PONTIANAK POST – Dunia otomotif global sedang berada di titik persimpangan yang krusial. Dalam sebuah tayangan bincang-bincang di kanal YouTube baru-baru ini, influencer sekaligus jurnalis otomotif kenamaan, Fitra Eri, membagikan pandangan mendalam mengenai peta persaingan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang kini didominasi oleh pabrikan asal Tiongkok.
Fitra mengaku sempat melakukan kesalahan prediksi beberapa tahun lalu. Ia awalnya meyakini bahwa aturan pelarangan mesin konvensional di tahun 2030 akan berjalan mulus. Namun, realita di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. "Ternyata saya salah prediksi terakhir kali saya ngomong ya bilang sampai 2030 enggak bakalan. Iya. Karena saya percaya bahwa aturan itu ada aturan bahwa 2030 produsen mobil tidak akan memproduksi mobil listrik lagi," ungkapnya dalam video tersebut.
Raksasa Eropa dan Jepang yang Mulai Gentar
Analisis Fitra menyoroti kegelisahan pabrikan legendaris dari Eropa dan Jepang yang sulit menandingi efisiensi biaya produksi Cina. Hal ini dibuktikan dengan langkah ekstrem dari brand sekelas Porsche yang rela menanggung kerugian besar demi mengubah arah strategi mereka. "Bahkan Porsche rela rugi 851 juta US dolar, sekitar 10 triliun ya itu ya, untuk kembali lagi ke internal combustion," jelas Fitra.
Menurutnya, jika aturan transisi penuh ke mobil listrik tetap dipaksakan pada 2030, maka pasar hanya akan diisi oleh merek-merek Cina. Hal ini karena pabrikan lain belum mampu menciptakan kualitas yang sama dengan harga yang kompetitif. Keunggulan Cina sendiri didorong oleh beberapa faktor kunci:
-
Skala Ekonomi: Volume produksi yang masif menurunkan harga per unit.
-
Dukungan Pemerintah: Insentif pajak dan bantuan riset yang tidak terbatas dari negara.
-
Inovasi dan SDM: Keberanian merekrut otak-otak cerdas di balik desain brand ternama dunia untuk pindah ke pabrikan Tiongkok.
Integritas Reviewer: "Ruang Iklan Bisa Dibeli, Tapi Kejujuran Tidak"
Di luar urusan teknis otomotif, Fitra Eri juga menekankan pentingnya kejujuran bagi seorang kreator konten. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak bisa "dibeli" untuk mengubah ulasan buruk menjadi bagus hanya karena urusan endorse.
"Endorse itu hanya untuk membeli waktu di konten saya, tapi bukan untuk bilang yang jelek jadi bagus. Tidak boleh space di sosial media saya itu membohongi publik," tegas Fitra Eri. Ia pun menceritakan pengalamannya menolak tawaran iklan bernilai berkali-kali lipat dari produk yang tidak terbukti memberikan manfaat teknis saat diuji coba selama dua minggu.
Tips Memilih Mobil Pertama: Utamakan Kebutuhan di Atas Gengsi
Menutup diskusi tersebut, Fitra memberikan tips bagi masyarakat yang ingin membeli kendaraan pertama mereka. Ia menyarankan agar rasio lebih dikedepankan daripada emosi atau keinginan semata.
-
Pilih Berdasarkan Kebutuhan (Needs): Mobil pertama harus menunjang kelancaran mencari rezeki dan tidak membebani biaya perawatan.
-
Hati-hati dengan Kredit: Fitra merasa kurang sreg jika orang memaksakan diri membeli mobil mewah melalui jalur kredit hanya demi gaya hidup. "Saya hanya bisa menerima di akal pikiran saya kredit itu untuk mobil pertama atau kedua yang memang dibutuhkan untuk keluarga," pungkasnya.
Hingga saat ini, Fitra Eri masih aktif memberikan edukasi otomotif bagi masyarakat Indonesia, sembari terus memantau perkembangan regulasi pemerintah agar industri otomotif nasional tetap kompetitif dan adil bagi semua pabrikan. (rbj)
Editor : Rafael B. Junior