residency Program, Saya terus mendokumentasikan berbagai jejak sejarah Islam di Qufu, mulai dari Masjid Qufu (Qūfù Qīngzhēnsì), kawasan permukiman Muslim Hui, pusat dokumentasi sejarah Islam, hingga wawancara dengan tokoh-tokoh agama dan akademisi setempat. Hasil penelusuran tersebut diharapkan dapat memperkaya khazanah penelitian mengenai hubungan Islam dan Konfusianisme, sekaligus memperkuat kerja sama akademik antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang studi agama, sejarah, dan peradaban. (**)
*) Penulis adalah Guru Besar Bidang Studi Agama-Agama sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.
Editor : Hanif