Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Beruang Madu "Teror" Peternakan Madu, Kampung Trans Sidomulyo "Mencekam"

Yulfi Asmadi • Senin, 28 November 2022 | 18:38 WIB
Penampakan terduga beruang madu yunior yang tampak lahap mengobrak abrik peternakan madu kelulut warga transmigrasi era tahun 1955 ini.
Penampakan terduga beruang madu yunior yang tampak lahap mengobrak abrik peternakan madu kelulut warga transmigrasi era tahun 1955 ini.
KUBU RAYA - Penampakan terduga beruang madu junior di areal peternakan madu kelulut, sekaligus tempat tinggal warga transmigrasi era tahun 1955, membuat aktivitas masyarakat mencekam. Ketenangan warga di sana beberapa waktu belakangan, kerap terganggu dengan aktivitas satwa liar ini mencari makan. Harus dilakukan penangkapan terhadap satwa yang dilindungi ini agar dapat dikembalikan ke habitatnya.

"Beruang sudah "meneror" dan membuat rugi peternakan madu kelulut warga di sana, mas deny," begitu kira-kira isi whatsapp Tukirin Suryo Adinogoro, SE tokoh masyarakat Dusun Sidomulya kepada wartawan grup Pontianak Post, Minggu hampir tengah malam kemarin.

Menurutnya warga dengan senter penerangan jarak jauh, menemukan satwa diduga beruang junior tengah berada di Sungai Durian Objek, Dusun Sidomulyo. Beruang madu tersebut tampak sedang "mengobrak abrik" areal peternakan madu kelulut warga setempat. Dengan lahapnya madu kelulut dimakan hingga ditumpahkan ke tanah.

Sebagaimana diketahui bahwa madu kelulut seperti memelihara lebah madu tanpa sengat. Sangat aman dan tidak harus takut disengat. Pun tanpa digembalakan dengan waktu panen sekitar 4 sampai 6 bulan. Perkembangan koloni lebah tanpa sengat dapat dibantu dengan cara menanam sumber pakan dan resin sebagai sumber daya mereka.

Makanan madu kelulut adalah nektar dan polen yang dihasilkan tanaman. Nektar adalah cairan manis yang terdapat di dalam bunga tanaman. Hampir semua tanaman berbunga adalah penghasil nektar. Budidaya sumber pakan lebah kelulut bisa di pohon karet, bunga matahari, pohon pisang, pohon durian, air mata oengantin, pohon mangga, dan masih banyak lagi.

Namun yang terpenting adalah ternyata manfaat madu kelulut sangat luar biasa. Kandungan antioksidan dan manfaat vitamin c pada madu kelulut ternyata bisa dikonsumsi untuk mengatasi flu dan demam. Demam sendiri adalah reaksi tubuh mengalahkan virus seperti virus flu dan antioksidan dan vitamin c berfungsi sebagai pengoptimal sistem imun untuk menangkal virus tersebut.

Madu kelulut sebenarnya hewan endemik yang hidup berkoloni. Biasanya terdapat di Asia Selatan dan Timur dan sebagian Afrika. Hanya lebah barat yang ditemukan di hampir setiap ekosistem di seluruh dunia, kecuali pada iklim paling ekstrem.

Suprapto, tokoh masyarakat setempat menambahkan bahwa gangguan beruang madu dan kera ekor panjang atau koloni macaca fascicularis cukup menganggu kehidupan masyarakat. Seperti ternak madu kelulut, tak sedikit modal peternak dihabiskan untuk membeli peralatan dan perlengkapan. Totalnya bisa jutaan hingga puluhan jutaan. Oleh karena itu, harus ada upaya perlindungan pemerintah agar binatang tersebut tidak menganggu kehidupan masyarakat.

Tukirin melanjutkan dampak satwa liar yang meneror warga lebih diakibatkan kepada habitat, atau hutan tempat tinggalnya habis dibabat manusia. Penebangan hutan dan beralih fungsi menjadi lahan perkebunan sawit, menjadi penyebab utama berbagai hewan liar masuk ke kawasan permukiman warga.

Dia melanjutkan bahwa beberapa hari sebelumnya, setelah heboh pemberitaan teror beruang madu dan kera ekor panjang masuk pemukiman warga, tim kehutanan pemerintah sudah masuk ke perkampungan masyarakat. Keberadaan tim pemerintah ini adalah tampak memasang perangkap beruang di patok 40 objek Sidomulyo.

Sumarno, pengurus desa sekaligus petani setempat mengatakan bahwa aktivitas kera ekor panjang, yang ekosistemnya mulai terganggu merambah lahan tani, kebun, dan pemukiman warga di sana. Itu juga diikuti kemunculan beruang besar dan banyak disaksikan warga setempat.

"Memang kera-kera ekor panjang sudah banyak memasuki lahan tani, kebun bahkan pemukiman warga. Umumnya binatang-binatang tersebut masuk karena ingin mencari makan. Kemungkinan habitat, tempat kehidupannya sudah mulai terganggu," katanya, kemarin.

Dia bercerita sudah banyak kesaksian warga yang mayoritas petani melihat kera ekor panjang berkerumun masuk ke pemukiman warga juga. Saksi-saksi mata ini, juga melihat bagaimana mereka memetik hasil kebun petani untuk sekedar makan. "Mungkin karena lapar tadi, kera-kera ekor panjang mencari makan," ucapnya.

Marno sapaan karibnya tidak tahu, kera tersebut jenisnya apa. Kemunginan asalnya area lahan tidak tergarap atau hutan sebelah. "Sudah banyak yang lihat. Diperkirakan jumlahnya ratusan ekor," katanya.

Terpisah, Prof, Dr, Ir, Gusti Hardiansyah M.Sc, QAM IPU, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat menyampaikan keseimbangan alam perlu dijaga supaya satwa-satwa liar yang sudah memiliki habitat sendiri tidak menganggu aktivitas masyarakat petani di sana. Kehadiran BKSDA, KPH atau Dishut setempat sudah tepat. Keberadaan tim pemerintah ini adalah untuk mengamankan supaya tidak menganggu kehidupan masyarakat. Kehidupan satwa-satwa liar di sana harus dicarikan solusi.

Makanya sedari awal ungkapan bijak soal alam yakni. "Kita jaga alam. Alam jaga kita. Cerita monyet, beruang, satwa, fauna lain yang kita frasakan meneror atau mengganggu masyarakat, sebenarnya indikator atau tanda bahwa kita sebagai manusia "gagal"," ucapnya beberapa waktu lalu.

Gagal, katanya, karena menjaga keseimbangan alam di tempat tinggal sendiri tidak mampu. Akhirnya warga setempat yang sudah lekat dengan alam dan pertanian menjadi korbannya.
Sudah seharusnya pemerintah membantu mengatasi kemunculan satwa liar ini, supaya tidak muncul hal-hal tidak diinginkan ke depannya.

"Nah perlu dilakukan langkah-langkah bijaksana supaya habitat alam satwa liar tidak terganggu. Manusia wajib dan turut melindungi keberadaan flora atau fauna di sana. Karena itulah kekayaan alam Kalbar dan Indonesia," pungkasnya. (den) Editor : Yulfi Asmadi
#Peternakan Madu #Kampung Trans Sidomulyo #beruang madu #teror