Oleh: Purwati,S.Pd.*
Pembelajaran daring selalu menjadi solusi alternatif ketika terjadi kendala, baik karena musibah alam maupun masalah teknis. Sebelumnya, pada 2020, para penggiat pendidikan telah melaksanakan pembelajaran secara daring kurang lebih selama satu tahun. Tahun ini, 2026, sejak Agustus lalu, sekolah, khususnya di Pontianak, memberlakukan pembelajaran daring karena dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum usai.
Lalu, pertanyaan berikutnya ialah, “Pembelajaran daring seperti apa yang efektif?” Apakah pembelajaran “yang penting anak tetap belajar”? Kalimat itu sering kita dengar setiap kali kabut asap datang. Selama ini, kita terlalu sibuk memindahkan kelas ke ruang digital, entah melalui Zoom atau grup kelas, lalu menganggap tugas selesai.
Padahal, fenomena mengajar daring di tengah kabut asap bukan sekadar memindahkan papan tulis ke layar. Ini adalah ujian kemanusiaan kita sebagai pendidik.
Di tengah AQI yang menembus 300–1.000, di tengah napas yang sesak dan mata yang perih, apakah kita masih pantas menuntut siswa mengerjakan 20 soal dan presentasi selama 20 menit? Di sinilah praktik baik menjadi penting. Bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai kewajiban moral. Setidaknya ada beberapa praktik baik yang dapat kita pertimbangkan dan implementasikan.
Pertama, kita mulai dengan pemikiran bahwa kesehatan di atas segalanya. Jadi, sebelum meminta dan menanyakan nilai siswa, kita perlu mempertanyakan dan memastikan siswa kita sehat dan baik keadaannya. Ini merupakan fondasi paling dasar.
Negara menjamin dua hak sekaligus, yakni hak atas pendidikan dan hak atas lingkungan yang sehat. Saat dua hal ini bertabrakan, mana yang harus didahulukan? Jawabannya jelas: kesehatan. Sekolah juga harus memiliki SOP berdasarkan AQI. Kalau sudah “Berbahaya”, jangan memaksa pembelajaran daring berjam-jam.
Liburkan terlebih dahulu atau ganti dengan tugas refleksi satu paragraf, misalnya dengan menanyakan, “Apa yang kamu rasakan hari ini?” Guru juga harus berani mengatakan, “Tidak apa-apa telat mengumpulkan tugas. Yang penting kamu sehat dulu.”
Karena anak dengan paru-paru yang rusak tidak akan bisa mengejar ketertinggalan akademik apa pun. Namun, anak yang sehat, meski ketinggalan satu bab, masih bisa dikejar.
Praktik baik selanjutnya ialah mengubah “kuantitas” menjadi “kualitas”. Masalah klasik dalam mengajar daring adalah takut ketinggalan materi sehingga waktu di depan layar (screen time) dipanjangkan. Hasilnya? Guru mengalami burnout (kelelahan fisik dan mental), siswa jenuh, dan orang tua pun ikut pusing.
Di tengah kabut asap, kita harus berani memotong atau mengurangi intensitas pembelajaran. Kurikulum darurat namanya. Praktik baik yang bisa dilakukan di antaranya mengurangi jam mengajar daring menjadi maksimal 90 menit per hari atau setara dengan dua mata pelajaran saja. Sisanya bisa divariasikan dengan video lima menit dan tugas mandiri.
Kemudian, kurangi tugas, tetapi tingkatkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dibandingkan harus mengerjakan 30 soal IPA, lebih baik membuat satu proyek sederhana, seperti “Rancanglah alat penyaring udara dari barang bekas di rumahmu”.
Tak lupa memberikan penilaian berbasis empati. Nilai usaha, nilai kejujuran, nilai kepedulian, bukan hanya jawaban benar. Kita perlu ingat kembali, tujuan pendidikan bukan mengejar soal dan halaman di buku, tetapi memastikan anak tetap berpikir, bertanya, dan tentunya memiliki harapan.
Praktik baik ketiga yang bisa dilakukan ialah guru hadir sebagai penjaga sehingga peran guru berubah, bukan sekadar penceramah, melainkan penjaga. Dalam kondisi normal, guru adalah transferor ilmu. Dalam kondisi kabut asap, guru harus menjadi penjaga. Menjaga kesehatan, menjaga semangat, menjaga kewarasan.
Guru mengawali pembelajaran dengan bertanya dan mengecek perasaan serta kesehatan siswa. “Hari ini bagaimana? Ada yang sesak? Ada yang cemas?” Gunakan bahasa yang manusiawi dan penuh empati. “Ibu tahu ini berat. Kita sama-sama berjuang, ya.”
Percayalah bahwa guru yang baik di masa asap seperti ini bukanlah yang paling banyak mengirim materi, melainkan yang paling sering mengatakan, “Ibu lihat kamu, Ibu peduli sama kamu.”
Keempat, sekaligus penutup, karena proses daring dilakukan di rumah, tentu harus melibatkan orang rumah seperti orang tua dan saudara sebagai mitra, bukan sebagai guru pengganti sehingga tidak merasa terbebani. Kesalahan besar selama pembelajaran daring adalah menimpakan semua tanggung jawab kepada orang tua. “Tolong dampingi anaknya, ya, Bu.” Padahal, orang tua juga sedang berjuang: bekerja, menjaga kesehatan keluarga, dan cemas dengan asap.
Jadi, sekolah ikut menjaga seluruh pihak. Yakinlah, cepat atau lambat, asap akan hilang, tetapi cara kita mengajar akan diingat dan dikenang.
Kabut asap pasti akan berlalu. Langit akan biru lagi. Namun, anak-anak kita akan ingat: “Guru saya waktu itu seperti apa?” Apakah guru yang memaksa saya tetap on-cam delapan jam saat saya batuk-batuk? Atau guru yang berkata, “Istirahat dulu, Nak, jaga kesehatan, ya?”
Praktik baik dalam fenomena mengajar daring saat asap adalah tentang memilih sisi kemanusiaan. Karena pada akhirnya, kita tidak sedang mendidik siswa untuk lulus ujian. Kita sedang mendidik mereka untuk bertahan hidup, berpikir kritis, dan peduli pada bumi yang mereka tinggali.
Percayalah, pelajaran itu tidak akan pernah bisa diajarkan lewat slide PowerPoint. Pelajaran itu diajarkan lewat contoh: bagaimana kita sebagai orang dewasa bersikap saat krisis datang. Jadi, mari selamatkan dulu napas mereka, maka masa depan yang bahagia akan datang.**
*Penulis adalah guru SDN 24 Kec. Pontianak Kota.
Editor : Hanif