Oleh: H. Ma'ruf Zahran, S.Ag, M.Ag*
HARAPAN setiap orang beriman adalah meraih akhir kematian yang baik (husnul khatimah), bukan akhir kematian yang buruk (suul khatimah). Mengapa demikian? Sebab, penentu kebahagiaan dan kesengsaraan di akhirat kelak sangat ditentukan oleh satu menit terakhir, yakni enam puluh detik menjelang kematian. Ada kematian yang dijemput dengan kebaikan (husnul khatimah), dan ada pula kematian yang direnggut dalam keburukan (suul khatimah).
Hikmahnya adalah agar setiap insan menyadari bahwa di dalam ketaatan terdapat potensi maksiat, dan di dalam maksiat terdapat peluang menuju ketaatan. Oleh karena itu, setiap manusia harus melakukan introspeksi diri (muhasabah). Apakah akhir kehidupan, yaitu menjelang satu menit terakhir (enam puluh detik) ketika palu terakhir dijatuhkan, berada dalam ranah ketetapan husnul khatimah atau suul khatimah?
Artinya, menjadi takdir husnul khatimah atau suul khatimah memiliki dampak besar terhadap kehidupan setelah kematian, yakni perjalanan terpanjang dan terlama dalam kehidupan akhirat kelak. Maka, jangan berbangga diri bagi ahli taat yang sedang menjalankan ketaatan, dan jangan pula berputus asa dari kasih sayang Allah bagi ahli maksiat.
Sebab, setiap manusia sedang menjalani takdir: apakah berupa ketaatan yang diridai-Nya atau ketaatan yang dimurkai-Nya. Dalam sejarah, terdapat dua orang alim yang menjalani takdir ketaatan yang dimurkai, yaitu Bal'am bin Ba'ura Al-'Abid dan Barsisah Al-'Abid.
Tanpa pernah diketahui dan disadari, apakah seseorang sedang menjalani maksiat yang kelak mengantarkannya kepada pertobatan di tahun terakhir kehidupannya, atau masih menikmati dosa dan kemaksiatan hingga akhir usia. Sementara itu, kematian datang tanpa mempertimbangkan apakah seseorang berusia tua atau muda, berstatus kaya atau miskin, serta dalam kondisi sehat atau sakit.
Tanpa disadari, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah kematian sudah dekat atau masih jauh. Di balik balutan ujian berupa kenikmatan maupun musibah, tersimpan ajal kematian yang telah mengintai.
Lantas, apakah ujian berupa nikmat yang diberikan Allah SWT merupakan kemuliaan (karamah) atau justru di balik nikmat tersebut tersembunyi kemurkaan-Nya (istidraj)? Sebagaimana firman-Nya, kelak Tuhan akan menyiksa mereka dari arah yang tidak mereka ketahui. Itu adalah rencana Tuhan, dan sungguh rencana Tuhan sangat kokoh.
Musibah dan penderitaan juga mengandung rahasia takdir husnul khatimah atau suul khatimah. Bagaimanapun manusia berusaha menghindari kematian, kematian akan datang apabila telah tiba waktunya. Tidak Kami (Tuhan) percepat dan tidak pula Kami perlambat kematian seseorang apabila telah sampai ajal yang ditentukan baginya.
Bagaimanapun seseorang ingin mempercepat kematiannya, hal itu tidak akan terjadi kecuali berdasarkan ketetapan yang telah dijanjikan baginya. Begitu pula seseorang yang takut mati tidak akan mampu memperlambat datangnya kematian karena semuanya telah ditentukan sejak masa azali.
Oleh karena itu, jangan meminta agar kematian dipercepat maupun diperlambat, kecuali bagi mereka yang lemah keimanannya terhadap takdir. Berserah dirilah, berdoa, berusaha, berikhtiar, dan sempurnakan semuanya dengan bertawakal kepada Sang Penguasa Takdir.
Empat medan ujian jiwa tersebut dapat mengantarkan seseorang kepada husnul khatimah atau suul khatimah, bergantung pada cara manusia menyikapinya. Berjaga sejak sekarang merupakan pilihan yang bijaksana, sebagaimana pepatah mengatakan, "Sedia payung sebelum hujan."
Mewaspadai takdir ketaatan yang diridai-Nya akan menjadi jalan menuju upaya meraih husnul khatimah, lalu bersyukurlah. Sementara itu, menyadari adanya ketaatan yang dimurkai-Nya akan menjadi jalan untuk memperbaiki diri agar terhindar dari suul khatimah dan segera bertobat.
Indikator ketaatan yang diridai-Nya akan melahirkan perilaku rendah hati (tawadhu') kepada Allah dan Rasul-Nya. Efek rendah hati akan menghadirkan aura positif dalam kehidupan. Sebaliknya, ketaatan yang dimurkai akan melahirkan sikap tinggi hati dan sombong (takabbur) kepada Allah dan Rasul-Nya. Sikap tersebut akan menghadirkan dampak negatif dalam kehidupan.
Ujian berupa kemaksiatan, apabila diakhiri dengan pilihan bertobat, akan menemukan cahaya di akhir kehidupan berupa husnul khatimah. Tanda kematian husnul khatimah dari seorang pendosa dapat dilihat dari perjalanan hidupnya menjelang kematian, ketika grafik kebaikannya meningkat dan grafik keburukannya menurun.
Dalam hal ini berlaku logika kitab suci: "Sesungguhnya kebaikan menghapus keburukan. (Hud: 114)." Sebaliknya, ciri kematian suul khatimah dapat dilihat ketika dari tahun ke tahun hingga menjelang kematiannya, grafik keburukan semakin meningkat, sedangkan grafik kebaikan semakin menurun bahkan hilang.
Mereka yang dihindarkan dari dosa melalui pertobatan berarti telah diselamatkan Allah Swt. dari kematian suul khatimah. Buktinya, Allah mengganti keburukan dengan kebaikan, mengganti kedurhakaan dengan ketaatan, mengganti syirik dengan tauhid, mengganti azab dengan rahmat, mengganti suul khatimah dengan husnul khatimah, serta mengganti neraka dengan surga.
Sebaliknya, mereka yang membiarkan diri terus berbuat dosa, mengikuti ego, dan menikmati kemaksiatan hingga akhir usia menjadi indikator yang mengarah kepada kematian suul khatimah. Artinya, manusia tersebut telah mengubah nikmat menjadi azab, mengganti kebaikan dengan keburukan, menjual kenikmatan akhirat yang abadi dengan kenikmatan dunia yang sementara, serta menukar syukur dengan kufur.
Menimbang bahwa neraca kehidupan di dunia belum berakhir, melainkan masih berlangsung. Bagi orang yang merasa dirinya taat saat ini, jangan pernah mengutuk orang yang durhaka lalu memastikan ia akan selamanya durhaka. Jangan pula mencela orang yang ingkar lalu memastikan ia akan selamanya ingkar.
Menjadi pribadi yang taat merupakan kualitas baik, tetapi merasa diri paling taat merupakan kualitas yang buruk. Selama hayat masih dikandung badan, apabila diri berbuat dosa, jangan menyalahkan siapa pun. Segeralah menangisi diri dan menyadari mengapa hingga saat ini belum kembali kepada kasih sayang, maaf, ampunan, dan cinta-Nya.
Masih tersedia kesempatan dan kesehatan untuk kembali kepada-Nya dengan rahmat serta penerimaan tobat atas penyesalan terhadap dosa, kejahatan, dan kedurhakaan. Masih terbuka peluang untuk menjadi lebih baik, dimulai dari sekarang dan dari diri sendiri.
Cara Allah menarik hamba untuk mendekat kepada-Nya dapat melalui jalan kenikmatan maupun jalan kesengsaraan. Apabila melalui kenikmatan manusia belum sadar, Allah dapat mendatangkan ujian berupa penderitaan agar hamba menyadari kebesaran Tuhannya, lalu bersujud dan mendekat.
Selama Tuhan masih membentangkan bumi dan menjulang langit, jangan mencela orang yang hina. Sebab, suatu saat orang yang hina dapat berubah menjadi orang mulia di mata Allah dan Rasul-Nya, seperti perubahan Umar bin Khattab dari penentang agama menjadi pembela agama.
Sebaliknya, jangan terlalu memuji orang yang dianggap mulia karena seseorang yang mulia dalam pandangan manusia dapat berubah menjadi manusia yang terhina di mata Allah dan Rasul-Nya, seperti Umar bin Hisyam (Abu Jahal).
Jangan membenci ahli maksiat karena mudah bagi Allah mengubah ahli maksiat menjadi ahli taat, sebagaimana kisah Ibrahim bin Adham dan Fudhail bin Iyadh, dua orang yang sebelumnya dikenal sebagai penjahat kelas kakap, tetapi kemudian menjadi sufi besar pada zamannya.
Pelajaran berharga hari ini adalah jangan gegabah menjadi hakim terhadap isi hati orang lain. Hati yang dalam bahasa Arab disebut qalbu memiliki makna berbolak-balik, mudah berubah, dan tidak selalu stabil. Pada zaman ini, hati manusia semakin cepat berubah antara syukur dan kufur.
Mengingat manusia tidak pernah mengetahui kapan, di mana, dan dengan cara apa ia akan meninggal, apakah berakhir dengan husnul khatimah atau suul khatimah. Akhirnya, manusia diperintahkan untuk senantiasa menjaga kualitas iman, Islam, dan ihsan. Dianjurkan pula untuk beraktivitas dalam tiga lingkungan tersebut sebagai jalan kemuliaan.
Sebab, kematian sering kali sesuai dengan kebiasaan hidup yang dijalani seseorang. Orang yang hidup dalam lingkungan iman, Islam, dan ihsan akan mendapatkan keberuntungan. Ketika kematian tiba, ia berada dalam lingkungan tersebut sebagai salah satu cara meraih husnul khatimah.
Adapun cara kedua adalah senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah Swt. agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah serta dijauhkan dari suul khatimah.
Para pengamal, pelajar, dan umat dianjurkan untuk selalu membaca Ratibul Haddad yang berisi doa: "... ya Dzal Jalali wal Ikram, amitna 'ala dinil Islam (... wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, wafatkan kami dalam keadaan Islam).”
Bahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Yusuf memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Wallahu a'lam.**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Rafael B. Junior