Ketika AI Menjadi Tempat Curhat Anak

Hanif • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 05:56 WIB
Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd
Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd

Oleh: Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd.

Kalimat itu keluar dari mulut anak remajanya begitu saja: "Bu, ChatGPT bilang aku tidak salah." Seolah kecerdasan buatan telah menjadi teman yang paling memahami sang anak. Sejenak, seorang ibu terdiam. Pertanyaan yang dahulu mungkin berakhir pada percakapan panjang di ruang keluarga kini lebih dulu dijawab oleh sebuah aplikasi. AI mendengarkan tanpa mengeluh, menjawab tanpa menghakimi, dan selalu tersedia kapan pun dibutuhkan.

Pemandangan seperti ini bukan lagi sekadar imajinasi. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, anak-anak dan remaja mulai memanfaatkan AI bukan hanya untuk mengerjakan tugas sekolah, mencari informasi, atau menerjemahkan bahasa, tetapi juga untuk meminta saran, meluapkan emosi, bahkan mencurahkan persoalan pribadi yang sulit mereka ungkapkan kepada orang tua. Fenomena ini menjadi penanda bahwa relasi manusia dengan teknologi sedang memasuki babak baru.

Namun, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah AI mampu menjadi tempat curhat. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah mengapa sebagian anak merasa lebih nyaman bercerita kepada AI daripada kepada orang tuanya.

Di sinilah persoalan parenting modern bermula. Kemajuan teknologi memang tidak dapat dihentikan. Kehadiran AI membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Anak dapat belajar kapan saja, memperoleh penjelasan yang mudah dipahami, hingga mengembangkan kreativitas melalui diskusi interaktif. Dalam banyak situasi, AI bahkan membantu memperluas akses terhadap informasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Akan tetapi, AI memiliki kelebihan yang diam-diam menjadi daya tarik emosional bagi anak. AI tidak memotong pembicaraan, tidak meninggikan suara, tidak mempermalukan, dan tidak menunjukkan ekspresi kecewa. Ketika seorang anak menulis, "Aku sedang sedih," AI akan merespons dalam hitungan detik. Ketika anak merasa gagal, AI tetap menjawab dengan tenang. Respons yang cepat dan konsisten inilah yang membuat sebagian anak merasa benar-benar didengar.

Ironisnya, banyak keluarga justru mengalami krisis komunikasi. Kesibukan pekerjaan, tekanan ekonomi, aktivitas sekolah, hingga dominasi gawai membuat waktu berkualitas bersama keluarga semakin berkurang. Rumah masih dipenuhi orang, tetapi percakapan semakin jarang terjadi. Meja makan berubah menjadi tempat setiap anggota keluarga menatap layar masing-masing. Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional.

Berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa hubungan yang hangat antara orang tua dan anak merupakan faktor pelindung penting terhadap stres, kecemasan, serta berbagai masalah kesehatan mental pada remaja. Sebaliknya, komunikasi yang renggang meningkatkan kecenderungan anak mencari dukungan emosional dari sumber lain, termasuk dunia digital. Dalam konteks inilah AI hadir mengisi ruang yang perlahan mulai kosong.

Tentu, kita tidak dapat menyalahkan AI. Teknologi tidak pernah memiliki niat untuk menggantikan peran orang tua. AI hanyalah alat yang bekerja sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Ketika anak merasa nyaman berbicara dengan AI, hal itu bukan semata-mata karena AI lebih hebat daripada orang tua, melainkan karena AI selalu tersedia ketika anak membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Yang perlu menjadi perhatian adalah keterbatasan AI itu sendiri. Secanggih apa pun algoritma yang dimiliki, AI tidak mampu merasakan kasih sayang, memahami seluruh konteks kehidupan seseorang, atau memikul tanggung jawab moral sebagaimana orang tua. AI dapat memberikan saran, tetapi tidak dapat memeluk anak yang sedang menangis. AI dapat menyusun kalimat yang menenangkan, tetapi tidak dapat menggenggam tangan anak yang sedang ketakutan. AI mampu mengenali pola bahasa, tetapi tidak dapat menggantikan ikatan batin yang tumbuh dalam hubungan keluarga.

Karena itu, tantangan terbesar parenting pada era AI bukanlah melarang anak menggunakan teknologi. Larangan yang bersifat mutlak justru sering kali tidak realistis. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi tidak menggantikan kedekatan emosional dalam keluarga.

Orang tua perlu membangun kembali ruang-ruang percakapan yang sederhana, tetapi bermakna. Luangkan waktu untuk mendengar tanpa langsung menghakimi, bertanya tanpa menginterogasi, serta mendampingi tanpa selalu menggurui. Anak tidak selalu membutuhkan jawaban yang paling benar. Sering kali, mereka hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar hadir.

Sekolah pun memiliki peran penting. Literasi digital saat ini tidak lagi cukup mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus membentuk kemampuan berpikir kritis, memahami batas kemampuan AI, menjaga privasi, serta membangun etika dalam memanfaatkan kecerdasan buatan. Anak perlu belajar bahwa AI dapat menjadi alat belajar yang luar biasa, tetapi bukan pengganti hubungan antarmanusia.

Pemerintah, pendidik, tenaga kesehatan, psikolog, dan komunitas juga perlu berkolaborasi membangun ekosistem yang mendukung kesehatan mental anak di era digital. Edukasi parenting berbasis bukti, kampanye komunikasi keluarga, serta penguatan literasi AI merupakan investasi penting agar kemajuan teknologi berjalan seiring dengan kematangan emosional generasi muda.

Pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa setiap lompatan teknologi selalu membawa peluang sekaligus tantangan. AI bukan musuh keluarga. Musuh sesungguhnya adalah ketika kita membiarkan kesibukan, layar, dan rutinitas mengikis percakapan yang selama ini menjadi fondasi hubungan orang tua dan anak.

AI mungkin mampu menjawab ribuan pertanyaan hanya dalam hitungan detik. Namun, ia tidak akan pernah mampu menggantikan pelukan yang menenangkan, tatapan penuh perhatian, atau kehangatan suara seorang ibu yang berkata, "Ceritakan semuanya. Ayah dan Ibu ada di sini untuk mendengarkan."

Di tengah dunia yang semakin cerdas oleh teknologi, barangkali ukuran keberhasilan parenting bukanlah seberapa mahir anak menggunakan AI, melainkan kepada siapa mereka memilih bercerita ketika hati sedang tidak baik-baik saja.

 

**Penulis adalah Dosen Program Studi PGSD, Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Editor : Hanif
kecerdasan buatan Orang tua ai curhat emosional