Sudahkah Kokurikuler Menjadi Ruang Bertumbuh?

Hanif • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:04 WIB
Nuraiman, S. Pd., M. Pd.
Nuraiman, S. Pd., M. Pd.

Oleh: Nuraiman, S. Pd., M. Pd.*

AWAL tahun ajaran merupakan waktu yang tepat untuk menata kembali berbagai program sekolah. Memasuki tahun kedua implementasi Pembelajaran Mendalam, perhatian kita semestinya tidak lagi tertuju pada banyaknya program yang terlaksana, tetapi pada pengalaman belajar yang diperoleh murid. Salah satu program yang perlu dilihat kembali adalah pelaksanaan kokurikuler di sekolah. Sudahkah kokurikuler dirancang sebagai pembelajaran yang membantu murid tumbuh dalam karakter dan kompetensinya?

Kokurikuler bukan lagi hal yang baru. Sebagian besar sekolah sudah melaksanakannya dengan kegiatan yang beragam, mulai dari projek, pameran karya, kegiatan sosial, hingga berbagai aktivitas pengembangan diri. Persoalannya, kegiatan yang berjalan sesuai rencana belum tentu menghasilkan pembelajaran. Ketika perhatian lebih banyak tersita untuk jadwal, dokumentasi, laporan, dan kelengkapan administrasi, pengalaman belajar murid bisa saja terlewat. Setelah kegiatan selesai, perubahan apa yang benar-benar terlihat pada diri murid?

Di dalam kelas, murid memperoleh pengetahuan. Melalui kokurikuler, idealnya mereka mendapat kesempatan untuk menggunakannya dalam situasi nyata. Mereka belajar memimpin kelompok, menyelesaikan perbedaan pendapat, berbagi tugas, bertanggung jawab terhadap hasil kerja bersama, dan mengambil keputusan. Pengalaman seperti ini memberi ruang kepada murid untuk mengembangkan Dimensi Profil Lulusan melalui situasi yang mereka hadapi sendiri.

Agar pengalaman tersebut menjadi pembelajaran, kegiatan perlu dirancang dengan tujuan yang jelas. Murid perlu memahami apa yang akan dipelajari, mengaplikasikannya melalui berbagai pengalaman, kemudian merefleksikan apa yang sudah mereka lakukan. Mereka bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga memahami mengapa tugas itu dilakukan dan apa yang dapat dipetik dari pengalaman tersebut. Dari proses seperti ini, pengetahuan memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi kebiasaan.

Proses belajar berlangsung selama kegiatan, bukan setelah semuanya selesai. Guru tidak perlu menunggu pameran, pentas, atau laporan akhir untuk melihat hasilnya. Sejak kegiatan berjalan, perubahan pada diri murid sudah dapat diamati. Ada yang mulai berani menyampaikan pendapat, ada yang lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya, ada pula yang mulai mampu bekerja sama dengan teman. Guru juga dapat melihat bagaimana murid menghadapi perbedaan pendapat, menyelesaikan masalah, atau mencari jalan keluar ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Semua itu menjadi bukti yang berharga dalam asesmen formatif.

Asesmen formatif bukan sekadar catatan untuk melengkapi administrasi. Hasil pengamatan membantu guru mengetahui kebutuhan setiap murid. Ada murid yang perlu diberi lebih banyak kesempatan untuk berbicara. Ada yang perlu didampingi saat bekerja dalam kelompok. Ada pula yang sudah siap diberi tanggung jawab lebih besar. Dari sini, guru dapat memberikan pendampingan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan murid. Inilah salah satu bentuk diferensiasi yang dapat tumbuh dalam kokurikuler.

Ketika program selesai, berbagai bukti yang dikumpulkan selama proses pembelajaran digunakan dalam asesmen sumatif. Guru melihat kembali capaian murid secara utuh, kemudian menetapkan predikat dalam rapor. Predikat tersebut bukan hasil dari kesan sesaat atau penilaian terhadap satu kegiatan. Ada proses panjang yang menjadi pertimbangannya.

Perkembangan murid memang tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama. Ada yang cepat menunjukkan perubahan. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan, ada yang memerlukan pendampingan lebih banyak. Karena itu, predikat Baik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan kokurikuler. Guru tidak perlu berkecil hati ketika sudah mendampingi murid dengan sungguh-sungguh, tetapi masih ada yang belum mencapai predikat tersebut. Bagi murid dan orang tua, predikat yang belum mencapai Baik juga bukan tanda bahwa proses belajar tidak berhasil. Artinya, ada kompetensi yang masih perlu dilatih. Selama murid menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, proses tersebut patut dihargai.

Alur Perkembangan Kompetensi (APK) membantu guru membaca perubahan tersebut. Guru memiliki acuan untuk melihat perkembangan yang mulai tampak, yang sudah konsisten, dan yang masih perlu diperkuat. Informasi ini membantu guru menentukan langkah berikutnya dan memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan setiap murid. Hasil pengamatan tersebut kemudian dituangkan dalam rapor kokurikuler melalui predikat dan deskripsi yang positif. Capaian yang sudah terlihat tetap dihargai, sementara bagian yang masih perlu diperkuat disampaikan sebagai arah pengembangan.

Peran kepala sekolah juga penting agar proses tersebut berjalan dalam pelaksanaan kokurikuler. Kepala sekolah perlu memastikan guru memiliki ruang untuk membicarakan proses dan hasil pembelajaran, bukan hanya melaporkan kegiatan yang sudah terlaksana. Monitoring dan evaluasi dapat digunakan untuk melihat bagaimana pengalaman belajar dirancang, bukti perkembangan murid yang ditemukan guru, serta bagian yang masih perlu diperbaiki. Hasil pembahasan tersebut dapat menjadi bahan untuk memperbaiki kokurikuler pada kegiatan berikutnya.

Setiap murid memiliki kemampuan, pengalaman, dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, hasil yang mereka capai pun tidak selalu sama. Namun, kegiatan yang diberikan tetap perlu memberi ruang bagi murid untuk mencoba, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri.

Seperti halnya tanaman, tidak semua benih yang ditanam pada waktu yang sama akan tumbuh dengan tinggi yang sama. Namun, tanaman yang dirawat dengan baik akan menunjukkan pertumbuhan dari waktu ke waktu. Begitu pula pelaksanaan kokurikuler. Ukuran keberhasilan bukan tergantung pada predikat Baik, tetapi apakah pengalaman yang dijalani murid benar-benar membuat mereka belajar dan bertumbuh.**

 

*Penulis adalah pengawas SMP Disdikbud Kabupaten Sambas yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP Kalbar).

Editor : Hanif
Kokurikuler pembentukan karakter ruang belajar kompetensi