Pesan bermakna tersebut disampaikan oleh Eko Syahputra Siregar, Bacaleg muda DPR RI dari dapil Kalbar belum lama ini.
"Dalam beberapa dekade, perubahan sosial dan ekonomi telah mendorong migrasi massal penduduk dari desa ke kota-kota besar. Fenomena ini membawa banyak manfaat, namun juga menyebabkan dampak negatif seperti kehilangan identitas lokal, pemisahan keluarga, dan penurunan ekonomi di daerah pedesaan," katanya pemuda berkacamata ini dalam perspektifnya memandang kehidupan alami di perkampuangan.
Menurut dia desa merupakan tempat di mana akar budaya, tradisi, dan sejarah berkembang. Generasi milenial, yang sering kali mencari arti dan tujuan hidup mendalam, dapat menemukan inspirasi dan pemahaman lebih baik tentang jati dirinya dengan kembali ke desa. "Banyak alasan mengapa generasi milenial harus mempertimbangkan kembali ke desa," ucap dia.
Misalnya, lanjut Eko, desa adalah tempat memelihara kehidupan alami. Sebab desa merupakan tempat, yang masih terjaga keindahan alam dan lingkungan asrinya. Dengan kembali ke desa, generasi milenial dapat terhubung kembali ke alam, menghirup udara segar, dan menikmati pemandangan menenangkan. "Ini dapat memberikan kesempatan menghargai dan melindungi keanekaragaman hayati juga berkontribusi kepada keberlanjutan lingkungan," ucapnya.
Pertimbangan lainnya adalah peluang bisnis dan kewirausahaan di desa masih terbuka lebar. Sebab desa menyimpan potensi besar pengembangan ekonomi lokal. Generasi milenial yang memiliki semangat kewirausahaan dapat mengembangkan usaha-usahanya di desa, baik melalui pengolahan produk pertanian, pariwisata, atau pemanfaatan teknologi. Tujuannyah jelas saja untuk meningkatkan efisiensi dari sektor pertanian. "Desa bukan hanya memberikan peluang menciptakan lapangan kerja lokal, tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat dan mengurangi kesenjangan ekonomi antara perkotaan dan pedesaan," jelas Eko.
Di sisi lain, generasi milenial dapat menghargai nilai-nilai tradisional. Sebab desa ,emnjadi tempat, di mana nilai-nilai tradisional dan budaya berakar kuat. Generasi milenial yang kembali ke desa dapat belajar dari orang tua, kakek nenek atau buyut-buyut mereka. Di desa adat menghargai sebagai istiadat lokal dan kuatnya ikatan keluarga terus dibangun. Ini juga bisa memberikan kesempatan buat memperkaya identitas budaya dan mencegah kepunahan warisan budaya yang berharga.
Desa sebagai perkampungan, kata Eko, memiliki hidup lebih sederhana dan bermakna. Kecepatan hidup perkotaan sering kali memaksa generasi milenial supaya hidup dalam siklus kerja yang panjang, stres, dan terjebak dalam konsumerisme. "Nah dengan kembali ke desa dapat memberikan kesempatan hidup lebih sederhana, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, dan mengejar kehidupan lebih bermakna," pungkasnya. "Desa juga dapat menciptakan ruang refleksi, pertumbuhan pribadi, dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional," timpal dia.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa generasi milenial memiliki peran penting dalam membangun masa depan, baik di perkotaan maupun di desa. Dengan kembali ke akar desa, mereka dapat memberikan kontribusi berarti bagi desa-desa dan sekaligus memperkaya kehidupan disa. "Desa memanggil, apakah generasi milenial siap menjawab? "tutupnya dengan nada mengajak. (den) Editor : Misbahul Munir S