Oleh: Lia Hizriani Rivaie, S.Pd., M.Pd*
KUALITAS udara yang buruk di kota Pontianak membuat Pembelajaran masih berlangsung secara daring. Kegiatan belajar daring atau yang disebut belajar online ini sebagai langkah untuk menghindari dampak buruk kabut asap bagi kesehatan terutama bagi anak-anak usia sekolah. Pembelajaran daring diharapkan menjadi solusi pendidikan darurat selama mengalami bencana kabut asap. Tentunya kita tidak mengharapkan anak-anak kehilangan haknya untuk belajar selama tidak berada di sekolah. Guru dapat menerapkan beberapa jenis pembelajaran daring untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid selama masa pembelajaran jarak jauh. Pertama dengan melakukan kegiatan belajar Sinkronus.
Selenggarakan pertemuan permbelajaran daring secara langsung dan interaktif. Guru mengundang murid melalui aplikasi video conference yang memungkinkan untuk saling melihat, mendengar, dan berinteraksi melalui jaringan internet serta perangkat masing-masing. Pada pelaksanaan video conference guru sebaiknya tetap membuat kesepakatan bersama murid, misalnya belajar serius walaupun tidak mewajibkan kamera menyala terus menerus, memberikan tugas yang realistis, tidak terlalu banyak memberikan pekerjaan rumah, memberikan batas waktu yang fleksibel, memperhatikan kondisi psikologis murid dengan pembelajaran yang tidak berlangsung seperti biasa, misalnya menentukan pertemuan dalam waktu 20-30 menit saja atau sesuai kesepakatan. Guru juga dapat menggunakan strategi pembelajaran secara Asinkronus.
Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan video pembelajaran, modul, lembar kerja, ruang LMS. Kegiatan ini lebih fleksibel dan mandiri bagi murid. Guru perlu mempertimbangkan penugasan kontekstual yang membuat kegiatan belajar dapat dilakukan di rumah dengan baik. Dalam penggunaan LMS, guru perlu memberikan instruksi yang jelas, materi yang singkat dan mudah dipahami, serta aktivitas yang bermakna agar murid dapat belajar secara mandiri sesuai waktu dan kondisi masing-masing.
Guru sebaiknya memberikan tugas yang sederhana, bahkan menyediakan beberapa pilihan bentuk pengumpulan tugas, materi dapat diakses secara digital maupun melalui modul dengan tetap memperhatikan akses teknologi serta kondisi keluarga murid. Dalam melakukan pembelajaran daring guru sebaiknya merencanakan pula adanya pendampingan individual. Ini akan sangat membantu murid yang mengalami kesulitan belajar. Sumber belajar juga dapat diaktifkan lewat buku paket sekolah atau buku pelajaran cetak sebagai bahan modul tugas bagi murid yang memiliki keterbatasan akses internet.
Guru dapat menentukan materi pembelajaran esensial karena pembelajaran jarak jauh tentunya tidak bisa disamakan dengan pembelajaran tatap muka normal. Ketika murid tidak melakukan pembelajaran atau tidak mengerjakan tugasnya sebaiknya jangan langsung menghakimi murid tidak disiplin. Saat inilah guru dapat berkolaborasi dengan orang tua sebagai pendamping belajar anak di rumah. Situasi dan kondisi murid di rumah akan sangat mempengaruhi pembelajaran murid. Bisa terdapat kendala perangkat, internet, kesehatan, atau kondisi keluarga yang terjadi dan semua harus dimaklumi dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Hal penting lainnya adalah tetap berikan umpan balik dan refleksi.
Guru yang memberikan umpan balik akan sangat membantu murid dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ini tidak berarti hanya memberikan nilai saja namun komentar yang akan membantu murid dalam merefleksi apa yang sudah dikerjakan. Murid yang diberikan kesempatan merefleksi pembelajarannya akan mendapatkan momen untuk melihat kembali proses dan pengalaman belajarnya, memahami apa yang sudah dikuasai, kesulitan yang dihadapi, serta menentukan hal yang perlu diperbaiki. Pembelajaran daring juga harus berpihak pada Murid. Semoga hujan yang penuh manfaat segera turun, kabut segera berlalu dan di sekolah guru dan murid kembali bertemu.** *Penulis adalah pengawas sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak.
Editor : Hanif