81 Tahun Merdeka, Kemana kita?

Hanif • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:48 WIB
Ilustrasi bendera.
Ilustrasi bendera.

Oleh: Fransiskus Tomi Mapa S. Fil*

MEMASUKI usia ke-81 tahun kemerdekaan, Indonesia patut bersyukur atas berbagai capaian pembangunan yang telah diraih. Jalan dibangun, jembatan berdiri, teknologi berkembang, perguruan tinggi bertambah, dan semakin banyak anak muda memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Namun, di tengah berbagai kemajuan tersebut, ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan: apakah pembangunan Indonesia selama ini sungguh-sungguh telah membangun manusianya? Sebab, negara yang besar tidak hanya membutuhkan banyak manusia terdidik, tetapi manusia yang memiliki kedalaman pengetahuan, kematangan berpikir, keterampilan, integritas, dan kemampuan mengabdikan ilmunya bagi kehidupan bersama.

Dalam konteks inilah ungkapan Latin non multa, sed multum menjadi relevan: bukan banyaknya, melainkan kedalamannya. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa kualitas tidak selalu lahir dari kuantitas. Dalam pembangunan sumber daya manusia, kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan berapa banyak anak muda yang telah menjadi sarjana, berapa banyak perguruan tinggi yang telah berdiri, atau berapa banyak gelar akademik yang telah diberikan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa dalam mereka memahami ilmu yang dipelajari, seberapa matang mereka mengolah pengetahuan, dan seberapa mampu mereka menerapkan ilmunya dalam kehidupan nyata?

Kita memang membutuhkan semakin banyak generasi muda yang memperoleh pendidikan tinggi. Pendidikan adalah salah satu jalan penting untuk meningkatkan kualitas manusia dan membuka kesempatan sosial. Namun, gelar akademik seharusnya bukan tujuan akhir pendidikan. Gelar hanyalah penanda bahwa seseorang telah melewati sebuah proses pembelajaran. Ia belum otomatis menjadi tanda bahwa seseorang memiliki kedalaman berpikir, kemampuan memecahkan masalah, etika, tanggung jawab, atau kematangan dalam menghadapi kehidupan. Jangan sampai pendidikan tinggi hanya menghasilkan manusia yang semakin banyak memiliki gelar, tetapi semakin sedikit memiliki kedalaman.

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika dunia kerja dan kehidupan sosial menghadapkan manusia pada persoalan-persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan teori. Seorang sarjana tidak cukup hanya mampu menjawab soal ujian atau menyelesaikan tugas akademik. Ia harus mampu membawa ilmunya ke tengah kenyataan. Seorang lulusan teknik harus mampu melihat persoalan masyarakat dan mencari solusi yang tepat. Seorang lulusan pendidikan harus memahami manusia yang dididiknya, bukan hanya memahami teori pedagogi. Seorang lulusan ekonomi harus mampu membaca persoalan ekonomi masyarakat, bukan sekadar menghafal teori pasar. Demikian pula seorang lulusan ilmu sosial, hukum, kesehatan, maupun bidang lainnya. Ilmu menemukan maknanya ketika ia menjadi praksis.

Karena itu, pembangunan SDM tidak boleh hanya mengejar angka partisipasi pendidikan dan jumlah lulusan. Kita membutuhkan pendidikan yang memberikan ruang lebih besar bagi pengalaman, penelitian, praktik, dialog, refleksi, dan pengabdian kepada masyarakat. Anak muda perlu dibentuk menjadi pribadi yang mampu berpikir dan bekerja, bukan hanya mengetahui. Mereka perlu belajar bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang disimpan dalam kepala, tetapi sesuatu yang harus dihidupi dan dipertanggungjawabkan. Pendidikan yang baik seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati terhadap pengetahuan, karena semakin dalam seseorang belajar, semakin ia menyadari betapa luasnya hal yang belum diketahui.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pendidikan. Selama ini, keberhasilan sering kali diukur melalui ijazah, indeks prestasi, gelar, jabatan, dan pekerjaan. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Kita perlu bertanya: apakah pendidikan telah membuat seseorang menjadi lebih jujur? Apakah ia menjadi pribadi yang empatik ditengah algoritmik? Apakah ia memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat? Apakah ia mampu menggunakan pengetahuannya untuk membantu orang lain? Apakah ia memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran sekaligus kerendahan hati untuk menerima kritik? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang seharusnya menjadi bagian dari evaluasi pembangunan manusia.

Menuju Indonesia Emas 2045, tantangan kita bukan sekadar bagaimana menghasilkan generasi yang kompetitif secara global, tetapi juga generasi yang memiliki karakter dan kemanusiaan. Indonesia membutuhkan manusia yang mampu bersaing, tetapi tidak kehilangan kepedulian; mampu berpikir kritis, tetapi tidak kehilangan etika; menguasai teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi; memiliki kebebasan berekspresi, tetapi tetap menghormati martabat orang lain. Dengan demikian, pembangunan SDM tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas, tetapi manusia yang berhikmat dalam menggunakan kecerdasannya.

Di sinilah pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia harus berjalan beriringan. Kita dapat membangun jalan yang menghubungkan berbagai daerah, tetapi manusia yang melaluinya harus memiliki kualitas. Kita dapat membangun gedung sekolah dan perguruan tinggi yang megah, tetapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi di dalamnya. Kita dapat menyediakan teknologi pendidikan yang canggih, tetapi teknologi itu tidak akan banyak berarti jika tidak digunakan untuk memperdalam pengetahuan dan membentuk karakter. Infrastruktur adalah sarana; manusia tetap menjadi tujuan pembangunan.

Maka, pada usia ke-81 tahun kemerdekaan, kita perlu melakukan refleksi yang lebih mendalam. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi mungkin masih kekurangan manusia yang sungguh-sungguh mendalam dalam kepintarannya. Kita tidak kekurangan orang berpendidikan, tetapi masih perlu memperjuangkan pendidikan yang membentuk kepribadian. Kita tidak kekurangan lulusan perguruan tinggi, tetapi perlu memastikan bahwa ilmu yang mereka peroleh benar-benar hidup dalam praktik dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Non multa, sed multum. Bukan sekadar memperbanyak jumlah, melainkan memperdalam kualitas. Inilah salah satu pekerjaan besar Indonesia menuju 2045. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan selama 81 tahun tidak boleh hanya menghasilkan masyarakat yang semakin tinggi pendidikannya, tetapi juga semakin matang kemanusiaannya. Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak gelar yang kita kumpulkan, melainkan oleh seberapa dalam ilmu yang kita miliki, seberapa nyata ilmu itu kita praktikkan, dan seberapa besar manfaatnya bagi sesama. Jika itulah manusia Indonesia yang hendak kita bangun, maka Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita, melainkan masa depan yang sedang kita kerjakan bersama.**

 

*Penulis adalah mahasiswa S2 STT Pastor Bonus Pontianak.

Editor : Hanif
pendidikan tinggi Indonesia Emas 2045 merdeka berkarakter