Oleh: Aswindirno, S.Pd., M.Pd.C.M.Tr.,C.PS.C.HL.,C.LS.
KEMAJUAN suatu negara tidak hanya diukur dari Gedung bertingkat atau pencakar langit, kemajuan teknologi, atau peningkatan ekonomi. Ada suatu kekuatan yang jauh lebih mendasar, yaitu karakter manusia. Kualitas manusia dibentuk oleh pengetahuan, pengalaman, kemampuan berpikir kritis, serta budaya belajar dan membaca. Oleh karena itu, jika kita ingin menciptakan komunitas yang cerdas, kompetitif, dan siap menghadapi perubahan zaman, maka inisiatif literasi perlu dimulai dari lokasi terdekat dengan kehidupan masyarakat: desa.
Desa lebih dari sekadar area administratif. Desa merupakan lokasi di mana keluarga berkembang, anak-anak mulai memahami dunia, masyarakat saling berinteraksi, dan nilai-nilai budaya diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Di desa ada kemungkinan besar untuk menciptakan ekosistem literasi yang dinamis dan berkelanjutan.
Sayangnya, perpustakaan desa di beberapa daerah masih dianggap sekadar lokasi penyimpanan buku. Sesungguhnya, perpustakaan bisa berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk masyarakat, lokasi kreatif untuk anak-anak, tempat pelatihan keterampilan, sumber informasi pertanian serta ekonomi, dan juga ruang untuk mendiskusikan ide-ide baru.
Desa sebagai Fondasi Gerakan Literasi
Literasi pada dasarnya tidak sekadar kemampuan menulis dan membaca. Literasi mencakup kemampuan untuk memahami informasi, mengolah pengetahuan, membuat keputusan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan karya.
Oleh karena itu, aktivitas literasi di desa perlu ada dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dapat dilibatkan dalam membaca melalui sudut baca dan aktivitas bercerita. Pemuda dapat dipandu dalam literasi digital dan inovasi. Perempuan dapat mendapatkan pelatihan mengenai literasi ekonomi dan kewirausahaan. Petani bisa menggunakan informasi digital untuk memperbaiki pemahaman mengenai pertanian. Sementara publik dapat mendapatkan akses ke informasi yang akurat dan berguna. Dengan kata lain, literasi tidak hanya sekadar membaca buku, melainkan juga menjadi keterampilan yang mendatangkan perubahan dalam hidup.
Keluarga adalah Sekolah Literasi Pertama
Gerakan literasi tidak akan sukses jika hanya diserahkan kepada perpustakaan atau pemerintah saja. Keluarga memainkan peranan yang sangat penting. Anak yang menyaksikan orang tuanya membaca akan lebih cepat terbiasa dengan kebiasaan membaca. Orang tua bisa meluangkan waktu 15–30 menit setiap hari untuk membaca bersama anak-anak. Tidak perlu selalu menggunakan buku yang mahal. Kisah rakyat, majalah anak-anak, sumber bacaan digital, atau tulisan sederhana mengenai lingkungan sekitar dapat berfungsi sebagai media pembelajaran. Budaya literasi sebenarnya berkembang dari kebiasaan ringan yang dilakukan dengan konsisten.
Kolaborasi Menjadi Kekuatan Utama
Membangun literasi di desa memerlukan kerja sama. Pemerintah desa, perpustakaan, sekolah, pengajar, PKK, karang taruna, lembaga masyarakat, komunitas baca, sektor bisnis, dan keluarga perlu berkolaborasi. Pemerintah daerah dapat memberikan bantuan kebijakan dan program.
Pemerintah desa dapat memberikan dukungan sesuai peraturan untuk pengembangan perpustakaan dan aktivitas literasi. Sekolah dapat bekerja sama dengan perpustakaan desa. Guru dapat menjadi pendorong aktivitas membaca dan menulis. Sementara komunitas bisa berperan sebagai penggerak utama dalam gerakan literasi. Kita memerlukan lebih banyak desa yang fokus pada literasi, bukan hanya desa yang mempunyai perpustakaan.
Literasi Digital: Jangan Biarkan Desa Menjadi Penonton
Di zaman digital, komunitas desa mengalami kesempatan sekaligus rintangan. Data sangat mudah didapatkan, tetapi tidak semua akurat. Hoaks, penipuan daring, konten buruk, dan informasi yang keliru bisa memasuki ruang keluarga tanpa batasan.
Oleh karena itu, literasi digital perlu menjadi komponen utama dalam gerakan literasi desa. Masyarakat harus dilengkapi kemampuan untuk mengevaluasi informasi, mengetahui sumber yang dapat dipercaya, menggunakan media sosial dengan cerdas, melindungi data pribadi, serta memanfaatkan teknologi untuk pendidikan dan peningkatan ekonomi.
Desa tidak seharusnya hanya berperan sebagai konsumen teknologi. Masyarakat desa perlu didorong agar menjadi pengguna teknologi yang inovatif dan efisien.
Dari Desa untuk Indonesia
Membangun budaya membaca di desa berarti membangun Indonesia dari dasar. Saat anak-anak desa senang membaca, saat pemuda desa bisa menguasai teknologi, saat masyarakat dapat memilah informasi, saat pengetahuan lokal didokumentasikan, dan saat perpustakaan menjadi pusat aktivitas masyarakat, sebenarnya kita tengah membangun pondasi sumber daya manusia Indonesia.
Gerakan membaca tidak perlu diawali dengan sesuatu yang besar. Ini bisa dimulai dari satu buku, satu anak, satu keluarga, satu area baca, satu perpustakaan, dan satu desa yang berkomitmen terhadap pembelajaran. Karena negara yang kuat dibentuk oleh komunitas yang senang belajar. Masyarakat yang suka belajar dapat kita kembangkan dari desa.
Saatnya kita mengubah perspektif: desa bukan lokasi terakhir yang menerima perubahan, melainkan yang pertama memunculkan perubahan. Mari ubah perpustakaan desa menjadi rumah ilmu, keluarga sebagai wahana literasi, sekolah sebagai pusat edukasi, dan masyarakat sebagai penggerak transformasi.**
*Penulis adalah Penulis Kabid Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Daerah Kab. Sambas.
Editor : Hanif