Oleh: Rissa Syafutri, S.Ars., M.Arch.
Ketika sebuah bangunan dirancang, keputusan mengenai pemilihan material biasanya ditentukan oleh beberapa pertimbangan utama: harga, kekuatan, daya tahan, ketersediaan, dan estetika. Namun, ada satu pertanyaan yang semakin penting tetapi masih sering berada di urutan terakhir: berapa besar jejak karbon yang dihasilkan material tersebut sepanjang siklus hidupnya?
Pertanyaan ini menjadi penting karena dampak lingkungan sebuah bangunan tidak hanya muncul ketika bangunan digunakan. Emisi telah dihasilkan jauh sebelum penghuni pertama memasuki bangunan, yaitu sejak bahan mentah diekstraksi, diproses, diproduksi, dan diangkut ke lokasi konstruksi. Emisi yang “melekat” pada proses tersebut dikenal sebagai embodied carbon.
Berbeda dengan energi operasional yang masih dapat dikurangi melalui perubahan sistem atau perilaku setelah bangunan digunakan, sebagian besar embodied carbon sudah “terkunci” ketika material dipilih dan dipasang. Karena itu, keputusan material pada tahap awal perancangan sebenarnya merupakan salah satu kesempatan paling awal untuk mengurangi dampak lingkungan sebuah bangunan.
Ketika Material Hanya Dipilih Berdasarkan Kebiasaan
Salah satu pendekatan untuk memahami dampak lingkungan material adalah Life Cycle Assessment (LCA), yaitu metode untuk menilai dampak suatu produk sepanjang siklus hidupnya, mulai dari bahan baku hingga akhir masa penggunaan. Dalam bangunan, LCA dapat membantu perancang membandingkan dampak lingkungan dari berbagai pilihan material.
Dalam sebuah studi yang pernah saya lakukan, empat material dinding, yaitu batako, bata ringan, pre-cast panel beton, dan batu bata. Material ini dibandingkan berdasarkan embodied carbon, yaitu emisi karbon yang dihasilkan dalam proses produksi hingga material menjadi bagian dari bangunan. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan. Untuk keseluruhan elemen dinding, batako menghasilkan sekitar 212,98 ton CO₂e, sedangkan batu bata mencapai 491,72 ton CO₂e, selisih lebih dari 130 persen.
Sederhananya, dinding dengan fungsi yang sama dapat memiliki jejak karbon yang sangat berbeda hanya karena materialnya berbeda. Selama ini, kita mungkin memilih material berdasarkan harga, kekuatan, ketersediaan, atau estetika. Namun, setiap pilihan juga membawa dampak lingkungan yang dimulai sejak bahan baku diambil, diproduksi, dan diangkut ke lokasi proyek. Menariknya, perbedaan terbesar dalam studi tersebut terjadi pada tahap produksi material. Artinya, peluang pengurangan emisi sebenarnya sudah tersedia sejak tahap desain dan pengadaan, jauh sebelum bangunan digunakan. Setelah material terpasang, keputusan tersebut tidak mudah diubah tanpa biaya dan sumber daya tambahan.
Karena itu, pemilihan material seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “mana yang paling murah atau paling kuat?”, tetapi juga “mana yang memberikan dampak lingkungan paling rendah?” LCA membantu menjawab pertanyaan tersebut dengan melihat perjalanan material secara lebih menyeluruh. Namun, jika informasi mengenai dampak lingkungan material sudah dapat dihitung, mengapa pendekatan LCA belum menjadi praktik umum dalam pemilihan material bangunan?
Masalahnya Bukan Sekadar Teknologi
Secara teknis, LCA semakin mudah dilakukan. Integrasi dengan Building Information Modelling (BIM) bahkan memungkinkan informasi material dari model bangunan digunakan untuk memperkirakan embodied carbon. Teknologi bukan lagi satu-satunya penghalang. Masalah yang lebih mendasar adalah prioritas dalam pengambilan keputusan.
Dalam studi yang sama, survei terhadap praktisi bidang arsitektur, teknik, dan konstruksi menunjukkan bahwa dari beberapa kriteria pemilihan material, embodied carbon menempati prioritas terendah dengan bobot 0,11, jauh di bawah ketahanan material yang mencapai 0,32. Artinya, informasi mengenai dampak karbon sudah dapat diperoleh, tetapi belum memiliki posisi yang cukup kuat untuk memengaruhi keputusan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan penerapan LCA bukan hanya bagaimana menghitung karbon, tetapi bagaimana membuat informasi tersebut dianggap sama pentingnya dengan biaya, kekuatan, dan daya tahan material.
Persoalan lain adalah keterbatasan data. Basis data embodied carbon yang tersedia dalam perangkat lunak internasional belum tentu merepresentasikan kondisi Indonesia. Perbedaan sumber energi, proses manufaktur, jarak transportasi, dan karakteristik produksi dapat memengaruhi hasil perhitungan. Material lokal yang sebenarnya berpotensi memiliki jejak karbon rendah juga berisiko tidak terlihat hanya karena belum tersedia datanya.
Dari “Green” Menjadi Terukur
Karena itu, gerakan bangunan hijau perlu bergerak dari sekadar penggunaan istilah “ramah lingkungan” menuju keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara terukur. Pertama, embodied carbon perlu diperkenalkan lebih kuat kepada para profesional sejak tahap pendidikan dan pengembangan kompetensi. Perancang perlu memahami bahwa pemilihan material bukan keputusan yang netral terhadap lingkungan.
Kedua, Indonesia membutuhkan basis data embodied carbon yang merepresentasikan material dan proses produksi lokal serta dapat diakses oleh berbagai pelaku industri. Tanpa data yang baik, keputusan berbasis LCA akan terus bergantung pada asumsi dari negara lain. Ketiga, aspek embodied carbon perlu memperoleh posisi yang lebih kuat dalam kebijakan dan sistem penilaian bangunan hijau. Selama dampak karbon material hanya menjadi informasi tambahan, ia akan mudah dikalahkan oleh pertimbangan biaya, estetika, atau kebiasaan.
Pada akhirnya, bangunan hijau bukan hanya tentang seberapa hemat energi sebuah bangunan ketika digunakan. Tapi juga perlu mempertanggungjawabkan jejak lingkungan yang telah ditinggalkannya sejak material pertama kali diproduksi. LCA menghadirkan cara untuk melihat jejak tersebut. Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar apakah kita mampu menghitungnya, tetapi apakah kita bersedia menggunakan hasil perhitungan itu untuk mengubah keputusan desain dan konstruksi.
Sebab, sebuah bangunan yang benar-benar hijau seharusnya tidak hanya terlihat hijau. Ia harus dapat menunjukkan alasan, data, dan keputusan yang membuatnya lebih berkelanjutan.
Editor : Hanif